Sugiono terbangun sebelum matahari benar-benar naik. Ia duduk di lincak bambu ruang tengah gubuknya, menyulut rokok klobot, lalu menatap pintu. Tidak ada satu pun pasien yang datang. Biasanya, paling tidak ada tiga sampai lima orang yang mengantre untuk dipijat sejak pagi. Tidak jauh dari sana, di rumahnya, Gendis duduk gelisah di tepi tempat tidur. Ia terus mengusap bagian bawah perutnya dan sesekali memegang puting susunya yang terasa kencang serta sensitif. Wajah Sugiono terus terbayang di benaknya, membuat napasnya tidak beraturan."Kenapa aku malah memikirkan Sugiono? Dia itu iparku. Ini salah," gumam Gendis. Ia mencoba menenangkan diri, namun gairah yang muncul saat ia teringat sentuhan tangan pria itu justru makin kuat. "Aku harus berhenti berpikir seperti ini, tapi hanya Sugiono yang bisa menyembuhkanku."Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari halaman. Lisa, sahabat dekatnya, datang membawa keranjang berisi singkong, sayuran, dan beberapa buah hutan."Gendis!" panggil L
最後更新 : 2026-07-12 閱讀更多