Shaluna yang baru saja hendak mematikan lampu nakas mendongak. Ia menatap Keiran yang kini berdiri di ambang pintu kamarnya dengan kemeja kusut, mata merah, dan raut wajah yang penuh keputusasaan."Keiran, aku kan udah bilang kamu tidur di sofa luar," kata Shaluna santai, suaranya tetap tenang tanpa nada membentak.Keiran tidak mendengarkan. Pria itu justru melangkah masuk dengan cepat, seolah takut jika ia berhenti bergerak sedikit saja, Shaluna akan benar-benar menguncinya di luar. Pria itu langsung berlutut di samping tempat tidur Shaluna, menyejajarkan posisinya lalu menggenggam kedua tangan Shaluna erat-erat sampai jemarinya dingin memucat."Tolong, Shaluna ... sekali ini aja, kasih saya kesempatan buat perbaiki semuanya," mohon Keiran dengan suara yang sangat parau dan bergetar hebat. "Saya bisa tinggalkan Jakarta, saya bisa ikut kamu menetap di Singapura atau ke mana pun kamu mau. Asal jangan buang saya seperti ini. Saya gak bisa hidup tanpa kamu."Keiran mencoba memajuka
Last Updated : 2026-08-19 Read more