ログインKieran langsung berjongkok. “Bagaimana di sekolah tadi?”“Seru!” jawab William kemudian menunjukkan sebuah gambar yang ia bawa. “Ini gambar keluarga kita Pa,”Kieran melihat kertas itu dengan senyuman, ada tiga orang yang berada di dalam foto. Yaitu dirinya, Alena juga William. Gambar tersebut memperlihatkan jika ketiganya sedang berpegangan tangan, di atasnya terdapat sebuah matahari yang besar.Kieran tersenyum dan langsung mengelus kepala William dengan lembut. “Bagus!” “Papa suka?” tanya William“Papa sangat suka, Sayangg! ucap Kieran. William memeluknya dengan erat, tanpa diketahui William, mata Kieran sempat memerah.Kieran memandangi gambar itu sekali lagi, kemudian melipatnya dengan sangat hati-hati.“Papa simpan ya! William mengangguk. Malamnya, Alena sedang menyisir rambut William sebelum tidur.Lalu Kieran berdiri di ambang pintu. “Al,”Alena menoleh. “Ya?”“Mereka tidak akan datang lagi untuk sementara!” ucap Kieran. Alena menatapnya dengan penuh harap. “Kamu yakin,
“Ikuti mobil putih itu! Jangan menyentuh siapa pun sebelum aku memberi perintah,” pesan yang Kieran kirim. Tidak sampai satu menit, balasan sudah masuk. “Siap, Tuan!”Kieran kembali memasukkan ponselnya ke saku. Dulu, ia akan langsung menghabisi orang-orang yang mencurigakan tapi sekarang sudah berbeda.Karena ia sudah memiliki Alena juga William, Ia tidak boleh bertindak sembarangan lagi. Tetapi itu bukan berarti menjadikannya lemah.Justru sebaliknya, karena Kieran belajar bahwa melindungi keluarga terkadang juga membutuhkan kepala yang dingin.___Di dalam mobil berwarna putih, dua orang pria sedang berbicara. “Anaknya sudah masuk sekolah!”“Bagaimana dengan Kieran?” tanya Viktor. “Masih di gerbang!” ucap pria itu. “Bagus!” Viktor yang duduk di kursi belakang pun tersenyum. “Berarti kita bisa mulai!”Kemudian Viktor mengeluarkan sebuah map, di dalamnya terdapat dokumen mengenai desa. Tanah, rumah warga dan sebuah nama yaitu Alena.“Bos ingin perempuan itu?” tanya anak buahnya.
“A– aaku... tidak tahu,” kata mereka. Kieran kembali mencengkeram tangannya lebih kuat lagi. “Kamu hanya punya waktu tiga detik!”Pria itu mulai panik. “B– bbos kami hanya … meminta tanah ini!”“Namanya!” tanya Kieran. “V– vviktor,” ucap pria itu. Kieran membeku, nama itu membuat ekspresinya berubah.‘Viktor,’ gumam Kieran. Nama yang seharusnya sudah lama terkubur, seseorang dari masa lalu dunia gelapnya. Seseorang yang tidak pernah datang tanpa membawa kematian.Kieran melepaskan pria itu, kemudian ia berdiri. “Pulang!”Pria itu bingung. “Apa?”“Katakan kepada Viktor…,” Kieran mendekat. “...kalau dia ingin mengambil sesuatu dariku, datang sendiri!”Pria itu menelan ludah. “Tapi…,”“Dan jangan pernah mendekati rumahku!” ucap Kieran tatapannya semakin gelap. “Karena kalau kamu menyentuh Alena atau William sekali saja, aku tidak akan memberimu kesempatan kedua!”Malam itu, Alena duduk di ruang tengah dan William sudah tertidur. Namun Alena belum bisa memejamkan matanya. Kieran baru
William mengangguk senang, kemudian ia kembali berlari menuju arah ombak. Sedangkan Alena masih bersandar di bahu Kieran.Angin laut menerpa rambutnya, membawa aroma asin yang sudah lama tidak ia rasakan.Untuk beberapa saat kemudian, mereka hanya diam menikmati suasana. Tidak ada pembicaraan mengenai masa lalu, tidak ada pengadilan, tidak ada sebuah ancaman lagi, dan tidak ada mafia. Hanya mereka bertiga.Keluarga kecil yang akhirnya mendapatkan kesempatan untuk hidup seperti orang biasa. Namun, kebahagiaan itu rupanya tidak berlangsung lama.Menjelang sore, mereka kembali ke desa. William sedang tertidur di kursi belakang mobil, karena terlalu lelah bermain di pantai kepalanya bersandar pada bahu Alena.Kieran mengemudi dengan kecepatan rendah dan ketika mobil memasuki jalan desa, Kieran mulai menyadari sesuatu.Jalanan yang ia lewati terlalu sepi, biasanya beberapa warga akan duduk di depan rumah dan melihat anak-anak bermain, atau para lelaki yang sedang berkumpul di warung.Namu
William berada di tengah. "Papa, besok aku sekolah ya?" "Iya, Nak! Pakai seragam baru ya yang Mama jahit,” ucap Kieran. "Nama ku baru ya Pa, William Voss,” celetuk William. "Betul sayang,” ucap Kieran. Kieran bernyanyi pelan, menyanyikan lagu yang sama seperti di gudang dulu. “Nina bobo…," Kali ini tidak ada lagi atap yang bocor, tidak ada lakban. Hanya kipas angin dan suara jangkrik yang menemani. Hari kesepuluh dari 14 Hari sudah tersisa 4 hari, William sedang menggandeng tangan Papa dan Mama. Memakai seragam baru, tas baru dan juga sepatu baru. Di papan namanya kini sudah berubah menjadi nama WILLIAM VOSS. William sangat senang sekali karena keluarganya sudah utuh kembali, kini ia bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari kedua orangtuanya. "Selamat datang kembali, William! teman-teman ucapkan salam ya,” ucap Bu Guru. "Halo William!” teriak 30 anak secara serempak.William tersenyum dan sangat gembira. Kieran dan Alena berdiri di pagar, mereka melihatnya dari kejauha
Kemudian Wilhelm berdiri dan berjalan ke arah Kieran, ia berhenti di jarak 1 meter untuk menjaga jarak hukum. "Kamu menang," kata Wilhelm. "Jaga dia baik-baik! Kalau kamu sakiti dia... Walaupun aku dari kubur pun akan datang!”Kieran mengangguk. "Saya janji,"Wilhelm mengelus kepala William dengan lembut sekali. "Pintar ya, Nak!" William memandangnya dengan rasa takut. Lalu Wilhelm pergi diantar dengan 2 orang sipir, untuk kembali ke rutan.Jam 17.00. Di ruko Rajut Asri, tidak ada pesta lagi seperti sebelumnya yang ada hanya lampu teplok. Nasi hangat dan mereka bertiga, keluarga baru yang sangat bahagia. William tidur dengan memeluk akta barunya. Alena bersandar di bahu Kieran. "Selesai, Kieran?" Kieran mengusap rambut Alena dengan pelan. "Belum! Masih ada kasasi, tapi... kita menang hari ini!”Di TV, sebuah berita kembali muncul di layar bahwa. “Wilhelm kalah banding, saham Voss Group kembali stabil!” Komentar terakhir di bawah berita, dari akun @WVoss72 menunjukkan. "Aku kal
“Ayo, aku antar ke kamarmu!” kata Jaxon. Alena hanya menunduk pelan, berjalan tertatih mengikuti arah Jaxon. Sebelum itu Jaxon memotong kabel yang mengikat tangan Alena terlebih dahulu, terlihat tangannya sudah terluka parah akibat ikatan yang terlalu kencang. Jaxon lalu memberinya handuk dengan
Kriet! Tubuh Alena berjengit kaget, saat pintu mobil terbuka. Ia masih berdiam diri di mobil, takut kalau-kalau melakukan kesalahan. Alena tertegun melihat bangunan Penthouse mewah yang berada di ketinggian 300 meter dari permukaan laut, dengan pemandangan indah kota Novara City. “Sepertinya
“A—apa? Bekerja? Bekerja apa?” Alena bertanya-tanya. Kieran menatap datar ke arah Alena, kesal karena masih harus menjelaskan. Ia kemudian mengedikkan kepala ke arah Jaxon dan memberi perintah, “Jax, jelaskan!” Jaxon menyalakan laptop dan membuka map hitam itu di depan Alena, memintanya untuk mem
“Ugh! Sialan!”Alena mendengus kesal setelah sudah berada di kamarnya sendirian. Rencana melarikan dirinya gagal. Tidak di rumah, tidak juga di penthouse mafia ini, ia tidak pernah berhasil lepas dari cengkraman mereka.Tak merasa mengantuk, Alena memutuskan untuk membuka map hitam yang dilempar K







