Jam 22.17 malam, waktunya terlewat sedikit. Alena menyerahkan laporan harian ke meja Kieran, lewat pintu penghubung yang di renovasi. Kieran tidak melihatnya karena matanya tertuju pada layar, jarinya mengetuk keyboard. "Taruh saja!”Alena menaruh map itu lalu ia balik lagi ke ruangannya, tapi hujan deras di luar membuat jendela penthouse itu bergetar. Duar! Kilatan petir! Klik, lampu mati! Genset menyala tiga detik kemudian, tapi tiga detik itu cukup membuat Alena refleks mundur. Hingga menabrak meja. Kertasnya jatuh, lalu ia berjongkok untuk mengambil kertas dengan bersusah payah, sedangkan Kieran sudah berdiri di depannya seperti ilmu tak kasat mata. Bagi Kieran ia sedang menggunakan instingnya untuk melindungi aset, gelap, lalu terang lagi. Jarak mereka kini hanya tinggal sejengkal, napas Kieran sampai ke pelipis Alena. "Diam," kata Kieran. Suaranya rendah, ia kira ada penyusup dan tangannya sudah di pinggang, bersiap untuk mencabut pistol.Tidak ada penyusup hanya mereka
Read more