"Aku tidak jijik," kata Kieran. "Aku marah pada mereka bukan padamu, karena kamu korbannya, Alena, sama seperti aku korban dari serakahnya Volkov!”Alena mengangguk bahunya turun. "Kita laporin ini juga?" tanya Kieran. Alena berpikir lama. "Belum, simpan dulu sebagai pegangan kalau mereka berani ganggu kita lagi,”Kieran mengangguk. "Deal!”Jam 1.10 pagi, mereka masih di ruang kerja. Kieran menyeduh coklat panas baru, dua cangkir. Alena menerima, tapi tangannya masih terasa dingin. "Kieran," kata Alena. "Hm?" Kieran melihatnya. "Terima kasih karena sudah membeliku,”Kieran tersedak coklat. "Itu... kalimat paling aneh yang pernah aku dengar!”Alena tersenyum kecil karena untuk pertama kalinya malam ini. "Maksudku, terima kasih karena memilihku, di antara semua pilihan buruk, kamu pilih cara yang paling tidak menyakitiku,”Kieran mengangguk. "Dan terima kasih karena tetap mau satu tim denganku, setelah tau semua itu!”Mereka diam. Kieran tiba-tiba mencium kening Alena dengan sang
Read more