LOGINBunyi debuk keras terdengar saat tubuh polosku diangkat secara paksa dari lantai yang kotor. Punggung polosku langsung bersentuhan dengan permukaan meja besi brankas yang sedingin balok es yang membakar kulit punggungku."Julian, aku mohon hentikan mereka!" jeritku dengan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipiku. "Jangan biarkan mereka memperlakukanku seperti binatang di tempat sempit yang kotor ini!"Julian tidak menjawab jeritan keputusasaanku, melainkan melangkah maju dan berlutut di dekat kepalaku. Kedua tangan besarnya yang sedingin es langsung mencengkeram kedua bahuku erat-erat ke permukaan meja besi."Ini demi keselamatan anakmu sendiri, Alana, jadi berhentilah memberontak," bisik Julian dingin tepat di depan wajahku. "Setiap detik sisa feromon paman Valerius menempel di kelenjar lehermu, kestabilan hormon kehamilanmu akan terus rusak."Bastian meluncurkan tawa rendah dalam kegelapan murni, sebuah tawa penuh kemenangan teritorial yang sangat kejam. Dia mencengkeram
Bunyi klik berat terdengar saat kunci manual pintu bunker berputar, mengunci kami berempat dalam kegelapan total yang pekat. Keheningan murni langsung menyergap, memutus seluruh kebisingan perang dan teriakan pasukan Serigala Liar di luar sana."Julian, aku tidak bisa bernapas," rintihku didera rasa nyeri yang melumpuhkan di dada. "Udara di sini terlalu sempit dan lembap, kepalaku juga sangat pening.""Diamlah dan jangan banyak bergerak, Alana," sahut Julian dari kegelapan yang berada tepat di depan wajahku. "Kita harus menghemat sisa oksigen yang ada di dalam brankas besi ini."Aku bisa merasakan dinding besi yang sedingin es menekan punggung polosku saat mencoba mencari sandaran. Namun, ukuran ruangan ini hanya seluas empat meter persegi, membuat tubuh kami saling menempel erat tanpa jarak."Bagaimana kondisi ayah?" tanya Bastian dengan suara berat yang terdengar sangat dekat di sebelah kiriku. "Apakah racun Wolfsbane itu masih bekerja aktif di dalam pembuluh darahmu, Ayah?""Seriga
Julian melepaskan bekapan tangannya dari bibirku tepat saat suara dentuman keras kembali mengguncang seluruh koridor bawah tanah. Aku terengah-engah mencari oksigen di sela kegelapan lorong darurat yang sempit ini."Kita harus lebih cepat, Alana," ucap Julian sambil menyeret tubuh lemasku menuruni anak tangga batu. "Mereka sudah berhasil menjebol dinding pertahanan sayap barat.""Tapi Xavier... bagaimana dengan dia, Julian?" tanyaku dengan suara serak yang bergetar hebat. "Dia terluka parah di bawah sana akibat pertarungan itu.""Ayah adalah seorang Alpha Tertinggi, dia tidak akan mati semudah itu," balas Julian dengan nada suara yang sangat dingin. "Tugas utamaku sekarang adalah mengamankanmu di brankas baja."Tiba-tiba, suara parau yang sangat menggelegar terdengar menembus celah ventilasi udara di atas kami. Itu adalah suara Valerius yang berteriak dari arah ruang tahta utama."Xavier! Serahkan klon Elena-ku sekarang, atau aku akan menguliti seluruh putramu di depan matamu!" teriak
Aku masih mencengkeram pagar balkon dengan jari-jariku yang memutih pekat. Di bawah halaman sana, Valerius tertawa melihat keguncangan mental yang menyerang Xavier."Kau pikir bisa menghapus keberadaanku dari sejarah kawanan ini, Xavier?" tanya Valerius dengan nada mengejek. Dia menarik lengan jubah kirinya yang robek hingga menampilkan kulit lengannya yang kokoh.Di bawah siraman cahaya bulan, sebuah tato perak berbentuk serigala melolong terlihat jelas di sana. Namun, di atas tato lambang keluarga Bloodmoon itu, terdapat bekas luka bakar hitam berbentuk tanda silang yang sangat besar."Tato pewaris utama..." bisik Xavier dengan suara yang mendadak kehilangan kekuatannya. "Bagaimana mungkin tato itu masih ada di tubuhmu?" tanya sang Alpha Tertinggi dengan napas tertahan."Tanda ini tidak akan pernah hilang, Xavier!" teriak Valerius dengan mata merahnya yang berkilat penuh dendam. "Kau dan dewan kawanan kotor itu menyiksaku dan mencoret lambang ini dengan besi membara!" lanjutnya deng
Kepingan-kepingan topeng perak yang hancur masih berjatuhan di atas lantai marmer halaman utama istana dengan suara dentingan logam yang sunyi. Aku mencengkeram pagar balkon sangat kuat hingga kuku-kukuku memutih pekat, menatap wajah pria di bawah sana yang kini terekspos sepenuhnya di bawah sinar rembulan."Tidak mungkin..." bisikku dengan mata amber keemasanku yang terbelalak lebar didera syok yang luar biasa besar. "Dia... dia memiliki garis wajah yang sangat mirip dengan Xavier," gumamku dengan tubuh yang bergetar hebat di dalam dekapan Julian yang sedingin es. "Kenapa mereka sangat identik bagai kembaran takdir?"Di bawah halaman sana, Xavier melangkah mundur beberapa langkah dengan napas yang memburu kasar. Luka di dadanya yang terus menyemburkan darah seolah terlupakan begitu saja oleh guncangan mental yang dahsyat."Valerius..." desis Xavier dengan suara parau yang berbau besi darah pekat. "Bagaimana bisa kau masih hidup setelah delapan belas tahun?!""Apakah kau begitu terkej
Julian masih membekap mulutku dengan sangat erat di balik pilar marmer yang gelap. Aroma peppermint dari tubuhnya mencoba menekan kepanikan gila yang terus meledak dari rahimku."Lepaskan Alana, Julian!" bisik Bastian dengan geraman rendah yang sangat berbahaya. Mata emasnya berkilat menatap tangan saudaranya yang masih berada di sela paha bagian dalamku."Tutup mulutmu dan lihat ke bawah," balas Julian tanpa mengalihkan pandangannya dari halaman istana. "Ayah sudah tiba di garis depan."Suara raungan serigala yang sangat dahsyat mendadak mengguncang seluruh koridor lantai dua. Sesosok serigala hitam raksasa melompat dari atap sayap barat, mendarat dengan keras di tengah halaman marmer yang licin oleh darah."Xavier..." bisikku dalam hati dengan dada yang mendadak terasa sangat sesak dan nyeri. Aku bisa merasakan rasa sakit dari ikatan batin kami yang robek kini kembali berdenyut sangat hebat.Pria bertopeng tengkorak perak di bawah sana tertawa lebar melihat kedatangan musuhnya. "Akh
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k
"Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A
Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"







