تسجيل الدخولAne meremas luka bekas gigitannya spontan agar Rein melepas pagutan di bibirnya. Entah mengapa, saat Rein mengecupnya, Ane bak diserang kelumpuhan tiba-tiba, tubuhnya membeku. Segenap inderanya bahkan tak memberikan penolakan, sungguh, pagutan Rein begitu lembut dan membawa candu asing tapi penuh afirmasi manis."Arggh," Rein menggeram kecil, reflek menepis jemari Ane di dadanya yang terluka. "Bisa kan kamu jangan asal menciumku begitu? Murah sekali ya aku di matamu, Rein?" protes Ane sambil memukul keras pundak Rein, marah. "Kenapa? Kamu bisa berbuat lebih dari sekadar menggigitku?" cibir Rein. Ane membuang pandangan sebagai jawaban. Meski begitu, jemarinya tak lupa mengusap luka di dada Rein dengan obat antiseptik dan membalutnya menggunakan kassa steril. "Ariane," panggil Rein lembut, baru ia sadari, wajah Ane begitu cantik dan mulus sekali jika ditatap sedekat ini. "Udah selesai, aku pulang dulu," pamit Ane buru-buru beranjak tapi Rein menahan jemarinya. "Si bangsat Rein yan
Ciuman itu semakin dalam, semakin membuat segenap aliran darah di tubuh Ane berdesir hebat. Tangannya yang semula meronta memukul dada Rein brutal, berubah meremas kerah jasnya, rasa manis memenuhi sekujur tubuhnya. Pelan tapi pasti, kecupan Rein turun ke rahang dan ceruk leher Ane, bermain lama dengan lidahnya di sekitar tulang selangka Ane yang mempesona. Saat itulah bayangan masa lalu muncul tiba-tiba, membuat mata Ane yang tadinya terpejam nyaman, terbelalak seketika. Benar, memori Ane kembali pada malam di mana Rein mencekik lehernya sekuat tenaga hingga bernafas pun Ane seperti sudah tak bisa. Tangan Ane reflek berganti mencakar apapun yang bisa di raihnya, adalah rahang Rein yang ikut kaget dengan reaksi spontan Ane. "Lepaskan aku!!" jerit Ane seketika bangkit, ia gigit dada Rein kuat-kuat, melampiaskan ketakutannya yang tertahan begitu lama. Rein berjenggit menahan sakit, tapi ia tidak berteriak meski gigitan Ane jelas mengejutkan dan cukup membuatnya harus menggemeretakkan
Tiba di apartemen, Ane tak menolak saat Rein kembali menggendongnya. Kali ini, Ane tidak melupakan kode pintu unitnya, jadi, mereka bisa langsung masuk tanpa kesulitan. "Kamu harus ke psikolog, Ariane," kata Rein setelah kekesalannya reda. Tak tega juga ia melihat kondisi Ane yang masih gemetaran itu, meski sudah bisa mendebatnya dengan sengit. "Kenapa? Menurutmu semua yang kubilang itu gila?" "Iya!" sambar Rein cepat. "Nggak masuk akal lebih tepatnya," tandasnya.Ane membasahi bibirnya beberapa kali, tapi ia tak beranjak dari ranjangnya. Semenjak datang, Rein memang langsung membaringkannya di ranjang, melepas high heels yang ia kenakan dengan telaten. Pun mengambilkan segelas air putih hangat yang sudah ia ukur hati-hati suhunya sehingga Ane tidak kepanasan saat meneguknya. Perhatian kecil ini luput begitu saja dari pandangan Ane, dalam kenangannya, Rein adalah si mantan suami kejam yang selalu menyiksanya. "Tato di tubuhmu adalah pahatan baru, tapi aku tau, kamu adalah orang ya
Ane menatap tajam pada Rein di seberangnya, aura menyebalkan dari wajah tampan itu masih tersisa. Sementara yang ditatap tampak santai, mengisap rokoknya sambil memainkan ponsel. Konferensi pers sudah dibubarkan. Pernyataan Ane tetap sama, ia tidak hamil karena Rein dan hubungannya dengan Rein adalah sebatas rekan bisnis. Sedangkan Rein juga tidak akan menuntut Ane atas pencemaran nama baik, mereka mengakhiri semuanya dengan damai. Tidur bersama tidak membuat hubungan mereka menjadi dekat, kesalahan itu hanya Ane anggap sebagai khilaf. Namun, melihat betapa Rein tak acuh begini justru membuat Ane merasa tercekik. Aura Rein dari kehidupan lalu tiba-tiba menekannya sangat kuat, membuat bayangan kesakitan itu kembali datang menyelimuti Ane. "Hei, hei!" Rein menepuk-nepuk pundak Ane untuk menyadarkannya. Perempuan di depannya ini terlihat melamun dan kesulitan bernafas. "Kesurupan?" tegurnya. Ane tersadar, ia menepis kasar jemari Rein yang bertengger di bahunya. Matanya membulat panik
"Semua persiapan udah aman, wartawan juga udah pada dateng, tinggal nunggu Bu Ariane dateng ke ruang pertemuan," lapor Tante Ery masuk begitu saja ke ruangan Ane dan memberikan laporan kilatnya. "Tante udah siapin apa yang harus kubilang di depan wartawan, kan?" tanya Ane memutar kursinya menghadapi meja. "Ne, serius, ini sebenarnya nggak perlu kan? Rumor bakalan hilang ditelan bumi, tapi dengan adanya konferensi pers ini, kita membuat isu baru muncul dan takutnya lebih gede lagi," nasihat Tante Ery bijak. "Kita nggak tau apakah Tuan Rein itu bakalan diem aja atau balas menyerang," tambahnya. "Aku nggak mau ada spekulasi aku hamil tapi ada berita muncul lagi kalau aku jalan sama Dokter Aldric," ucap Ane enteng. "Seenggaknya, kalau aku keliatan kencan sama Dokter Aldric, nggak akan ada omongan aku selingkuhin Rein," katanya seraya beranjak. Ia yang kini sangat menguasai bahasa non formal di masa depan benar-benar enggan untuk dinilai masih mengejar Rein. Konferensi pers itu digelar
"Jadi, gimana ceritanya bisa sama Dokter Rein?" tanya Aldric setelah Rein pamit pergi lebih dulu. "Saya dan dia baru saja tanda tangan kerjasama, dan dia minta untuk makan siang bersama. Tiba-tiba dia telepon Dokter Aldric dan mengacaukan janji kita," jawab Ane jujur. "Sepertinya ada perkembangan cukup signifikan dari hubungan Mbak Ane dan Dokter Rein ya," ujar Aldric seperti menyindir. "Apa nggak pa-pa kita sering janji ketemu makan siang begini?" pancingnya."Dokter Aldric merasa keberatan kalau harus makan siang sama saya?" tanya Ane, bersiap menerima jawaban terburuk. "Nggak gitu," Aldric cepat-cepat menggeleng. "Justru saya nggak enak kalau saya tiap waktu nyempil di tengah-tengah kayak tadi," ujarnya. "Saya yang senang ada Dokter Aldric di sini tadi," sahut Ane. "Rein yang jadi orang ketiganya," terangnya mengklarifikasi. "Jadi, soal berita kehamilan itu, Mbak Ane serius tidak akan mempermasalahkannya?" tanya Aldric tiba-tiba, cukup mengejutkan tentu saja. "Saya akan gela







