"Gavin, kamu kenapa?" tanya Arina khawatir saat melihat wajah laki-laki itu tiba-tiba pucat.Gavin menundukkan kepala. Tangannya mengepal di atas meja seolah sedang berusaha menahan sesuatu. Dia menarik napas panjang beberapa kali sebelum akhirnya menjawab."Nggak apa-apa," katanya pelan. "Perutku tiba-tiba sakit. Kalau kita langsung ke atas gimana?"Arina langsung menganggukkan kepala."Ayo. Kamu harus istirahat."Dia segera menyimpan kalung berbentuk hati itu kembali ke dalam kotaknya. Setelah memastikan benda tersebut aman, Arina berdiri dan membantu Gavin bangkit dari kursinya.Meski Gavin berusaha terlihat baik-baik saja, Arina bisa melihat laki-laki itu berjalan lebih lambat dari biasanya. Karena itu, dia tetap berada di sampingnya sepanjang perjalanan menuju lantai atas.Sesampainya di depan ruangan, Arina segera membuka pintu. Dia membantu Gavin masuk ke dalam kamar dan membimbingnya hingga duduk di tepi lkasur.Gavin mengusap wajahnya sebentar lalu merebahkan tubuh."Maaf, A
Last Updated : 2026-09-02 Read more