"Sudah," jawab Selin singkat, mempertahankan nada dinginnya. Ia masuk ke dalam jok kulit belakang. Bayu menutup pintu. Ia tidak mengendus. Ia tidak menatap dengan curiga. Supir itu memutar tubuhnya, masuk ke kursi kemudi, lalu menyalakan mesin V8 mobil tersebut. "Udah baikan badannya habis dipijat, Nyonya?" tanya Bayu santai sambil memutar setir, matanya melirik sekilas ke kaca spion tengah. Tatapan itu tatapan posesif yang biasa, bukan tatapan iblis yang sedang marah. "Lumayan. Bahuku udah nggak sekaku kemarin," jawab Selin lancar, bersandar ke jok dengan jantung yang berangsur-angsur normal. "Syukurlah. Mau langsung pulang ke penthouse atau balik ke kantor?" "Ke penthouse, Bayu. Aku mau istirahat." "Baik, Nyonya." SUV itu melaju meninggalkan basement. Di kursi belakang, Selin menghela napas panjang tanpa suara. Tangannya yang sempat gemetar kini bertaut di atas pangkuannya. Ia berhasil. Laki-laki dari kampung ini, betapa pun berbahayanya di atas ranjang, tetaplah seo
Leer más