Share

BAB 27

Penulis: NamNamjoo
last update Tanggal publikasi: 2026-07-15 00:55:39

Lisa menarik tangan Gendis, membawa sahabatnya itu menjauh dari kerumunan warga yang mulai berbisik-bisik di depan rumah Bu RT. Mereka berhenti di bawah pohon besar di pinggir desa.

"Gendis, jelaskan padaku. Kenapa kamu terlihat begitu kacau? Kamu tidak bisa menutupi ini terus-menerus," desak Lisa dengan mata tajam.

Gendis menunduk, meremas ujung dasternya. "Aku bingung, Lis. Aku benar-benar bingung."

"Soal apa? Soal Pakde Sugiono?"

Gendis menghela napas panjang. "Aku bimbang. Sejak hari di man
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 54

    "Hei, jangan hanya menyuap kepala lele itu ke mulutmu! Daging bagian punggung yang empuk untukku, ingat perjanjian kita," protes Dita dari dalam kerangkeng besi dengan suara berbisik tajam.Sugiono mendengus pelan, memisahkan bagian daging lele yang bersih lalu menyarungkannya ke sela-sela jeruji besi menggunakan lidi sate. "Makan saja yang banyak biar tenagamu pulih. Jangan banyak protes kalau tidak mau kutinggal di pinggir jalan."Dita menyambar potongan ikan itu dengan gerigi taringnya yang menyamar, menggerutu pelan sambil mengunyah makanan. "Awas saja kalau kita sudah sampai di tempat tujuan. Akan kuubah wujudmu jadi kodok sawah karena sudah memperlakukan siluman sepertiku begini!"Abang penjual pecel lele yang kembali datang membawakan es teh manis melirik sekilas ke arah kerangkeng, lalu tersenyum maklum melihat Sugiono seolah sedang menanggapi gerutuan kucingnya sendiri."Silakan diminum es tehnya, Pakde. Maklum ya, kucingnya aktif banget dari tadi malam," ujar si abang penjua

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 53

    Sugiono memasukkan beberapa helai pakaian usang ke dalam tas kain kusam miliknya dengan gerakan tenang. Di dalam saku celananya, amplop tebal berisi uang sepuluh juta rupiah dari Jaka terasa begitu nyata, memberikan rasa aman yang membuat keputusannya untuk meninggalkan kota ini terasa sangat mudah.Samsul menghela napas panjang, menghembuskan asap kretek ke udara malam kontrakan yang sempit. Ia melirik sahabat sekaligus rekan kerjanya itu dengan tatapan heran."Kamu yakin mau langsung cabut malam ini, Yono? Masih banyak mandor lain yang butuh tukang berpengalaman. Lagian si Jaka memang bos sialan yang suka semena-mena," ucap Samsul sambil kembali menyeruput kopi hitamnya yang nyaris dingin.Sugiono mengemas barang terakhirnya, lalu menoleh ke arah Samsul dengan senyum tipis. "Tidak perlu, Sul. Kalau akarnya sudah busuk, mau pindah ke sudut kota mana pun hasilnya bakal sama saja. Jaka punya jaringan luas di seluruh area proyek metropolitan ini. Percuma bertahan kalau geraknya bakal te

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 52

    Tanpa disadari, Surip—wakil kepala proyek yang sejak tadi berdiri gemetar di sebelah Jaka—mengalami hal aneh. Tatapannya mendadak kosong, langkah kakinya berjalan kaku tanpa kendali seolah terseret oleh kekuatan magis dari ritual Nyai Roro. Tubuhnya masuk sendiri ke dalam ruang arsip bawah tanah, tepat saat tumpukan semen tebal menutup rapat ruangan tersebut.Begitu lubang cor tertutup sempurna dan kesadarannya pulih, Surip baru berteriak histeris meminta tolong dari dalam kegelapan."Tolong! Buka pintunya! Aku di dalam!" teriak Surip panik, suaranya teredam oleh timbunan adukan semen yang berat.Di atas permukaan tanah, Jaka sama sekali tidak tahu bahwa orang yang masuk ke dalam ruang arsip bukanlah target yang ia inginkan. Ia berdiri menyeringai puas bersama para pekerja, mengira semen tersebut telah mengubur Sugiono hidup-hidup.Beberapa saat kemudian, suasana halaman proyek mendadak hening ketika sesosok tubuh muncul dari arah gerbang belakang. Sugiono berjalan santai sambil merok

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 51

    Sugiono melangkah pelan memasuki ruang arsip bawah tanah yang pengap. Aroma debu kertas tua langsung menyambut indra penciumannya begitu daun pintu berderit tertutup rapat di belakang punggungnya.Suasana di dalam ruangan tersebut terasa jauh lebih dingin dibandingkan area luar proyek yang terik. Lampu neon tunggal di langit-langit berkedip lemah, memancarkan cahaya kekuningan yang redup dan menciptakan bayangan panjang di antara lemari-lemari arsip yang berderet rapat."Disuruh ngecek tiang besi, tapi malah dikunci dari luar," gumam Sugiono santai tanpa ada rasa takut sedikit pun di wajahnya.Ia tahu persis perangkap apa yang sedang dipasang oleh Jaka dan Surip. Amplop berisi sepuluh juta rupiah di saku celananya hanyalah umpan sogokan agar ia mau masuk ke dalam jebakan dan dijadikan tumbal bagi ritual pesugihan Nyai Roro menjelang malam Jumat kliwon.Sugiono berjalan mendekati sudut paling dalam ruangan arsip, tempat tiang beton utama berdiri kokoh menopang bangunan lantai atas. Di

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 50

    "Kita tidak punya banyak waktu, Surip. Nyai Roro mendesak lewat ritual semalam, minta kepala buruh baru sebelum malam jumat kliwon besok," ucap Jaka dengan nada suara berat, melempar puntung rokok ke lantai kantor proyek yang kotor.Surip mengusap wajahnya yang basah oleh keringat malam. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita ambil Samsul saja? Dia sudah lama bekerja di sini, badannya sehat, cocok dijadikan tumbal bangunan."Jaka menggeleng cepat sambil menyambar ponsel dari atas meja. "Jangan Samsul. Dia pekerja lama, kinerjanya bagus, mandor lapangan lain bakal curiga kalau dia mendadak hilang."Surip terdiam, berpikir keras sambil melipat tangan di dada. "Lalu siapa lagi? Buruh lain rata-rata punya keluarga besar yang sering datang menjenguk ke kontrakan."Jaka mendengus pelan, jarinya bergerak cepat menekan nomor kontak adiknya di layar ponsel. "Biar kutanya Joko, adikku yang mengawasi kelompok buruh bagian timur."Sambungan telepon langsung terhubung dalam dering kedua. Suara Joko t

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 49

    Sugiono berjalan mendekati Samsul yang masih berdiri di dekat tumpukan besi beton, membawa sisa-sisa aroma kemenangan kecil dari ruang arsip tadi."Lama sekali urusanmu di dalam, Yono. Seperti sedang mengurus proyek miliaran saja," celetuk Samsul sambil menyeruput kopi hitamnya yang mulai mendingin."Namanya juga buruh serabutan, disuruh bos apa saja harus sigap biar dapat tambahan," jawab Sugiono santai, menyambar sebatang rokok Djarum dari bungkus milik Samsul lalu menyalakannya.Samsul tertawa kecil, menepuk bahu Sugiono pelan. "Ada-ada saja kamu. Sudah, cepat ambil sarung tangan besi di sudut gudang. Mandor galak itu sudah mondar-mandir dari tadi pagi mengawasi kita."Sugiono mengangguk, melangkah pergi menuju gudang penyimpanan alat sambil menyelipkan rencana baru di kepalanya. Di dalam saku celananya, cincin gaib yang melingkar di jari manisnya berdenyut pelan, memancarkan kehangatan magis yang semakin memperkuat rasa percaya dirinya.Menjelang sore hari, aktivitas di area proye

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status