Edgar lantas menunduk, lalu bibirnya menyentuh bibir Selina dengan lembut pada awalnya, seperti hembusan angin malam yang menggoda. Ciuman itu penuh tuntutan halus, lidahnya menyusup pelan, menari dengan lidah Selina yang masih ragu.Tapi dalam hitungan detik, kelembutan itu meledak menjadi hisapan dalam yang memabukkan. Edgar menghisap bibir bawah Selina dengan rakus, lidahnya menyelam lebih dalam, mengecap setiap inci mulut gadis itu seolah ingin menelan seluruh dirinya.Selina yang semula tegang seperti batu, mulai meleleh. Tubuhnya gemetar, lututnya lemas, dan erangan kecil lolos dari tenggorokannya.Tangan Edgar yang kasar dan kuat merayap di pinggang ramping Selina, meremas kain sutra merah tipis yang membungkus tubuhnya. Jari-jarinya menekan kulit halus di bawah kain itu, meninggalkan jejak panas yang membakar."Kau milikku malam ini," bisiknya kasar di antara ciuman, suaranya parau penuh gairah. Selina melenguh pelan, suaranya terdengar begitu manja dan putus asa, sementara le
Magbasa pa