Mendengar alamat rumah keluarga Dandi yang disebutkan oleh Viona, Lani langsung mengangguk cepat. Rasa takut dan keputusasaan campur aduk di benaknya, tetapi setidaknya kini ia memiliki secercah petunjuk untuk menemui ayah dari bayi yang dikandungnya."Terima kasih, Vi. Terima kasih banyak, Mas," cicit Lani terbata-bata sambil menyeka sisa air matanya.Tanpa membuang waktu lebih lama lagi dan merasa tidak punya muka untuk berlama-lama berdiri di hadapan saudara yang dulu dikhianatinya itu, Lani buru-buru bangkit berdiri. Dengan langkah gontai dan terburu-buru, ia membalikkan badan, meninggalkan rumah Viona, dan langsung meluncur menuju alamat yang baru saja ia kantongi.Di ruang tamu, Viona menghela napas panjang sambil melipat tangan di dada. Ia menatap kepergian Lani seraya menggelengkan kepala keras-keras."Ampun deh, punya saudara kok ya tingkahnya benar-benar di luar nalar," gerutu Viona dengan nada jengkel. "Udah tahu bodoh, gampang dibohongi, malah berani-beraninya menusuk aku
Read more