LOGINKeesokan paginya, suasana ruang makan di kediaman Darmawan terasa hangat. Aroma kopi hitam dan roti panggang menguar di udara. Darmawan duduk di ujung meja, menikmati sarapannya bersama seluruh anggota keluarga. Di sana tampak Rima dan Vera yang duduk di sisi seberang, sementara Reno dan Viona yang bari datang duduk berdampingan.Sembari menyesap kopinya, Darmawan menatap menantunya dengan pandangan yang dalam. Ada secercah rasa penasaran sekaligus empati yang tersimpan di balik mata pria paruh baya itu."Reno," panggil Darmawan lembut, memecah keheningan pagi. "Papa mau tanya. Selama semua rahasia masa lalu terbongkar ini, apa tidak ada sedikit pun keinginan di dalam hatimu untuk mencari siapa orang tua kandungmu yang sebenarnya?"Reno tertegun sejenak. Ia meletakkan garpu di piring kecilnya, lalu tersenyum tipis, senyum yang menyiratkan ketulusan sekaligus kedewasaan yang luar biasa."Jujur, Pak. Kalau dibilang penasaran, mungkin ada sedikit di awal-awal. Tapi sekarang, saya sudah s
Axel panik, sementara kakinya seolah terpaku di anak tangga. Ia sempat berharap panggilan Dandi sore ini adalah kesempatan baginya untuk mengambil hati sang ayah kembali, tapi kehadiran Lani di ruang tamu justru menjadi bom waktu yang siap menghancurkan sisa-sisa pertahanannya.Dandi berdiri perlahan dari sofa, menatap Axel dengan tatapan jijik dan amarah yang sudah di ubun-ubun."Jadi... ini kelakuan bejat yang kamu sembunyikan di belakang kami?" suara Dandi menggelegar di dalam ruangan yang mendadak terasa sesak. Pria paruh baya itu menunjuk ke arah Lani yang berdiri tertunduk gemetar. "Kabur di hari pernikahan yang kamu rencanakan sendiri tanpa bilang orang tua. Menghamili anak orang, lalu lari dari tanggung jawab dan memblokir kontaknya? Hebat sekali didikan yang saya berikan pada kamu selama ini, Axel!"Mila yang duduk di sebelah Dandi menutup wajahnya dengan kedua tangan, terisak pelan karena menahan malu dan kecewa yang amat sangat. "Axel, kenapa kamu tega berbuat seperti ini?
Mendengar alamat rumah keluarga Dandi yang disebutkan oleh Viona, Lani langsung mengangguk cepat. Rasa takut dan keputusasaan campur aduk di benaknya, tetapi setidaknya kini ia memiliki secercah petunjuk untuk menemui ayah dari bayi yang dikandungnya."Terima kasih, Vi. Terima kasih banyak, Mas," cicit Lani terbata-bata sambil menyeka sisa air matanya.Tanpa membuang waktu lebih lama lagi dan merasa tidak punya muka untuk berlama-lama berdiri di hadapan saudara yang dulu dikhianatinya itu, Lani buru-buru bangkit berdiri. Dengan langkah gontai dan terburu-buru, ia membalikkan badan, meninggalkan rumah Viona, dan langsung meluncur menuju alamat yang baru saja ia kantongi.Di ruang tamu, Viona menghela napas panjang sambil melipat tangan di dada. Ia menatap kepergian Lani seraya menggelengkan kepala keras-keras."Ampun deh, punya saudara kok ya tingkahnya benar-benar di luar nalar," gerutu Viona dengan nada jengkel. "Udah tahu bodoh, gampang dibohongi, malah berani-beraninya menusuk aku
Mendengar nama itu, Viona langsung tertegun di ambang pintu. Ia menoleh ke belakang, mendapati Reno yang sudah berdiri merapikan kemejanya dengan ekspresi tak kalah terkejut. Sepasang pasutri itu saling melempar pandang, heran dan tanda tanya besar.'Lani? Mau apa dia ke sini dan bagaimana perempuan itu bisa tahu alamat rumah ini?' batin Viona bingung.Sebenarnya malas, tapi Viona akhirnya memutuskan untuk melangkah turun ke lantai bawah menemui sang tamu. Begitu menuruni anak tangga terakhir, pandangan Viona langsung menangkap sosok perempuan yang duduk gelisah di ruang tamu.Penampilan Lani jauh dari kata baik. Jauh berbeda dengan kesan rapi yang biasa ia tunjukkan dulu, kini Lani terlihat berantakan, wajahnya pucat, dan lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya.Rasa kesal, kecewa, dan amarah yang sempat terkubur seketika bergolak kembali di dada Viona. Bayangan bagaimana Lani dulu tega berselingkuh di belakangnya dengan Axel berkelebat sekilas. Namun, Viona dengan cepat mena
Axel yang mendengarkan ucapan Mila menarik napas lega, saat menyadari Mila masih mau pasang badan untuk membelanya di depan Dandi.Dandi menatap istrinya dengan tatapan dingin, lalu matanya bergulir memandang Axel yang menunduk kaku. Amarahnya yang meluap-luap perlahan tertahan oleh ratapan Mila, membuat ketegasannya sedikit meluluh walau raut wajahnya tetap sekeras batu.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Dandi melepas cengkeraman tangan Mila di lengannya secara perlahan. Ia tidak membantah, tidak pula mengiyakan pembelaan istrinya. Dengan langkah berat dan aura kelam yang mengusiknya, Dandi memutar badan dan berjalan lurus menuju ruang kerjanya di lantai dasar, masuk dan membanting pintu dengan dentuman kasar.Dandi memilih untuk ngantor dari rumah. Ia mengurung diri di balik meja kerjanya, menatap dokumen-dokumen bisnis di layar laptop tanpa fokus sama sekali. Pikirannya benar-benar kacau, berputar liar antara rasa kecewa mendalam pada Axel, usaha pencarian anak kandungnya, serta
Setelah pembicaraan intens di ruang dokter selesai, mereka akhirnya pamit pada dokter dan memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit. Keheningan yang canggung dan berat menyelimuti saat mereka berjalan menuju kendaraan masing-masing. Axel melangkah lunglai dengan wajah pucat dan pandangan kosong, sementara Mila masih terus terisak disangga oleh Dandi yang menatap lurus ke depan dengan raut tegas.Reno dan Viona berpamitan secara sopan kepada Dandi dan Mila sebelum akhirnya melangkah menuju mobil. Axel masih tidak suci untuk sekedar menyapa. Yang ada malah semakin terbakar api cemburu melihat Viona dan Reno.Sepanjang perjalanan kembali, tangan Viona tak pernah melepaskan genggamannya pada tangan Reno, memberikan kehangatan dan dukungan tanpa perlu banyak kata. Reno menyandarkan sandaran kursinya sedikit, menghela napas panjang untuk melepaskan beban pikiran yang menggelayuti kepalanya.Tak butuh waktu lama, mobil yang membawa mereka akhirnya tiba di area parkir kantor Darmawan. Reno da
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama







