“Rash?”Arash terlihat gugup mendengar pertanyaan Nakara. Lidahnya kelu, ia menghindari tatapan Nakara yang menuntut jawaban. Sejauh ini, hanya keluarganya yang tahu ia bisa melihat hal tak kasat mata, itu juga mereka tidak ada yang percaya dan menganggap Arash gila.“Rash?” Nakara masih manunggu.“Belum lama,” jawab Arash akhirnya.“Oh, tapi memangnya benar kamu bilang kalau ….”“Ka, kakakmu udah nggak kelihatan,” sela Arash berusaha mengalihkan pembicaraan. Toh, kalau dirinya mengatakan yang sebenarnya, Nakara tidak akan percaya.Nakara sebenarnya masih ingin bicara, namun Arash sudah berjalan lebih dulu menyusul Zalina dan Brian ke dalam kafe. Mereka duduk di meja yang berbeda dengan Zalina, hanya berjarak dua meja.“Rash, kamu masih utang penjelasan,” kata Nakara masih penasaran.“Nanti kalau udah waktunya,” balas Arash sambil tersenyum penuh arti.Nakara mencebikkan bibirnya, diam-diam memperhatikan temannya yang entah sejak kapan menaruh perhatian pada kakaknya.Sementara itu, Z
Terakhir Diperbarui : 2026-09-19 Baca selengkapnya