“Ternyata sudah jam 00.00,” bisik Alena.Alena meraih HPnya, rupanya sudah tengah malam. Listrik padam lagi, hanya lampu emergency di Rajut Asri yang masih menyala redup. Alena mendengar jika hujan turun lagi, suaranya menetes dari talang seng ke tanah yang becek.Di dalam ruko, Alena tidak tidur membuat area matanya menghitam. Ia duduk di kursi kasir, sembari memeluk William yang masih di pangkuannya. Alena belum membawa William ke kamar, hanya selimut tipis yang menutupi mereka berdua. Di luar, sekitar 3 meter di depan pagar, mobil hitam Kieran terparkir di sana. Mesin mobil yang dimatikan. Di dalamnya ada Kieran yang sedang duduk dengan jaket yang basah, matanya tidak lepas sedetikpun dari pintu ruko.Bahkan tangan kanan Kieran masih terasa hangat, bekas pelukan William 3 jam yang lalu tak bisa ia lupakan. Tiba-tiba HP Kieran bergetar dari sebuah nomor terenkripsi, yaitu Jaxon. "Tuan," suara Jaxon pelan. "Kita punya masalah lebih besar dari Viktor!”"Apa?" tanya Kieran. "Vik
Read more