Aroma kayu cendana yang dibakar samar-samar tercium saat Sultan Panji Adiwangsa melangkah melintasi selasar menuju Bilik Sentani. Langkah kaki sang penguasa terdengar konstan, tanpa riak ketergesaan. Ia melangkah masuk tanpa pengawalan ketat, hanya menyisakan dua prajurit jaga di depan gerbang luar bilik.Di dalam bilik yang tertata rapi, Mayang Guritno sedang menyisir rambut hitamnya yang panjang. Mendengar langkah kaki yang sangat ia kenali, wanita itu meletakkan sisir tanduknya, lalu berdiri perlahan. Ia menjura khidmat, menyambut suaminya dengan ketenangan seorang putri adipati.Sultan Panji mengambil tempat duduk di kursi kayu jati yang beralas beludru merah. Sikapnya terkesan biasa saja, bahkan cenderung santai. Tidak ada kilatan amarah di matanya, tidak ada intonasi maut yang biasa ia gunakan saat menginterogasi tahanan politik."Duduklah, Mayang," ujar Sultan Panji, suaranya mengalun datar."Aku hanya ingin melepas penat setelah perjalanan panjang dari Mataram. Ceritakan padak
最終更新日 : 2026-09-08 続きを読む