LOGIN"Entah lah, tapi kayaknya bukan dengan menghancurkan laboratoriumnya deh."
Suara Sophie turun hampir menjadi bisikan. Ia melirik ke arah pintu yang masih terkunci, lalu kembali menatap Aruna. "Selama mereka masih percaya hasil akhirnya ada di tubuhmu ...." Ia berhenti di depan meja. "Mereka gak akan pernah berhenti mengejarmu." Aruna tidak langsung menjawab. Pandangannya jatuh pada map tua yang terbuka di antara mereka. Ujung jari"Berhenti!"Suara Valeska menggema ketika bayangan Alpha menghilang dari hadapannya. Dalam satu kedipan, Alpha sudah berdiri di depan tubuhnya, membuat para petugas yang berada di sekitar mereka membeku ketakutan.Valeska mengangkat tangannya perlahan. Untuk pertama kalinya, tidak ada ketenangan dalam sorot matanya. "Kau tidak seharusnya memiliki kehendak sendiri."Alpha menatapnya tanpa ekspresi. Tangannya mencengkeram kerah pakaian Valeska, mengangkat tubuh perempuan itu dengan mudah hingga beberapa sentimeter dari lantai. Suara alarm terus berbunyi, tetapi tidak ada seorang pun yang berani mendekat."Kau mengambilnya." Suara Alpha terdengar rendah. "Kau membuatnya sakit."Valeska menahan napas. Ia masih mencoba mempertahankan wajah dinginnya meskipun tubuhnya tidak lagi memiliki kendali. "Kau tidak mengerti apa yang sedang aku lakukan."Alpha mendekatkan wajahnya. "Aku mengerti. Kau menyebut pengorbanan sebagai penyelamatan."Kalimat itu membuat beberapa petugas saling berpanda
"Mulai prosedurnya."Jarum suntik perlahan menembus kulit Aruna, memasukkan cairan kebiruan yang menjadi hasil penelitian bertahun-tahun Dewan. Tubuh Aruna langsung menegang, sementara jemarinya mencengkeram sisi ranjang hingga buku-buku jarinya memutih."Aruna!" Cilian berusaha maju, tetapi dua petugas langsung menahannya. Matanya tidak pernah lepas dari monitor yang menunjukkan perubahan drastis dalam tubuh Aruna. "Hentikan! Sekarang juga!"Aruna menggigit bibirnya kuat-kuat. Rasa panas menjalar dari lengannya ke seluruh tubuh, membuat napasnya semakin berat. Suara mesin pemantau mulai berbunyi lebih cepat, mengikuti detak jantungnya yang meningkat.Aruna menatap Valeska dengan bibir bergetar. "Kenapa kalian melakukan ini padaku?"Valeska berdiri di sisi ranjang tanpa bergerak. Tatapannya tertuju pada layar monitor yang menampilkan perkembangan enam embrio. "Aku tidak akan kehilangan mereka untuk kedua kalinya.""Tapi aku bukan tempat penyimpanan!" Aruna mencoba menarik tubuhn
"Madam, otorisasi dari Dewan Pusat sudah diterima."Seorang petugas berhenti di depan meja kerja Valeska. Kedua tangannya menyerahkan tablet dengan hati-hati.Valeska menerima tablet itu tanpa terburu-buru. Tatapannya menyapu layar beberapa detik, lalu jemarinya menekan tombol konfirmasi."Aktifkan protokol Golden Seed.""Baik, Madam." Petugas itu membungkuk singkat sebelum berbalik. Sesaat kemudian, suara sirene rendah menggema di seluruh kompleks.Lampu koridor berganti merah. Pintu-pintu baja menutup satu per satu, disusul bunyi pengunci otomatis yang saling bersahutan. Dalam hitungan detik, seluruh laboratorium berubah menjadi benteng tertutup."Kenapa pintunya ditutup?" Aruna menghentikan langkahnya di tengah lorong. Pandangannya mengikuti dua petugas bersenjata yang berlari melewatinya.Tak seorang pun menjawab. Para peneliti yang biasanya berlalu-lalang kini berjalan lebih cepat sambil membawa berkas dan kotak penyimpanan sampel. Wajah mereka tegang, seolah sedang bersiap me
Zen menggeleng pelan. Ia menekan beberapa tombol hingga jalur itu berubah merah, menandakan aksesnya hanya bisa dibuka dari dalam. "Semua pintunya pakai otorisasi Dewan." "Berarti lewat bawah." Malik menggeser pandangannya ke jaringan saluran utilitas yang membentang di bawah kota. Beberapa lorong terlihat cukup besar untuk dilewati seseorang. "Ada kemungkinan." "Kemungkinannya kecil." Cilian memperbesar bagian saluran itu. Beberapa simbol peringatan langsung bermunculan di sepanjang jalur. "Lorongnya dipenuhi sensor biologis." "Menyebalkan." Zen menyandarkan tubuh ke kursinya. Untuk pertama kalinya sejak penyelidikan dimulai, ia benar-benar merasa Dewan tidak memberi celah sedikit pun. "Tapi bukan berarti nggak bisa ditembus." Kondisi di sektor 7, seorang penjaga membuka pintu taman belakang. Ia memberi isyarat agar Aruna berjalan sesuai rute yang suda
"Aruna." Seorang perawat mengetuk pintu kamar sebelum masuk membawa nampan berisi sarapan. Aroma sup hangat langsung memenuhi ruangan yang sejak pagi terasa begitu sunyi. "Sarapanmu." "Taruh aja di situ." Aruna masih berdiri di dekat jendela. Pandangannya mengarah ke halaman Sektor 7 yang dipenuhi patroli sejak matahari terbit. "Nggak dimakan sekarang?" "Nanti." Perawat itu mengangguk pelan sebelum meletakkan nampan di atas meja. Ia sempat melirik wajah Aruna yang terlihat lebih pucat dibanding kemarin. "Kalau ada apa-apa, panggil saya." Pintu kembali tertutup. Aruna mengusap tengkuknya pelan, lalu berjalan menghampiri meja makan dengan langkah yang jauh lebih lambat dari biasanya. "Aneh." Ia baru menyendok satu suap. Belum sempat menelannya, aroma sup itu langsung membuat perutnya bergolak hingga sendok di tangannya berhenti di udara. "Ugh...." Aruna b
"Direbut?" Zen memiringkan kepalanya. Jemarinya kembali mengetuk permukaan meja, seolah sedang menghitung kemungkinan yang baru saja diucapkan Aruna. "Iya." "Selama Jantung Dunia ada di tangan Dewan, mereka selalu punya kendali." Aruna berbicara tanpa ragu. Suaranya tetap tenang meski hanya terdengar melalui komunikator di tengah meja. "Kalau mesinnya pindah tangan, yang kehilangan kendali justru mereka." Zen perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sudut bibirnya terangkat tipis saat satu demi satu kemungkinan mulai tersusun di kepalanya. "Masuk akal." "Tapi aksesnya nggak bakal gampang." Cilian mengusap layar tabletnya. Denah fasilitas bawah tanah kembali memenuhi proyektor, dipenuhi garis-garis pengaman berwarna merah. "Fasilitas itu dibangun buat mencegah penyusup." "Bukan buat menyambut tamu." Malik mengembuskan napas pelan. Tatapannya mengikuti ja
"Tembak siapa saja yang mendekati kendaraan ini! Jangan biarkan tikus-tikus Sektor Luar itu menyentuh Aruna!"Suara komando Dante menggelegar melalui radio taktis. Kendaraan tempur raksasa itu berhenti dengan sentakan keras tepat di depan Gerbang Batas Sektor 7.Di luar, badai polusi kelabu tampa
"Tanganmu terlalu lancang untuk ukuran seorang diplomat, Malik!"Suara berat dan serak itu memecah keheningan paviliun kaca. Langkah kaki yang kasar terdengar mendekat dari balik bayang-bayang pohon pakis raksasa.Aruna tersentak, langsung menarik dirinya menjauh dari jangkauan Malik. Jantungnya be
"Keluar! Jangan buat aku menyeretmu lagi!" geram Dante. Aruna tersentak. Pintu kendaraan tempur terbuka, menyajikan pemandangan Sektor 7 yang mengerikan. Bangunan-bangunan beton raksasa berdiri kaku di bawah langit kelabu yang menyesakkan. Tidak ada matahari. Hanya lampu-lampu halogen yang me
"Luruskan punggungmu, Aruna! Kau bukan pelacur murahan dari Sektor Luar!" Suara Paman Juna menggelegar di ruang makan bunker yang kedap suara. Aruna tersentak. Tangannya yang memegang sendok perak gemetar hebat. "Maaf, Paman," bisik Aruna pelan. Ia segera memperbaiki posisi duduknya. Belasan tah







