Naradhiya tidak langsung menjawab, genggaman tangannya mengendur, senyum di bibirnya perlahan menghilang. Ia menatap pecel ayam yang baru disentuh separuh, rasa lapar menguap begitu saja.Haruskan ia menjawabnya?Ia mendongak, Zalina masih menatapnya, menunggu jawaban. “Za ….”“Kamu bilang kita dijodohkan karena kamu ada masalah dengan masa lalu. Boleh aku tau alasannya, Mas?” Zalina mengulang pertanyaannya.Naradhiya menghela napas berat. “Aku rasa bukan ide yang bagus kalau kita bicara itu sekarang, Za. Apalagi di tempat seperti ini,” jawab Naradhiya.Zalina memajukan bibirnya, mendesah kecewa. Sengaja ia tunjukan pada suaminya agar lelaki itu merasa bersalah.“Sayang ….”“Aku nggak sepenting itu, ya?” Zalina memainkan tangannya di atas sambal.“Bukan begitu, Sayang. Kita bicara di rumah, ya?”Zalina menghela napas panjang, akhirnya mengalah untuk tidak berdebat. Toh, dia benar-benar menunggu jawaban suaminya apa kebohongan lagi yang keluar dari mulut lelaki itu atau memang Naradhiy
Last Updated : 2026-09-24 Read more