Selina langsung terkekeh hambar mendengarnya. "Jangan bercanda, Lyra. Mana mungkin aku meminta bantuan padanya," ucap Selina sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan melanjutkan memotong sayuran yang sedang dia selesaikan itu dengan gerakan cepat, mencoba menutupi debaran aneh di dadanya."Kenapa tidak mungkin?" desak Lyra sambil merendahkan suaranya sembari melirik ke arah pintu. "Tuan Edgar itu berbeda, Selina. Dia memang jarang bicara, tapi jika dia sudah bergerak seperti semalam, itu artinya kau penting baginya.""Sudahlah, Lyra. Hubunganku dan dia tidak sepeti yang kau bayangkan. Jangan bahas ini lagi, kumohon," bisik Selina lirih, lalu menyudahi obrolan yang mulai terasa membahayakan bagi jantungnya.Beruntung, hari ini adalah hari Minggu, sehingga anak Greta tidak masuk sekolah dan suasana pagi terasa sedikit lebih longgar dari biasanya. Selina mempercepat gerakannya. Begitu seluruh sarapan selesai dibuat, dia dan Lyra segera menaruh menu-menu tersebut di atas meja makan kayu
Magbasa pa