"Apa yang Anda inginkan dari saya?" tanya Wira was-was. Matanya menyipit tajam, menatap lurus pada wanita yang melayangkan pandangannya dengan tatapan penuh arti. "Tato, Wira, tentu saja tato. Memangnya apa yang kamu pikirkan?" Jo terkekeh lagi. Suara tawanya berderai, memenuhi ruang kerja tato yang mendadak terasa makin sempit dan panas. "Baiklah, Ma—" "Jo. Panggil aku Jo saja," potong wanita itu cepat, menyilangkan kaki di balik dasternya dengan gerakan yang sengaja diperlambat. "Baiklah, Jo. Akan saya buatkan Anda—" "Jangan terlalu sopan, Wira. Aku tidak suka lelaki yang terlalu sopan," potong Jo lagi, menatap Wira dengan binar jenaka sekaligus menuntut. "Lelaki yang terlalu sopan biasanya akan menyakiti diam-diam." Wira menahan napas sejenak, mencoba mengabaikan godaan verbal tersebut. Ia meraih buku katalog tebal yang tadi sempat ditutupnya, lalu membukanya di halaman yang ia maksud. "Aku akan buatkan tato penakluk dan tato pengikat, agar siapa pun lawanmu, akan tunduk da
آخر تحديث : 2026-07-07 اقرأ المزيد