Share

Bab 174

Author: Trya Dhafi
last update publish date: 2026-09-17 23:53:12

Mendengar alamat rumah keluarga Dandi yang disebutkan oleh Viona, Lani langsung mengangguk cepat. Rasa takut dan keputusasaan campur aduk di benaknya, tetapi setidaknya kini ia memiliki secercah petunjuk untuk menemui ayah dari bayi yang dikandungnya.

"Terima kasih, Vi. Terima kasih banyak, Mas," cicit Lani terbata-bata sambil menyeka sisa air matanya.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi dan merasa tidak punya muka untuk berlama-lama berdiri di hadapan saudara yang dulu dikhianatinya itu, Lani
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 174

    Mendengar alamat rumah keluarga Dandi yang disebutkan oleh Viona, Lani langsung mengangguk cepat. Rasa takut dan keputusasaan campur aduk di benaknya, tetapi setidaknya kini ia memiliki secercah petunjuk untuk menemui ayah dari bayi yang dikandungnya."Terima kasih, Vi. Terima kasih banyak, Mas," cicit Lani terbata-bata sambil menyeka sisa air matanya.Tanpa membuang waktu lebih lama lagi dan merasa tidak punya muka untuk berlama-lama berdiri di hadapan saudara yang dulu dikhianatinya itu, Lani buru-buru bangkit berdiri. Dengan langkah gontai dan terburu-buru, ia membalikkan badan, meninggalkan rumah Viona, dan langsung meluncur menuju alamat yang baru saja ia kantongi.Di ruang tamu, Viona menghela napas panjang sambil melipat tangan di dada. Ia menatap kepergian Lani seraya menggelengkan kepala keras-keras."Ampun deh, punya saudara kok ya tingkahnya benar-benar di luar nalar," gerutu Viona dengan nada jengkel. "Udah tahu bodoh, gampang dibohongi, malah berani-beraninya menusuk aku

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 173

    Mendengar nama itu, Viona langsung tertegun di ambang pintu. Ia menoleh ke belakang, mendapati Reno yang sudah berdiri merapikan kemejanya dengan ekspresi tak kalah terkejut. Sepasang pasutri itu saling melempar pandang, heran dan tanda tanya besar.'Lani? Mau apa dia ke sini dan bagaimana perempuan itu bisa tahu alamat rumah ini?' batin Viona bingung.Sebenarnya malas, tapi Viona akhirnya memutuskan untuk melangkah turun ke lantai bawah menemui sang tamu. Begitu menuruni anak tangga terakhir, pandangan Viona langsung menangkap sosok perempuan yang duduk gelisah di ruang tamu.Penampilan Lani jauh dari kata baik. Jauh berbeda dengan kesan rapi yang biasa ia tunjukkan dulu, kini Lani terlihat berantakan, wajahnya pucat, dan lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya.Rasa kesal, kecewa, dan amarah yang sempat terkubur seketika bergolak kembali di dada Viona. Bayangan bagaimana Lani dulu tega berselingkuh di belakangnya dengan Axel berkelebat sekilas. Namun, Viona dengan cepat mena

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 172

    Axel yang mendengarkan ucapan Mila menarik napas lega, saat menyadari Mila masih mau pasang badan untuk membelanya di depan Dandi.Dandi menatap istrinya dengan tatapan dingin, lalu matanya bergulir memandang Axel yang menunduk kaku. Amarahnya yang meluap-luap perlahan tertahan oleh ratapan Mila, membuat ketegasannya sedikit meluluh walau raut wajahnya tetap sekeras batu.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Dandi melepas cengkeraman tangan Mila di lengannya secara perlahan. Ia tidak membantah, tidak pula mengiyakan pembelaan istrinya. Dengan langkah berat dan aura kelam yang mengusiknya, Dandi memutar badan dan berjalan lurus menuju ruang kerjanya di lantai dasar, masuk dan membanting pintu dengan dentuman kasar.Dandi memilih untuk ngantor dari rumah. Ia mengurung diri di balik meja kerjanya, menatap dokumen-dokumen bisnis di layar laptop tanpa fokus sama sekali. Pikirannya benar-benar kacau, berputar liar antara rasa kecewa mendalam pada Axel, usaha pencarian anak kandungnya, serta

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 171

    Setelah pembicaraan intens di ruang dokter selesai, mereka akhirnya pamit pada dokter dan memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit. Keheningan yang canggung dan berat menyelimuti saat mereka berjalan menuju kendaraan masing-masing. Axel melangkah lunglai dengan wajah pucat dan pandangan kosong, sementara Mila masih terus terisak disangga oleh Dandi yang menatap lurus ke depan dengan raut tegas.Reno dan Viona berpamitan secara sopan kepada Dandi dan Mila sebelum akhirnya melangkah menuju mobil. Axel masih tidak suci untuk sekedar menyapa. Yang ada malah semakin terbakar api cemburu melihat Viona dan Reno.Sepanjang perjalanan kembali, tangan Viona tak pernah melepaskan genggamannya pada tangan Reno, memberikan kehangatan dan dukungan tanpa perlu banyak kata. Reno menyandarkan sandaran kursinya sedikit, menghela napas panjang untuk melepaskan beban pikiran yang menggelayuti kepalanya.Tak butuh waktu lama, mobil yang membawa mereka akhirnya tiba di area parkir kantor Darmawan. Reno da

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 170

    "Saya ambil sendiri sekarang," jawab Dandi cepat, tidak sabaran.Dandi segera menghubungi Darmawan untuk meminta Reno dan Viona bersiap menyusul ke rumah sakit. Di saat yang sama, Dandi mengajak Axel yang pasrah dan pucat pasi keluar dari kamar untuk ikut dengannya.Tak butuh waktu lama, dua keluarga itu kembali berkumpul di ruang konsultasi dokter spesialis genetika rumah sakit utama. Suasana di dalam ruangan berpendingin udara itu terasa begitu dingin dan mencekam.Mila duduk menyandar lemas di samping Dandi, memegang erat tas tangannya. Di sisi lain, Reno duduk tenang seraya menggenggam hangat tangan Viona, sementara Axel duduk paling pinggir, menatap amplop cokelat di atas meja dokter dengan napas memburu dan keringat dingin yang mulai membasahi dahi.Dokter tersenyum tipis, membetulkan letak kacamatanya seraya memegang amplop cokelat berstempel kerahasiaan medis tersebut."Baik, Pak Dandi, Pak Reynald, dan semuanya," buka sang dokter dengan nada tenang namun berwibawa. "Saya rasa

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 169

    Setelah meluapkan kemurkaannya, Dandi memutar badan dan melangkah naik ke kamarnya tanpa memedulikan tangisan histeris Mila maupun tatapan hancur Axel yang merasa dunianya benar-benar telah berakhir.Axel terpekur di lantai dingin, meratapi kata-kata Dandi yang menghantam mentalnya jauh lebih menyakitkan daripada pukulan para pengawal di klub malam semalam. Rasa perih di wajahnya tak ada apa-apanya dibandingkan kehancuran total atas harga diri dan masa depannya.Mila merengkuh tubuh Axel yang bergetar hebat, terisak-isak sembari mengusap darah di sudut bibir anaknya. "Sudah, Nak. Sudah... Kamu naik ke kamar dulu, Mama obati luka-lukamu."Dengan sisa tenaga yang ada, Axel memaksakan diri berdiri dituntun oleh Mila. Setiap jengkal langkah menuju kamarnya terasa begitu berat. Bayangan esok hari saat amplop hasil tes DNA dibuka dan kebenaran mengeksekusi nasibnya, kini menjadi monster menakutkan yang tak lagi bisa ia hindari.***Reno melangkah percaya diri menyusuri koridor lantai kantor

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 6

    Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 5

    Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 4

    Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 3

    Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status