LOGINSementara itu, di kediaman keluarga Dandi yang atmosfernya jauh dari kata hangat, suasana pagi ini justru terasa sangat mencekam. Axel duduk di kamarnya dengan wajah kusut dan rahang mengeras. Bayangan ancaman dari sang ayah kemarin, masih terngiang jelas di kepalanya. Dandi tidak memberi ruang bagi Axel untuk membantah atau mencari-cari alasan lagi."Pilih kamu nikahi Lani secepatnya untuk menutupi semua skandal ini, atau kamu angkat kaki dari rumah dan fasilitasmu dicabut sekarang juga!" begitu ultimatum Dandi yang mutlak. Tanpa daya, Axel terpaksa harus menelan ludah dan menerima perintah sang ayah, meskipun hatinya berontak hebat. Dandi juga menegaskan bahwa seluruh biaya pernikahan kilat itu akan ditanggung penuh olehnya demi menjaga nama baik keluarga.Ternyata urusannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Meskipun Axel sudah membawa-bawa titah sang ayah dan menyatakan kesiapannya untuk bertanggung jawab, Lani tidak langsung setuju. Mengingat perdebatan sengit yang terjad
Pemikiran penuh kalkulasi yang mendadak muncul di benak Rima, tiba-tiba Darmawan berdehem pelan. Pria paruh baya itu menatap penuh harap ke arah Viona dan Reno."Sudahlah, kalau memang ada tanda-tanda begitu, tidak ada salahnya untuk langsung dipastikan," ucap Darmawan dengan senyum yang menghiasi wajahnya. "Reno, nanti sepulang kerja atau sore ini, antar Viona ke dokter kandungan terpercaya. Biar semuanya jelas. Kalau memang benar positif, ini adalah berkat luar biasa untuk keluarga kita."Reno langsung mengangguk patuh dengan binar mata antusias. "Baik, Pa. Nanti saya pastikan Viona langsung periksa ke dokter."Mendengar titah sang ayah yang begitu antusias menyuruh mereka langsung pergi ke dokter kandungan, Viona buru-buru melambaikan tangan menolak."Eh, nggak usah terburu-buru begitu, Pa. Malu nanti kalau ternyata gejalanya cuma masuk angin biasa, tapi kita langsung heboh datang ke dokter kandungan. Mending dipastikan dulu pakai test pack di rumah."Darmawan terkekeh pelan menden
Keesokan paginya, suasana ruang makan di kediaman Darmawan terasa hangat. Aroma kopi hitam dan roti panggang menguar di udara. Darmawan duduk di ujung meja, menikmati sarapannya bersama seluruh anggota keluarga. Di sana tampak Rima dan Vera yang duduk di sisi seberang, sementara Reno dan Viona yang bari datang duduk berdampingan.Sembari menyesap kopinya, Darmawan menatap menantunya dengan pandangan yang dalam. Ada secercah rasa penasaran sekaligus empati yang tersimpan di balik mata pria paruh baya itu."Reno," panggil Darmawan lembut, memecah keheningan pagi. "Papa mau tanya. Selama semua rahasia masa lalu terbongkar ini, apa tidak ada sedikit pun keinginan di dalam hatimu untuk mencari siapa orang tua kandungmu yang sebenarnya?"Reno tertegun sejenak. Ia meletakkan garpu di piring kecilnya, lalu tersenyum tipis, senyum yang menyiratkan ketulusan sekaligus kedewasaan yang luar biasa."Jujur, Pak. Kalau dibilang penasaran, mungkin ada sedikit di awal-awal. Tapi sekarang, saya sudah s
Axel panik, sementara kakinya seolah terpaku di anak tangga. Ia sempat berharap panggilan Dandi sore ini adalah kesempatan baginya untuk mengambil hati sang ayah kembali, tapi kehadiran Lani di ruang tamu justru menjadi bom waktu yang siap menghancurkan sisa-sisa pertahanannya.Dandi berdiri perlahan dari sofa, menatap Axel dengan tatapan jijik dan amarah yang sudah di ubun-ubun."Jadi... ini kelakuan bejat yang kamu sembunyikan di belakang kami?" suara Dandi menggelegar di dalam ruangan yang mendadak terasa sesak. Pria paruh baya itu menunjuk ke arah Lani yang berdiri tertunduk gemetar. "Kabur di hari pernikahan yang kamu rencanakan sendiri tanpa bilang orang tua. Menghamili anak orang, lalu lari dari tanggung jawab dan memblokir kontaknya? Hebat sekali didikan yang saya berikan pada kamu selama ini, Axel!"Mila yang duduk di sebelah Dandi menutup wajahnya dengan kedua tangan, terisak pelan karena menahan malu dan kecewa yang amat sangat. "Axel, kenapa kamu tega berbuat seperti ini?
Mendengar alamat rumah keluarga Dandi yang disebutkan oleh Viona, Lani langsung mengangguk cepat. Rasa takut dan keputusasaan campur aduk di benaknya, tetapi setidaknya kini ia memiliki secercah petunjuk untuk menemui ayah dari bayi yang dikandungnya."Terima kasih, Vi. Terima kasih banyak, Mas," cicit Lani terbata-bata sambil menyeka sisa air matanya.Tanpa membuang waktu lebih lama lagi dan merasa tidak punya muka untuk berlama-lama berdiri di hadapan saudara yang dulu dikhianatinya itu, Lani buru-buru bangkit berdiri. Dengan langkah gontai dan terburu-buru, ia membalikkan badan, meninggalkan rumah Viona, dan langsung meluncur menuju alamat yang baru saja ia kantongi.Di ruang tamu, Viona menghela napas panjang sambil melipat tangan di dada. Ia menatap kepergian Lani seraya menggelengkan kepala keras-keras."Ampun deh, punya saudara kok ya tingkahnya benar-benar di luar nalar," gerutu Viona dengan nada jengkel. "Udah tahu bodoh, gampang dibohongi, malah berani-beraninya menusuk aku
Mendengar nama itu, Viona langsung tertegun di ambang pintu. Ia menoleh ke belakang, mendapati Reno yang sudah berdiri merapikan kemejanya dengan ekspresi tak kalah terkejut. Sepasang pasutri itu saling melempar pandang, heran dan tanda tanya besar.'Lani? Mau apa dia ke sini dan bagaimana perempuan itu bisa tahu alamat rumah ini?' batin Viona bingung.Sebenarnya malas, tapi Viona akhirnya memutuskan untuk melangkah turun ke lantai bawah menemui sang tamu. Begitu menuruni anak tangga terakhir, pandangan Viona langsung menangkap sosok perempuan yang duduk gelisah di ruang tamu.Penampilan Lani jauh dari kata baik. Jauh berbeda dengan kesan rapi yang biasa ia tunjukkan dulu, kini Lani terlihat berantakan, wajahnya pucat, dan lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya.Rasa kesal, kecewa, dan amarah yang sempat terkubur seketika bergolak kembali di dada Viona. Bayangan bagaimana Lani dulu tega berselingkuh di belakangnya dengan Axel berkelebat sekilas. Namun, Viona dengan cepat mena
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je







