Saat pergi, Merry sengaja menoleh ke belakang. Senyum penuh kemenangan terukir di wajahnya saat dia menghapus air mata di sudut matanya.Ekspresinya seolah berkata, kalau mau melawanku, kemampuanmu masih jauh dari cukup!Memandangi punggung Morgan yang menjauh, Adeline tiba-tiba tertawa.Namun, senyum itu terasa begitu pahit dan menyedihkan.Dia tidak pernah menyangka bahwa demi Merry, Morgan akan memperlakukannya seperti ini.Dalam keadaan linglung, dia tiba-tiba teringat tahun-tahun awal mereka merintis usaha. Waktu itu, Adeline mengalami pendarahan lambung karena menemani klien minum alkohol. Morgan berlutut di samping ranjang rumah sakitnya selama sehari penuh.Saat melihatnya sadar, mata pria itu memerah karena menangis."Adeline, seumur hidupku, aku nggak bakal membiarkanmu menderita sedikit pun lagi!"Adeline mempercayainya. Namun, sekarang, apa yang dia dapatkan?Angin menerbangkan abu dan menerpanya ke wajah Adeline. Dia memandangi api yang perlahan padam di hadapannya, lalu m
อ่านเพิ่มเติม