LOGIN"Gavin, kamu kenapa?" tanya Arina khawatir saat melihat wajah laki-laki itu tiba-tiba pucat.Gavin menundukkan kepala. Tangannya mengepal di atas meja seolah sedang berusaha menahan sesuatu. Dia menarik napas panjang beberapa kali sebelum akhirnya menjawab."Nggak apa-apa," katanya pelan. "Perutku tiba-tiba sakit. Kalau kita langsung ke atas gimana?"Arina langsung menganggukkan kepala."Ayo. Kamu harus istirahat."Dia segera menyimpan kalung berbentuk hati itu kembali ke dalam kotaknya. Setelah memastikan benda tersebut aman, Arina berdiri dan membantu Gavin bangkit dari kursinya.Meski Gavin berusaha terlihat baik-baik saja, Arina bisa melihat laki-laki itu berjalan lebih lambat dari biasanya. Karena itu, dia tetap berada di sampingnya sepanjang perjalanan menuju lantai atas.Sesampainya di depan ruangan, Arina segera membuka pintu. Dia membantu Gavin masuk ke dalam kamar dan membimbingnya hingga duduk di tepi lkasur.Gavin mengusap wajahnya sebentar lalu merebahkan tubuh."Maaf, A
Arina masih berdiri beberapa saat, memperhatikan keributan yang belum juga mereda.Aryo dan Davina saling berteriak tanpa mempedulikan tatapan orang-orang di sekitar mereka. Kata-kata kasar meluncur begitu saja dari mulut Davina, penuh amarah dan kebencian yang selama ini mungkin telah lama dipendam."Kamu pembohong, Aryo! Dasar pengecut!" bentak Davina.Aryo yang emosinya sudah berada di ujung batas balas membentak. "Dan kamu pikir kamu lebih baik dariku?!"Davina mendorong dada Aryo dengan kedua tangannya.Bruk!Aryo mundur setengah langkah.Kerumunan mulai terbentuk. Beberapa orang mengeluarkan ponsel untuk merekam, sebagian lain hanya menonton seolah sedang menyaksikan pertunjukan gratis.Davina kembali mendorongnya. "Kamu hancurin hidupku!""Aku?! Kamu yang menghancurkan semuanya!" balas Aryo.Dorongan berikutnya membuat kesabaran Aryo benar-benar habis. Tanpa berpikir panjang, Aryo mendorong balik.Bruk!Tubuh Davina kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di trotoar.Suasana
Arina menempelkan ponsel ke telinganya begitu panggilan itu tersambung."Halo?""Kamu di mana?"Untuk sesaat Arina terdiam. Tubuhnya mematung ketika mendengar nada suara Gavin di seberang sana. Tidak ada nada menggoda seperti biasanya. Tidak ada juga sindiran yang sering membuatnya kesal. Yang terdengar justru kekhawatiran yang begitu jelas."Bertemu teman," jawab Arina singkat."Teman siapa? Di mana?"Pertanyaan itu datang begitu cepat hingga membuat Arina mengerutkan dahi.Dia menelan ludah sebelum menjawab, "Teman sekolah dulu. Aku lagi di kafe.""Kafe mana?"Arina memijat pelipisnya. "Kenapa sih kamu nanya sampai sedetail itu?"Karena penasaran sekaligus sedikit kesal, dia akhirnya menambahkan, "Aku cuma ngobrol sama teman lama. Nggak ada apa-apa.""Aku balik ke apartemen dan kamu nggak ada," sahut Gavin dengan suara rendah. "Jelas aku khawatir."Ucapan itu membuat Arina terdiam sejenak.Entah kenapa, mendengar seseorang mengkhawatirkannya terasa asing sekaligus menghangatkan hati
Pemandangan kota di malam hari tampak samar dari balik jendela kafe. Namun, perhatian Arina sama sekali tidak tertuju pada keramaian di luar sana. Tangannya perlahan bergerak ke arah leher, lalu mengeluarkan sebuah kalung yang selama ini selalu dia simpan dengan hati-hati.Liontin berbentuk hati itu tampak tua. Warna emas nya sudah sedikit memudar dimakan usia, tetapi keindahannya masih terlihat jelas. Ada ukiran-ukiran kecil yang rumit di bagian pinggirnya, seolah dibuat dengan ketelitian tinggi oleh seorang pengrajin berpengalaman.Arina menelan ludah sebelum menyerahkannya pada Bagas.Bagas yang sejak tadi memperhatikan perubahan ekspresi Arina langsung mengalihkan pandangannya pada kalung itu."Kalung siapa?" tanyanya sambil mengernyit. "Kelihatannya jadul banget."Arina menghela napas panjang. Ada kesedihan yang tersimpan dalam sorot matanya."Petunjuk dari orang tua kandungku."Kalimat itu membuat Bagas membeku."Orang tua kandungmu?" ulangnya pelan.Beberapa detik berlalu sebel
"Apa?""Kamu masih di kota ini?" tanya Arina."Masih. Gimana?"Arina menghela napas. "Bisa kita ketemu hari ini juga?" "Sore jam tiga di cafe casablanca," jawab Bagas."Oke."Arina menutup sambungan telepon lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Dadanya terasa sedikit lebih ringan setelah berhasil menghubungi Bagas. Setidaknya ada satu orang yang mungkin bisa membantunya mencari jawaban tentang liontin dan masa lalu orang tuanya.Dia berjalan menuju kamar mandi. Air hangat yang mengalir membasahi tubuhnya, membantu meredakan kepenatan yang sejak beberapa hari terakhir terus menghantui pikirannya. Setelah selesai mandi, Arina memilih mengenakan blouse berwarna krem dipadukan dengan celana panjang hitam sederhana. Rambutnya yang masih sedikit lembab dibiarkan tergerai di bahu.Sebelum pergi, dia sempat menatap pintu apartemen Gavin beberapa detik.Entah kenapa wajah Gavin kembali muncul di kepalanya. Pelukan wanita yang datang kemarin masih membekas dalam ingatannya. Ada perasaan aneh
Arina menyingkirkan ponselnya ke samping. Setelah itu, dia kembali membuka laptop yang sejak tadi tergeletak di atas meja. Jemarinya langsung bergerak di atas keyboard, melanjutkan cerita yang belum selesai ditulisnya.Entah kenapa, setiap kali mengingat Gavin membaca hasil tulisannya, wajah Arina langsung terasa panas."Tunggu dulu..."Jarinya berhenti mengetik.Tatapannya tertuju pada nama tokoh utama laki-laki dalam cerita yang sedang dia tulis."Argan..."Arina menyipitkan mata sambil membaca beberapa paragraf yang baru saja ditulisnya."Kenapa tokoh Argan di sini mirip Gavin, ya?" gumamnya pelan.Dia membaca ulang deskripsi karakter itu.Tinggi, tampan, dingin pada orang lain tetapi diam-diam perhatian. Suka membantu tanpa diminta. Terlihat menyebalkan saat bicara, tetapi selalu muncul ketika sang tokoh wanita sedang kesulitan.Semakin dibaca, semakin terasa mirip. Arina langsung menggeleng kuat-kuat."Nggak mungkin."Dia menutup sebagian wajahnya dengan kedua tangan."Ini cuma







