MasukMenjalani hari pertama dari 7 Hari yang Kieran janjikan. Hujan tipis-tipis masih mengguyur desa, bahkan spanduk masih tergantung di pasar. Rajut Asri dibuka tapi sepi, para karyawan banyak yang mengundurkan diri karena takut berurusan dengan pemerintah. Hanya Bu Yein dan 2 karyawan yang masih duduk sembari melipat kain dengan kepala menunduk.Alena sedang berada di meja kasir, matanya bengkak karena semalaman tidak tidur. Memikirkan keberlangsungan usahanya dan William yang belum mau berangkat ke sekolah lagi. William sedang menggambar di lantai, dengan sesekali melirik ke luar pagar. Ke arah mobil hitam yang biasanya terparkir.Tok tok! Pintu diketuk dari luar. Kieran datang dengan membawa coklat panas 2 gelas dan juga roti. Alena membuka pintu sedikit."Kieran," kata Alena. "Kalau kamu kesini terus, warga akan semakin yakin!"Kieran mengangkat gelasnya. "Aku hanya mau mengantar sarapan untuk Adwin!”Dari dalam, William langsung berlari menghampiri. "Papa!" Namun Alena menaha
“Mari Bu!” sapa Alena sembari mengayuh sepeda. Warga desa mulai berbisik-bisik, saat Alena lewat. Alena merasa ada yang tidak beres sekarang. Setelah menjemput William, Alena bergegas pulang dengan sepeda yang ia gayuh secara cepat. Di ruko sedang tidak ada pembeli yang datang, maupun pesanan yang masuk. Alena bertanya-tanya dengan apa yang terjadi. Bu Yein datang dengan wajah takut. "Bu... tadi ada ibu-ibu berkata bahwa kita ini adalah keluarga perusak! Katanya kita mau jual tanah desa ke orang Novara City. Bu Yein adalah salah satu orang kepercayaan Alena di desa tersebut, seorang janda yang suaminya sudah meninggal. Ia menghidupi anak semata wayangnya seorang diri. Maka dari itu Alena mengajak Bu Yein untuk bekerja dengannya, juga di persilahkan tinggal bersama Alena di rumahnya. Alena duduk dengan tangan yang memegang kening, tangannya dingin dan William sedang bermain di dalam, belum mengganti seragam sekolahnya. Tok tok! Ketukan pintu terdengar dari luar. Alena mengint
Dada Kieran seperti ditusuk dan dielus secara bersamaan.Alena yang berdiri di belakang langsung menutup matanya, untuk menutupi air matanya yang jatuh. Kieran tidak menjawab iya dan tidak pula menjawab tidak, Kieran hanya membalas pelukan itu. "Papa di sini, Adwin! Papa yang jaga!" bisik Kieran. Satu kata yang William tunggu itu akhirnya keluar, untuk pertama kalinya William mendengar. Alena menoleh. "Jangan dibiasakan, Kieran!” Kieran menatap Alena selama beberapa saat. "Aku tidak minta kamu percaya sekarang, Al! Aku hanya minta waktu selama 1 minggu, untuk membuktikan aku bisa jaga kalian!"Jam 04.00Polisi sudah pergi dan satpam sudah mulai berjaga keliling lagi, tapi listrik belum juga menyala.Akhirnya William sudah tertidur di pangkuan Kieran, mereka berada di sofa ruko. Kieran duduk di lantai, membiarkan William tertidur di dadanya. Alena duduk di seberang dengan jarak 2 meter, masih memakai tameng masker dan kacamata."Kenapa kamu mau menolong sampai sejauh ini?" tanya
“Ternyata sudah jam 00.00,” bisik Alena.Alena meraih HPnya, rupanya sudah tengah malam. Listrik padam lagi, hanya lampu emergency di Rajut Asri yang masih menyala redup. Alena mendengar jika hujan turun lagi, suaranya menetes dari talang seng ke tanah yang becek.Di dalam ruko, Alena tidak tidur membuat area matanya menghitam. Ia duduk di kursi kasir, sembari memeluk William yang masih di pangkuannya. Alena belum membawa William ke kamar, hanya selimut tipis yang menutupi mereka berdua. Di luar, sekitar 3 meter di depan pagar, mobil hitam Kieran terparkir di sana. Mesin mobil yang dimatikan. Di dalamnya ada Kieran yang sedang duduk dengan jaket yang basah, matanya tidak lepas sedetikpun dari pintu ruko.Bahkan tangan kanan Kieran masih terasa hangat, bekas pelukan William 3 jam yang lalu tak bisa ia lupakan. Tiba-tiba HP Kieran bergetar dari sebuah nomor terenkripsi, yaitu Jaxon. "Tuan," suara Jaxon pelan. "Kita punya masalah lebih besar dari Viktor!”"Apa?" tanya Kieran. "Vik
“Sama-sama, William,” kata Kieran. William tercengang, saat nama aslinya di ketahui oleh Kieran. Sesekali William menoleh kearah Alena, dengan tatapan yang bertanya-tanya. William berlari ke sudut ruangan, di balik tumpukan dus. Matanya sembab, sejak tadi dia mendengar semua dari dalam. Suara bentakan, suara palu dan suara Mamanya yang gemetar. Namun William belum mengerti maksudnya. "Ma," bisik William. Alena langsung menoleh dan memeluknya. "Nak... kamu tidak apa-apa?" William menggeleng di pelukan Alena, lalu ia mengintip lagi ke arah Kieran. Anak 5 tahun itu diam cukup lama, otaknya sedang mencocokkan. Sebuah foto di laptop Alena, Om yang mengembalikan bolanya. Om yang memperbaiki listrik rumahnya, om yang setiap sore parkir di depan pagar yang selalu William panggil Om baik. William menatap penuh tanya pada Alena, hingga akhirnya Alena mengangguk seakan memberi tanda pada William untuk maju. Lalu William lepas dari pelukan Alena, berjalan pelan 3 langkah kedepan. Lalu
Di ruko Rajut Asri, hari ini ruko memang sengaja tidak buka. Bahkan Alena meminta spanduknya untuk diturunkan. Rukonya tertutup dengan gembok 2 lapis dan lampu neon menyala semua, sampai ke belakang.William sedang duduk di lantai, dengan krayon kesukaannya ia menggambar rumah. Di lapisi pagar tinggi dan keamanan yang berlapis, karena masih ada orang yang sering berdiri di luar. "Ma, kapan kita boleh main lagi?" tanya William. "Kalau sudah aman ya, Sayang," jawab Alena, tapi suaranya tidak setenang biasanya.Tiba-tiba.Tok! Tok! Tok! Bukan suara ketukan tamu, melainkan seperti suara ketukan palu ke kayu.Alena langsung berdiri, darahnya dingin. Dari celah pintu Alena mengintip. Seperti Viktor dengan jaket kulit basah, kacamata hitam dan senyum yang dulu membuatnya selalu mengalami mimpi buruk."Al... buka," kata Viktor. "Kita bicara baik-baik, seperti dulu!"Alena mundur selangkah, ia langsung menggandeng William. "Sembunyi di gudang belakang, jangan keluar apapun yang terjadi!
“A—apa? Bekerja? Bekerja apa?” Alena bertanya-tanya. Kieran menatap datar ke arah Alena, kesal karena masih harus menjelaskan. Ia kemudian mengedikkan kepala ke arah Jaxon dan memberi perintah, “Jax, jelaskan!” Jaxon menyalakan laptop dan membuka map hitam itu di depan Alena, memintanya untuk mem
“Ugh! Sialan!”Alena mendengus kesal setelah sudah berada di kamarnya sendirian. Rencana melarikan dirinya gagal. Tidak di rumah, tidak juga di penthouse mafia ini, ia tidak pernah berhasil lepas dari cengkraman mereka.Tak merasa mengantuk, Alena memutuskan untuk membuka map hitam yang dilempar K
“Ayo, aku antar ke kamarmu!” kata Jaxon. Alena hanya menunduk pelan, berjalan tertatih mengikuti arah Jaxon. Sebelum itu Jaxon memotong kabel yang mengikat tangan Alena terlebih dahulu, terlihat tangannya sudah terluka parah akibat ikatan yang terlalu kencang. Jaxon lalu memberinya handuk dengan
Kriet! Tubuh Alena berjengit kaget, saat pintu mobil terbuka. Ia masih berdiam diri di mobil, takut kalau-kalau melakukan kesalahan. Alena tertegun melihat bangunan Penthouse mewah yang berada di ketinggian 300 meter dari permukaan laut, dengan pemandangan indah kota Novara City. “Sepertinya







