ログインBastian menghentikan langkah besarnya tepat di tengah koridor lantai dua yang menghadap langsung ke arah halaman utama istana.Goncangan hebat kembali menghantam dinding batu di sekeliling kami, menjatuhkan debu-debu tebal dari langit-langit ke atas lantai kayu."Sial, gerbang utama bagian dalam sudah jebol sepenuhnya!" bentak Bastian dengan napas yang memburu kasar.Dia menurunkan tubuh polosku dengan terburu-buru di balik dinding marmer yang tebal, lalu mencengkeram pagar balkon besi dengan sangat kuat."Aku sudah memperingatkanmu untuk segera bergerak ke sayap bawah tanah, Bastian," sahut sebuah suara datar dari arah belakang kami.Julian berjalan mendekat dengan seragam militer Bloodmoon yang masih rapi, meskipun matanya berkilat penuh ketegangan taktis yang sangat tajam."Tutup mulutmu yang sok pintar itu, Julian!" teriakampb Bastian tanpa menoleh sedikit pun ke arah saudaranya."Pintu masuk sudah dijebol, ke mana lagi kita harus membawa Omega ini?" tanyaku dengan geraman marah y
Pintu kamarku hancur didera sekali hantaman keras hingga serpihan kayunya berserakan di atas lantai kayu yang dingin.Aku tersentak di atas tempat tidur, mendekap bantal milik Xavier untuk menutupi dadaku yang polos tanpa sehelai kain pun.Bastian berdiri di ambang pintu dengan napas memburu yang terdengar sangat kasar.Tubuhnya yang tegap dipenuhi oleh jelaga hitam dan noda darah segar musuh yang mengering.Mata emasnya yang biasanya berkilau kini menggelap sepenuhnya bagai lautan malam tanpa bintang."Bastian..." bisikku dengan suara serak yang bergetar hebat menahan sisa rasa sakit sebelumnya.Dia tidak menjawab, melainkan melangkah masuk ke dalam kamar yang gelap dengan langkah kaki yang sengaja ditekankan berat.Hidungnya kembang kempis, menghirup udara dingin kamar yang dipenuhi aroma vanila manis milikku yang mendadak meledak ekstrem."Kau basah saat istanaku diserang, Alana?" tanya Bastian dengan suara berat yang serak dan dipenuhi gairah gelap."Tubuhmu merindukan sentuhan Al
"Argh! Dadaku... kenapa dadaku terasa sangat sakit bagai dihantam palu godam membara?" teriakku sambil memegang dada kiriku yang berdenyut kencang.Rasa sakit itu terasa sangat nyata, seolah-olah ikatan batin kami sedang dipaksa robek dari kejauhan."Rasa perih ini... kenapa perihnya menjalar begitu cepat hingga ke tulang punggungku?!" lanjutku sambil merintih menahan rasa sakit yang luar biasa."Aku tidak bisa bernapas... udara di kamar ini rasanya sangat menyesakkan!" gumamku sambil tersungkur di atas lantai kayu yang dingin."Pintu ini... kenapa pintu ini harus terkunci rapat di saat seperti ini?!" teriakku sambil menatap pintu kayu kamarku dengan pandangan kabur."Buka pintunya!" teriakku sekuat tenaga sambil memukul pintu dengan kedua tanganku yang gemetar hebat."Buka sekarang juga! Xavier terluka parah di perbatasan sana!" lanjutku dengan suara melengking panik."Diam di dalam, Omega!" sahut suara berat pengawal pribadi Freya dari balik pintu besi koridor luar."Jangan mencoba
Kuku panjang Freya mencengkeram rahangku dengan sangat kuat. Dia memaksaku menatap dokumen medis di tangannya."Lihat ini, pelacur sialan!" Freya mendesis tepat di depan wajahku.Napasnya yang berat terasa panas di kulitku. Dia mengayunkan lembaran kertas itu tepat di depan mataku."Kau pikir bisa menyembunyikan kehamilan ini dariku?" Freya menatapku dengan mata yang menyala penuh kebencian.Aku mencoba memalingkan wajah, namun cengkeraman jarinya semakin menekan pipiku. Rasa sakit menjalar ke seluruh kepalaku."Lepaskan aku, Freya!" desisku dingin sembari berusaha menyentak tangannya."Lepaskan?" Freya tertawa sinis, suara tawanya melengking di kamar mandi yang sempit ini.Dia mengangkat sebuah alat tes kehamilan berwarna perak di tangan lainnya. "Dua garis merah yang sangat jelas," ucap Freya mengejek."Ini bukan urusanmu, kembalikan itu!" sahutku dingin sembari meraba saku gaun tidurku."Bukan urusanku?" Freya mendekatkan wajahnya lagi."Kau hamil di istana tunanganku, dan kau bila
Rasa mual yang masif mendadak menghantam otot lambungku. Aku membungkuk di depan wastafel marmer kamar mandi istana sayap barat. Cairan asam pahit meluncur keluar, membakar dinding tenggorokanku sejak fajar menyingsing.Tubuhku bergetar lemas. Aku bertumpu sepenuhnya pada tepian wastafel dengan napas tersengal pendek. Satu minggu telah berlalu sejak kami kembali dari isolasi kabin, namun fisiologi tubuhku kian memburuk.Suara ketukan buku jari di pintu kamar mandi mendadak terdengar teratur dari arah kamar tidur luar."Asam lambungmu kembali naik pagi ini, Alana?" tanya Julian dari balik pintu yang kukunci rapat."Menyingkir dari sana, Julian. Aku menuntut ruang privat di dalam sini," sahutku dengan suara serak yang sengaja kubuat sedingin es."Siklus muntahmu sudah memasuki hari ketiga tanpa indikasi patologis yang jelas," balas Julian dengan nada suara klinis yang menekan."Aku mengalami intoleransi akibat hidangan daging istana yang terlalu berlemak kemarin malam," jawabku menyalak
Sore yang membekukan menyelimuti kabin kayu. Kabut salju tebal di luar jendela seolah menembus hingga ke tulang belikatku. Aku duduk menekuk lutut di atas lantai kayu, menatap nyala api perapian yang menari redup di sudut ruangan.Suara langkah kaki yang presisi terdengar mendekat dari arah belakang. Pelakunya tidak memiliki intensi menyembunyikan kehadirannya. Aroma antiseptik medis dan feromon peppermint dingin memastikan bahwa itu adalah Julian.Julian duduk bersila di sebelahku di atas lantai kayu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Matanya yang keemasan menatap bara api merah yang menyala-nyala di dalam tumpukan pinus."Bastian menduduki hierarki putra kesayangan Ayah karena kekuatan otot dan amarahnya yang identik dengan serigala liar," ucap Julian membelah kesunyian.Nada suaranya terdengar sangat datar dan analitis. Namun, ada getaran tipis yang meretakkan ketenangannya. Aku tidak memutar wajah untuk menatapnya. Aku memaku pandanganku pada jilatan api dengan ekspresi sedingin
Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanit
Lumpur merendam kakiku. Bekas cambukan besi di punggungku robek kembali akibat hujan.Kakiku kebas. Darah merembes membasahi tanah basah di perbatasan hutan."Aku harus bertahan," desisku pelan.Hujan deras menghantam punggungku yang terluka parah. Sisa gaun malamku hancur.Raja Buangan tidak boleh
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k







