Share

Bab 73: Titah Baru

last update publish date: 2026-08-09 22:35:32
​Angin malam berembus dingin menyapu balkon tinggi ruang kerja pribadi Sultan, membawa aroma bunga melati yang bermekaran di taman istana.

Dari ketinggian itu, halaman utama Istana Al-Fariz tampak sibuk luar biasa. Puluhan obor menerangi para pelayan dan pengawal yang sibuk membentangkan karpet merah berlapis benang emas, merapikan Kereta Agung, dan menata dekorasi megah demi menyambut kedatangan Putri Amira Sahira dari kerajaan Ash-Shaf, esok fajar.

​Rayyan berdiri di tepi balkon, memegang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Pemuas Nafsu Sang Sultan   Bab 82: Menjadi Selir?! Aku—.....

    "Asal kau mau berada di sisiku... menjadi selirku, aku akan memastikan seluruh kerajaan ini tunduk di bawah kakimu. Kau tidak perlu takut lagi, Amira. Maukah kau?"Atmosfer di dalam kamar mendadak membeku.Rayyan menunggu respons gadis itu. Ia membayangkan Amira akan meneteskan air mata haru, mengangguk pasrah dalam dekapannya, atau setidaknya memeluknya dengan rasa syukur atas perlindungan mutlak yang baru saja ia tawarkan.Namun, Amira hanya diam terpaku.Rona merah di pipi gadis itu perlahan surut, digantikan oleh warna pucat yang dingin. Binar hangat di mata Amira mendadak padam secara perlahan, menyisakan tatapan kosong yang teramat dalam dan asing.Kata 'Selir' bergema liar di kepala Amira.Selir.Wanita simpanan. Pemuas gairah yang dilegalkan hukum kerajaan. Wanita yang akan selalu berada di bawah bayang-bayang seorang Permaisuri berdarah murni seperti Sahira. Seorang pemuas dahaga yang statusnya bisa dibuang kapan saja jika intrik politik mendesak.Rayyan mengira ia sedang men

  • Pelayan Pemuas Nafsu Sang Sultan   Bab 81: Maukah Kau Menjadi Selirku?

    Teriakan Amira yang menggelegar di peraduan pribadi Sultan langsung memotong lamunan liar Rayyan. Pria itu berkedip perlahan, menyerap raut wajah Amira yang memerah padam antara amarah, malu, dan kepanikan yang bertumpuk menjadi satu.Sebuah kekeh rendah yang amat serak meluncur dari tenggorokan Rayyan. Pria itu menyandarkan kepala di sandaran ranjang sutra, menatap Amira dengan pandangan yang kian pekat oleh rasa kepemilikan."Aku tidak melamun, Amira," bisik Rayyan lembut namun sarat akan kejahilan yang memabukkan. "Aku hanya sedang mengutuk bahu kiriku sendiri... karena retak di saat yang paling tidak tepat.""Astaga, Yang Mulia... Yang kau katakan itu benar-benar membuat malu, jika didengar orang lain!" Pekik Amira menahan napas, dadanya kempis-kembang. Gadis itu meletakkan cawan obat berbahan porselen ke atas meja samping ranjang dengan dentang yang sedikit kasar. "Makanya... tubuhmu jangan secandu ini, dong," kekeh Rayyan lagi, matanya mengkilat jahil.Dengan satu tarikan man

  • Pelayan Pemuas Nafsu Sang Sultan   Bab 80: Gairah dan Amukan Gemas

    ​Bisikan Rayyan yang sarat ancaman mematikan itu menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Amira terpaku kaku di atas bantal sutra, menatap manik mata hitam Sang Sultan yang memancarkan kegilaan tanpa penyesalan sedikit pun.​Namun, saat mata Amira turun menelusuri bahu kiri Rayyan, napas gadis itu tertahan.​Di balik kemeja hitam tipis yang melekat pada dada bidangnya, noda darah segar berbau hanyir merembes pelan, membendung kain yang robek akibat tersayat pengait pelana saat kuda itu melintas kencang.​"Anda... Anda terluka, Yang Mulia," cicit Amira, kepanikannya mendadak bergeser dari masalah diplomasi menuju rasa cemas yang tak sanggup ia kekang.​Tanpa memedulikan pening di kepalanya, Amira mendorong dada tegap Rayyan pelan. "Luka bahu Anda sangat parah. Kita harus memanggil tabib—"​"Aku tidak peduli pada luka ini, Amira," potong Rayyan serak, menolak bergeser satu inci pun.​"Tapi hamba peduli!" pekik Amira tertahan, matanya mendadak berkaca-kaca oleh perpaduan rasa lelah, a

  • Pelayan Pemuas Nafsu Sang Sultan   Bab 79: Penyelamatan Seorang Pelayan

    Derap langkah tegap Rayyan memantul keras di atas pualam lorong Istana Dalam, memecah keheningan mencekam yang merayap cepat ke seluruh penjuru kerajaan.Di sepanjang koridor, puluhan pelayan dan pengawal bertopeng perak berjatuhan bersujud di lantai. Wajah mereka pucat pasi, tak berani mendongak sedikit pun melihat Sang Sultan berjalan membopong seorang pelayan rendahan yang tak sadarkan diri di dadanya, dengan jubah kebesaran yang penuh noda debu arena dan sisa darah dari luka di bahunya!BAM!Rayyan menendang pintu kayu mahoni kamar pribadinya hingga terbuka lebar, lalu membawa Amira masuk dan membaringkan tubuh gadis itu di atas ranjang berseprai sutra emas miliknya."Tabib Utama! Masuk sekarang juga!" bentak Rayyan, suaranya menggelegar dipenuhi amarah yang membakar.Tabib Kerajaan bersama tiga asistennya menerobos masuk dengan tubuh gemetar hebat. Mereka berdiri di ambang pintu, tak berani menatap mata Sang Sultan yang memancarkan aura membunuh yang kental."Periksa Amira sekara

  • Pelayan Pemuas Nafsu Sang Sultan   Bab 78: Ternyata Sultan Sendiri!

    "Mm... Lagipula... Amira terlihat sangat kuat. Dia pasti tidak keberatan... bukan begitu, Amira?"Amira menahan napasnya yang terasa membakar di kerongkongan. Gadis itu tahu betul bahwa jika Rayyan membela dirinya saat ini di depan seluruh Pejabat Ash-Shaf, rahasia hubungan mereka dan martabat Sang Sultan akan hancur seketika.Dengan sisa-sisa kesadaran yang terancam padam, Amira membungkukkan tubuhnya kaku.Dan sebagai seorang pelayan rendahan... ia sama sekali tidak pantas!"Hamba... akan segera melaksanakannya, Tuan Putri," desis Amira sangat lirih.Gadis itu membalikkan badannya, lalu melangkah menuruni undakan batu panggung utama, berjalan menuju hamparan debu arena yang mendidih di bawah sengatan matahari.Setiap langkah kaki Amira yang menyentuh batu pelataran arena bawah terasa bagaikan menapak di atas bara api. Entah mengapa siang ini, gaun pelayan hitam yang membungkus tubuhnya serasa menekan dadanya hingga sulit bernapas.Pandangan Amira mulai bergoyang parah. Bintik-binti

  • Pelayan Pemuas Nafsu Sang Sultan   Bab 77: Duri di Balik Senyuman

    "Astaga, Amira... pengawal mana yang tega berbuat sekasar itu padamu?"Suara renyah Putri Sahira bergema memantul di dinding pualam kamar mandi, bercampur dengan uap hangat bermekar aroma mawar. Tangan sang putri tertahan di udara, jari-jemarinya yang berhiaskan cincin batu rubi menunjuk tepat ke arah bawah rahang Amira.Amira tersentak pelan. Refleks, ia langsung menarik kerah kemeja hitamnya ke atas, merapatkan kain itu hingga menutupi bekas ciuman dan gigitan panas Rayyan yang masih membengkak.Namun, sebelum Amira sempat merangkai alasan atau menyusun kata maaf, Sahira mendadak mengerlingkan matanya."Astaga... aku seharusnya tidak menanyakan hal pribadi seperti itu, Amira," bisik Sahira dengan nada penuh penyesalan yang teramat halus. "Maaf, aku sungguh tidak bermaksud lancang. Sungguh."Amira menundukkan kepalanya dalam-dalam, menekan detak jantungnya yang sempat berpacu liar di balik dada. "Tidak apa-apa, Tuan Putri. Hamba yang memohon maaf atas ketidaknyamanan ini."Sahira me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status