Tepat satu bulan sejak Raras Anjani menginjakkan kaki di Padepokan Tejowangi, bulan purnama kembali naik sempurna di atas puncaknya. Cahaya perak berpadu temaram menyiram pekarangan kediaman belakang, membiaskan bayang-bayang tebal pepohonan yang bergoyang dihembus angin dingin pegunungan. Di dalam rumah kayu itu, udara terasa mendadak berat seolah-olah udara malam enggan bergerak.Ningsih melangkah masuk ke ruang dalam membawa baki berisi mangkuk sup hangat dan sekepal nasi untuk makan malam. Namun, baru saja dua langkah melintasi ambang pintu kamar, dentang mangkuk yang menghantam lantai memecah kesunyian malam.Di atas balai-balai kayu, Raras Anjani tertekuk melingkar. Kedua tangannya mencengkeram erat bagian bawah perutnya, meremas kain jariknya hingga buku-buku jarinya memutih. Dari sela bibirnya yang terkunci rapat, meluncur rintihan pilu yang tertahan namun memilukan batin. Rasa sakit yang dahulu melumpuhkannya di Astana Keputren kini kembali menyerang tanpa peringatan—sebuah d
آخر تحديث : 2026-09-27 اقرأ المزيد