"Mas, kamu lihatin apa sih? Itu lampunya sudah hijau," pekik wanita yang tak lain Dinda. Tama, pria itu menyudahi tatapanya pada Danu. Ia mulai memfokuskan pandangannya ke depan, tapi tetap saja, gemuruh nama Alena memenuhi isi kepalanya. Sore itu setelah Dokter menyatakan sehat, Dinda langsung meminta pulang. Ia takut jika terlalu lama di rawat, maka hal itu dapat di gunakan Tama untuk menemui mantan Istrinya. Dinda lupa, jika Tama sendiri adalah seorang Dokter. Dan dapat bebas kapan saja datang ke rumah sakit. "Oh ya, Mas Tama, sesuai kata Mama dan Papa tadi, aku mau pernikahan kita di percepat saja. Aku nggak mau sampai anak ini lahir lebih dulu sebelum kita sah menjadi pasangan suami istri." Ucapnya penuh semangat. Dinda merengkuh lengan Tama, menyandarkan kepalanya di bahu tegap itu, menghembuskan napas lega, tak menyangka impiannya menjadi Istri seorang Dokter akan segera ia raih.
더 보기