LOGINDentuman keras mendadak mengguncang pintu besi akses darurat garasi sebelum Bayu sempat meraih telepon darurat. Daun pintu itu terpelanting terbuka lebar, menampakkan sosok Bram yang melangkah masuk dengan setelan jas kusut dan mata menyala merah. Dua orang pria berbadan kekar dengan tato di lengan kanan menyusul di belakang Bram, masing-masing menggenggam sebilah belati panjang. "Selin! Buka pintunya!" raung Bram seraya menghantam kap mobil sedan mewah itu menggunakan gagang senjata tajam. "Serahkan kunci brankas pribadi dan surat kepemilikan tanah pabrik sekarang juga kalau kamu masih mau bernapas!" Nyonya Selin melipat tangannya di depan dada, menatap sosok mantan suaminya dari balik kaca mobil dengan sorot mata penuh rasa jijik. "Pria kerempeng itu benar-benar tidak pernah belajar dari kekalahan masa lalunya," gumam Nyonya Selin dingin tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut. Bayu menarik tuas pembuka pintu kemudi secara perlahan, lalu melangkah turun menghadang k
Hawa sejuk dari kisi-kisi pendingin udara mobil perlahan menyejukkan peluh hangat yang membasahi dahi Nyonya Selin. Napas sang ratu korporat berangsur teratur seraya membenamkan wajah cantiknya di dada bidang Bayu yang kokoh. Keheningan yang damai kini melingkupi kabin mobil bertirai kaca gelap tersebut. "Tenagamu benar-benar luar biasa, Bay..." bisik Nyonya Selin dengan suara serak yang sarat akan rasa puas dan kepasrahan mendalam. Jemari lentik sang majikan bergerak perlahan menelusuri otot perut pemuda desa itu yang masih terasa hangat. Bayu menyunggingkan senyuman tipis seraya mengecup puncak kepala wanita bangsawan dalam dekapannya. "Saya hanya menjalankan tugas melayani ratu saya sampai rasa gundah di hatinya hilang tak berbekas, Nyonya." Kekehan renyah mengalun dari bibir ranum Nyonya Selin yang masih sedikit basah. "Kamu selalu tahu bagaimana cara meruntuhkan seluruh gengsiku sebagai wanita karier," ucap Nyonya Selin seraya mendongakkan dagunya. Sepasang ma
Tuntutan liar itu seketika membuat jakun Bayu bergerak naik turun menelan ludah dengan tenggorokan kering. Sentuhan paha mulus Dinda yang bergesek di celana kerjanya membuat Si Gatot di balik ritsleting mendadak berkedut kaku menantang batas. 'Aduh biyung, anak gundik ini benar-benar kesetanan minta dijamah di tempat umum!' rintih batin Bayu seraya menahan laju darah lelakinya yang mendidih. "Lepaskan tangan Anda, Nona Dinda! Jangan membuat saya bersikap kasar kepada perempuan!" gertak Bayu seraya mencengkeram kedua pergelangan tangan Dinda. Bukannya takut, Dinda justru membiarkan tangannya dicengkeram seraya sengaja membusungkan dadanya ke arah wajah sang pemuda. "Tampar aku kalau berani, Mas! Cabik gaun tipisku ini sekarang juga!" tantang Dinda dengan suara serak yang memancing birahi liar. "Sentuh aku sepuasmu sampai aku lemas di atas kap mobil ini!" Dinda memejamkan mata seraya mendesahkan napas panas beraroma vanila tepat di leher jenjang Bayu. "Tubuhku jauh lebih
Bayu tidak membuang waktu sedetik pun dan langsung menempelkan bibirnya di atas bibir ranum sang majikan. Pagutan bibir yang basah dan panas seketika meledak di tengah temaram kamar utama. Nyonya Selin melenguh panjang seraya meremas helaian rambut pendek sang sopir, menyambut hisapan liar pemuda desa yang menuntut kepasrahan mutlak. Telapak tangan kekar Bayu meluncur turun meraba pinggang ramping majikannya, lalu meremas lembut sisi luar pinggulnya dengan ritme yang memabukkan. "Ahhh... Bayuuu... sentuhanmu luar biasa nikmat..." desah Nyonya Selin di sela-sela ciuman mereka yang semakin dalam. Bayu menurunkan lumatan bibirnya menyusuri perpotongan leher jenjang sang nyonya, memberikan kecupan hangat dan gigitan manja yang membakar aliran darah. Kaki jenjang Nyonya Selin melingkar erat di pinggang kokoh Bayu, menarik tubuh kekar sang pemuda agar semakin tenggelam menekan tubuh moleknya. Gesekan kain dan sentuhan kulit yang basah oleh keringat halus menciptakan melodi gai
Pintu ganda kamar tidur utama berderit pelan saat Bayu memutar anak kunci kuningan hingga berbunyi klik dua kali. Suasana hening seketika menelan segala hiruk-pikuk ancaman Dinda dan intrik keluarga besar Wijaya di luar sana. Nyonya Selin menjatuhkan tas jinjingnya ke atas meja rias, lalu melepaskan sepasang sepatu hak tinggi dengan gerakan lunglai. Blazer hitam berkelas yang membungkus tubuhnya perlahan ditanggalkan, menyisakan gaun tidur sutra merah marun bertali tipis yang membalut lekuk tubuh sintal menyerupai gitar spanyol. Aroma wangi parfum stroberi yang pekat bercampur kehangatan tubuhnya seketika meruap, memenuhi seisi ruangan berpendingin udara. Wanita anggun itu duduk di tepi ranjang king size, menundukkan kepala seraya memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. "Pundakku rasanya berat sekali, Bayu... seluruh sendi tubuhku terasa kaku menahan amarah sejak dari rumah sakit tadi," keluh Nyonya Selin dengan nada suara serak nan rapuh. Bayu melangkah mendekat deng
"Bagaimana kamu bisa berada di lantai khusus ini?!" semprot Nyonya Selin dengan amarah yang seketika mendidih kembali. Dinda tertawa melengking seraya melangkah mendekat dengan dentingan hak tinggi yang arogan. "Uang seratus juta bisa membeli mulut perawat laboratorium mana pun untuk membocorkan hasil tes darahmu, Kak Selin!" seringai Dinda seraya mengibaskan kertas laporan tersebut ke depan wajah sang kakak tiri. "Ternyata dugaanku dan para tetua keluarga tempo hari tepat seratus persen!" Dinda menatap Nyonya Selin dengan tatapan meremehkan yang membakar ulu hati. "Kamu cuma janda mandul yang pura-pura bunting demi menjerat brondong desa dan mengamankan kursi direksi!" caci Dinda tanpa belas kasihan. Rahang Bayu mengeras kaku mendengar hinaan kotor itu dilontarkan kembali kepada wanita yang dipujanya. Bayu melangkah maju satu tapak besar, menempatkan tubuh tegapnya menghadang langkah sang adik tiri. "Tutup mulut berbisa Nona sekarang juga sebelum saya menyeret Anda
“Ikuti saja perintahku dan jangan membantah! Untuk bayarannya, akan kuberi tambahan bonus, khusus dari aku. Paham?” Nyonya Selin berbisik pelan, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu.“Si-siap, Nyonya, saya siap melakukan apapun demi kebaikan Nyonya.”Nyonya Selin akhirnya bernapas lega, yang k
"Sayang, satu kali lagi, dong. Please, Sayang. Aku belum puas nihh...."Suara rengekan Nyonya Selin, istri bos tempat Bayu bekerja, tak sengaja didengar oleh Bayu yang siap menjemput sang bos untuk berangkat kerja. Dia baru seminggu bekerja di sini, karena membutuhkan biaya untuk sekolah adiknya di
Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas.""B-baik, Nyonya.""Dan kamu, Bayu...."Tatapan Nyonya S
"I-ya, Nyonya?"Bayu menoleh, dan Nyonya Selin melemparkan sebuah kedipan mata yang super menggoda. Kedipan yang seketika membuat Si Gatot di dalam celana Bayu kembali mendadak berdenyut kencang."Nggak ada, makasih untuk hari ini, ya."Bayu mengangguk dan berjalan gontai menuju kamar pembantu di p







