Masuk“Nakara?”Pemuda itu menarik kursi tengah lalu duduk di sana, menatap Zalina dan Arash bergantian. Begitu melihat wajah tegang temannya, Nakara tidah mengalihkan tatapannya dari temannya itu.Arash langsung memalingkan mukanya, Nakara masih diam mengamati dengan kerutan di keningnya.“Canggung banget,” gumam Nakara sarkas, lalu menoleh pada Zalina. “Kamu ngapain di sini, Mbak? Mas Nara tau?” Zalina menggelengkan kepalanya pelan. “Mbak nyari kamu.” Zalina berbohong, tapi sepertinya ia sudah mengantisipasi agar adiknya tidak curiga. Nakara mengerutkan keningnya, tapi begitu Zalina mengeluarkan kotak bekal dan meletakkan di atas meja wajahnya melunak.“Ya ampun, ngapain sih? Kayak anak SD aja,” cibirnya tapi tetap menarik kotak bekal tersebut. “Jangan lama-lama di luar, Mbak. Nanti Mas Nara nyariin Mbak.”Zalina menganggukkan kepalanya, ia berdiri dari duduknya. Baru saja akan melangkah, Arash menahannya.“Mbak,” panggilnya membuat Zalina menoleh.“Ya?”“Ayo saya antar.”Zalina dan Nak
“Anak?”Naradhiya menganggukkan kepalanya. “Kamu pernah pasang kb, gimana kalau dilepas saja?”Zalina jadi panik sendiri. “Ma-Mas, memangnya dokter sudah mengizinkan?” tanyanya gugup.Bukan soal dirinya sudah tidak menginginkan anak lagi, tapi ia masih berusaha memahami suaminya. Belum lagi ia masih ingin tahu sejauh mana suaminya akan serius untuk memperbaiki hubungan mereka.Juga … tentang wanita yang katanya disebut dalam tidur suaminya.Ia menatap Naradhiya yang terdiam, lalu mengangguk pasrah. “Nanti kita konsultasi lagi pas kontrol, ya.”Zalina hanya menganggukkan kepalanya, memilih kembali memejamkan matanya menikmati sensasi sentuhan Naradhiya yang menenangkan.***“Mbak Zalina?”Zalina tersenyum melihat keterkejutan Arash ketika melihat dirinya berdiri di dekat mobilnya. Ia cukup mengingat mobil Arash yang muncul dalam mimpinya. Pemuda itu mendekat, celingukan mencari orang lain yang mungkin datang bersama wanita yang sempat hilang arah itu.“Mbak cari Nakara? Dia baru saja
“Za, apa maksud kamu?” tanya Naradhiya heran mendengar pertanyaan Zalina yang membuatnya seperti tersambar petir.“Kenapa kamu ….”“Kenapa kamu tanya lagi, Za? Aku sudah bilang kalau aku akan memperbaiki semuanya, hubungan kita rumah tangga kita,” kata Naradhiya lalu meraih tangan Zalina dan menggenggamnya erat. “Kamu ingat sesuatu, Sayang?”Zalina sempat terdiam lama, ada rasa hangat dalam dadanya. Yang ia ingat, Naradhiya tidak pernah bersikap sehangat ini sebelumnya. Panggilan sayang?Mungkin biasa ia dengar ketika baru bangun dari koma dan tidak mengingat apa pun. Tapi setelah mimpi barusan, rasanya sangat berbeda. Ada yang membuncah dalam dadanya, seperti kembang api meletup di perutnya.Zalina menggeleng pelan. “Aku cuma ….”Belum sempat Zalina meneruskan ucapannya, Naradhiya sudah memeluk tubuhnya erat. Lelaki itu menjatuhkan wajahnya di ceruk leher istrinya, menghidu aroma tubuh Zalina yang selalu menjadi candu meski tidak pernah ia katakan sebelumnya.“Apa pun itu, jangan ja
Menyebut nama perempuan lain?Zalina menoleh pada Naradhiya yang duduk di meja kerjanya sedangkan dirinya rebahan di atas ranjang. Bi Sumi sedang memijat kakinya, membuat ototnya sedikit merasa rileks meski ucapan Brian terus berputar dalam kepalanya.Siapa perempuan itu?Mas Naradhiya selingkuh?Tapi siapa?“Mbak Za?”Panggilan Bi Sumi membuat kesadaran Zalina kembali. “Iya, Bi?”“Mas Nara tanya, apa Mbak Za mau makan buah?”Zalina mengangkat kepalanya, menatap Naradhiya yang juga sedang memandanginya dengan kening berkerut. Wajahnya tampak serius, namun Zalina malah sedang mencari sesuatu di sana. Mata yang menatapnya begitu tulus, ternyata masih menyimpan kebohongan.Akhirnya ia menggeleng pelan. “Nggak, Bi. Saya kenyang,” jawab Zalina sambil mengalihkan tatapannya dari Naradhiya Bi Sumi mengangguk sopan, lalu berpamitan setelah merapikan handuk kecil dan minyak pijat ke dalam keranjang. Naradhiya bangkit dari kursi kerjanya, mengantar wanita paruh baya itu sampai ke ambang pintu.
“Rash?”Arash terlihat gugup mendengar pertanyaan Nakara. Lidahnya kelu, ia menghindari tatapan Nakara yang menuntut jawaban. Sejauh ini, hanya keluarganya yang tahu ia bisa melihat hal tak kasat mata, itu juga mereka tidak ada yang percaya dan menganggap Arash gila.“Rash?” Nakara masih manunggu.“Belum lama,” jawab Arash akhirnya.“Oh, tapi memangnya benar kamu bilang kalau ….”“Ka, kakakmu udah nggak kelihatan,” sela Arash berusaha mengalihkan pembicaraan. Toh, kalau dirinya mengatakan yang sebenarnya, Nakara tidak akan percaya.Nakara sebenarnya masih ingin bicara, namun Arash sudah berjalan lebih dulu menyusul Zalina dan Brian ke dalam kafe. Mereka duduk di meja yang berbeda dengan Zalina, hanya berjarak dua meja.“Rash, kamu masih utang penjelasan,” kata Nakara masih penasaran.“Nanti kalau udah waktunya,” balas Arash sambil tersenyum penuh arti.Nakara mencebikkan bibirnya, diam-diam memperhatikan temannya yang entah sejak kapan menaruh perhatian pada kakaknya.Sementara itu, Z
“Maaf, Anda siapa?” tanya Zalina heran.Ia menatap Nakara dan Arash bergantian seperti sedang mencari jawaban, lalu kembali pada lelaki berjas di hadapannya yang tampak terkejut dengan pertanyaan Zalina.“Bu Zalina tidak ingat saya?” tanya pria itu lagi, heran.Zalina menggeleng pelan, menggigit bibir bawahnya. “Apa Bapak kenal dengan saya?” tanya Zalina balik.Pria itu tertawa, lalu menyugar rambutnya. “Saya Brian, pengacara Anda waktu mengajukan gugatan cerai ke Pak Naradhiya.”Tubuh Zalina refleks menegang, Arash dan Nakara juga ikut terkejut mendengar penuturan pria itu. Zalina masih tidak percaya, ternyata ia memang pernah berniat cerai dengan suaminya.Tapi kenapa?Selama ini Naradhiya mengatakan kalau ia bersalah dan membiarkan dirinya sendirian. Tidak ada penjelasan secara spesifik bagaimana hubungan mereka sebenarnya sampai perceraian itu hampir terjadi.\Atau memang sudah terjadi?“Pak, maaf.” Nakara menyela setelah merasa keadaan sudah tidak nyaman. “Kakak saya mengalami hi







