LOGINKedua tangan Dinda kini melingkar erat di leher kekar Bayu, menarik kepala pemuda itu agar semakin merunduk ke arah wajahnya. "Kak Selin itu sudah berumur, kaku, dan sekarang tubuhnya bakal melar karena mengaku-ngaku hamil anakmu!" hasut Dinda tanpa ampun merendahkan sang kakak tiri. "Kamu yakin sanggup bertahan melayani wanita manja yang temperamental seperti Kak Selin seumur hidupmu?" Bayu menatap tajam ke dalam manik mata Dinda yang berkilat licik di bawah temaram lampu lorong. "Nyonya Selin adalah wanita paling terhormat yang mengangkat derajat keluarga saya dari kemiskinan," tegas Bayu dengan suara dingin yang menusuk. Dinda tertawa meremehkan seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Uang Kak Selin bisa kuberikan dua kali lipat kepadamu, Mas!" bisik Dinda seraya merapatkan selangkangannya ke tubuh Bayu. "Jadilah milikku malam ini... tinggalkan sandiwara kehamilan konyol Kak Selin itu dan bersenang-senanglah bersamaku di lantai atas." Jari-jemari Dinda mulai meraba
Bayu mengepalkan tinjunya di atas meja jati hingga serat kayu tebal itu berderak pelan mengeluarkan bunyi retakan halus. "Tangan kuli saya tidak akan segan-segan menyeret kalian keluar dari gedung ini tanpa membawa sepeser pun saham perusahaan." Nyali Paman Tirta dan Bibi Widya seketika menciut menyaksikan sorot mata buas dan tenaga alami pemuda desa di hadapan mereka. Dinda menelan ludah dengan susah payah merasakan debaran kencang di dadanya saat melihat kegagahan Bayu yang begitu protektif melindungi wanita pujaan hatinya. 'Tuhan... cowok ini benar-benar jantan dan berbahaya, aku harus bisa merebutnya dari tangan Kak Selin bagaimana pun caranya,' desir batin Dinda kian terobsesi. Nyonya Selin menyentuh pelan pundak kokoh Bayu, memberi isyarat bahwa kendali tetap berada di tangannya. Wanita pemimpin perusahaan itu merogoh tas tangannya, lalu mengeluarkan sebuah map putih berlogo laboratorium rumah sakit internasional kota. Map berisi hasil tes darah kehamilan dan ultra
Lampu gantung kristal di ruang pertemuan utama mansion keluarga besar Wijaya memantulkan kilau kemewahan yang dingin dan kaku. Meja panjang berbahan kayu jati solid itu dikelilingi oleh para tetua keluarga, paman, bibi, dan para pemegang saham trah Wijaya yang duduk dengan dagu terangkat pongah. Nyonya Selin berdiri tegak di ujung meja mengenakan gaun terusan beludru hitam berkelas, memancarkan pesona ratu bisnis yang pantang tunduk. Tepat di sebelah kanannya, Bayu berdiri tegap mengenakan kemeja hitam pas badan yang mencetak jelas ketebalan dada bidang dan pundak kekarnya. "Aku mengumpulkan kalian semua malam ini bukan untuk meminta pertimbangan kosong," buka Nyonya Selin dengan suara lantang yang menggetarkan seisi ruangan besar itu. "Minggu depan, aku akan menggelar pernikahan resmi dengan pria di sebelahku ini, Bayu Wardana." BRAAAK! Gebrak meja yang teramat keras dari Paman Tirta seketika membuat cangkir-cangkir porselen di atas meja berdenting liar. "Kamu sudah
"Selama bertahun-tahun menikah denganku, rahimmu itu selalu kering kerontang dan mandul!" cerca Bram tanpa tahu malu membuka aib masa lalu. "Sekarang, baru hitungan minggu kita resmi bercerai, kamu mendadak mual-mual muntah layaknya perempuan hamil muda!" Urat leher Bram menonjol tegang saat melontarkan tuduhan paling keji di hadapan mereka berdua. "Ternyata dugaanku selama ini benar seratus persen!" bentak Bram dengan mata melotot merah. "Perempuan sok suci yang setiap hari menuduhku tidur bersama Lastri di hotel... ternyata kamulah dalang perselingkuhan yang sebenarnya!" tuding Bram seraya mendengus geram. "Kamu sudah main gila dan tidur bersama sopir miskin ini di belakang punggungku jauh sebelum kita bercerai, kan?!" Dada Bayu bergemuruh panas mendengar majikan cantiknya kembali diinjak-injak dengan tuduhan kotor. Bayu melangkah maju satu tapak besar, mengunci pandangan Bram dengan tatapan mata elang yang sanggup meremukkan nyali musuh. "Tarik kembali fitnah busukmu
Layar ponsel pintar itu menyala terang benderang, menampilkan nama "Kapolres Kota" yang sedang melakukan panggilan darurat. Bayu lekas menegakkan punggungnya seraya menatap majikannya dengan firasat cemas yang mendadak muncul di dada. Nyonya Selin menggeser tombol hijau, lalu menempelkan benda itu ke daun telinganya. "Halo, selamat malam, Pak Kapolres?" sapa Nyonya Selin dengan intonasi formal. "Selamat malam, Nyonya Selin. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda selarut ini," suara tegas sang perwira polisi terdengar terburu-buru dari seberang sambungan. "Ada perkembangan darurat apa mengenai kasus tambang pasir ilegal Dewa dan penangkapan Bram, Pak?" tanya Nyonya Selin dengan kening bertaut rapat. "Bram baru saja melarikan diri dari ruang interogasi kantor polisi sebelum sempat dimasukkan ke sel tahanan, Nyonya!" lapor sang Kapolres dengan nada tegang. Darah Nyonya Selin seketika berdesir dingin mendengar kabar mengejutkan tersebut. "Bagaimana bisa seorang tahanan kasus
Serat beludru Persia yang tebal di bawah punggung Nyonya Selin memberikan sensasi hangat yang sangat kontras dengan dinginnya lantai marmer kamar. Rambut hitam panjang milik sang ratu korporat terurai bebas menutupi corak karpet abu-abu, membingkai wajah cantiknya yang merona merah menahan gejolak rasa. Bayu menopang tubuh kekarnya dengan kedua tangan kokoh di sisi kepala majikannya, menatap lurus ke dalam sepasang manik mata cokelat keemasan yang menatapnya penuh kepasrahan. "Nyonya Selin yakin mau melanjutkan ini di lantai?" tanya Bayu dengan suara bariton yang serak dan sengaja dipelankan. Nyonya Selin tersenyum tipis seraya mengalungkan kedua lengannya yang wangi di leher tegap sang sopir. "Lantai ini membuatku merasa membumi, Bay... membuatku sadar bahwa kemewahan ranjang empuk itu selama ini cuma sangkar emas yang menyiksaku," bisik Nyonya Selin dengan nada suara bergetar rapuh. Jari-jemari lentik berbalut kuteks merah menyala milik sang majikan bergerak menyusuri
Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas.""B-baik, Nyonya.""Dan kamu, Bayu...."Tatapan Nyonya S
Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon
“Ikuti saja perintahku dan jangan membantah! Untuk bayarannya, akan kuberi tambahan bonus, khusus dari aku. Paham?” Nyonya Selin berbisik pelan, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu.“Si-siap, Nyonya, saya siap melakukan apapun demi kebaikan Nyonya.”Nyonya Selin akhirnya bernapas lega, yang k
"Sayang, satu kali lagi, dong. Please, Sayang. Aku belum puas nihh...."Suara rengekan Nyonya Selin, istri bos tempat Bayu bekerja, tak sengaja didengar oleh Bayu yang siap menjemput sang bos untuk berangkat kerja. Dia baru seminggu bekerja di sini, karena membutuhkan biaya untuk sekolah adiknya di







