Share

131. Rindu

Author: Ivorybeige
last update publish date: 2026-08-17 23:50:23

Sekitar pukul satu malam, pintu kamar hotel tempat Shaluna menginap terketuk pelan. Ketukannya acak, tidak beraturan, dan terkesan ragu-ragu.

​Shaluna yang baru selesai membasuh wajah berjalan mendekati pintu. Ia mengintip lewat lubang kecil di kayu tebal itu.

​Di luar, Keiran berdiri bersandar kaku pada dinding. Jas mewahnya entah ke mana, kemeja putihnya kusut dengan kancing atas terbuka, dan dasinya terikat longgar di leher. Wajahnya sangat pucat, matanya merah dan sayu akibat pengaruh alkoh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    132. Penolakan

    Shaluna yang baru saja hendak mematikan lampu nakas mendongak. Ia menatap Keiran yang kini berdiri di ambang pintu kamarnya dengan kemeja kusut, mata merah, dan raut wajah yang penuh keputusasaan.​"Keiran, aku kan udah bilang kamu tidur di sofa luar," kata Shaluna santai, suaranya tetap tenang tanpa nada membentak.​Keiran tidak mendengarkan. Pria itu justru melangkah masuk dengan cepat, seolah takut jika ia berhenti bergerak sedikit saja, Shaluna akan benar-benar menguncinya di luar. Pria itu langsung berlutut di samping tempat tidur Shaluna, menyejajarkan posisinya lalu menggenggam kedua tangan Shaluna erat-erat sampai jemarinya dingin memucat.​"Tolong, Shaluna ... sekali ini aja, kasih saya kesempatan buat perbaiki semuanya," mohon Keiran dengan suara yang sangat parau dan bergetar hebat. "Saya bisa tinggalkan Jakarta, saya bisa ikut kamu menetap di Singapura atau ke mana pun kamu mau. Asal jangan buang saya seperti ini. Saya gak bisa hidup tanpa kamu."​Keiran mencoba memajuka

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    131. Rindu

    Sekitar pukul satu malam, pintu kamar hotel tempat Shaluna menginap terketuk pelan. Ketukannya acak, tidak beraturan, dan terkesan ragu-ragu.​Shaluna yang baru selesai membasuh wajah berjalan mendekati pintu. Ia mengintip lewat lubang kecil di kayu tebal itu.​Di luar, Keiran berdiri bersandar kaku pada dinding. Jas mewahnya entah ke mana, kemeja putihnya kusut dengan kancing atas terbuka, dan dasinya terikat longgar di leher. Wajahnya sangat pucat, matanya merah dan sayu akibat pengaruh alkohol yang berat.​Shaluna memegang gagang pintu sejenak. Tidak ada amarah atau rasa takut yang membakar. Yang tersisa di dadanya saat melihat sosok Keiran malam ini hanyalah rasa iba saat melihat pria yang biasanya begitu dominan kini tampak hancur dan kehilangan arah.​Shaluna memutar kunci, membuka pintu itu lebar-lebar.​Keiran hampir kehilangan keseimbangan saat tumpuan dindingnya bergeser. Namun ia berhasil menahan diri. Ia menengadah, menatap Shaluna yang berdiri di hadapannya dengan pendar

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    130. Jalan Berdua

    Angin malam yang berembus pelan dari arah laut menyapu area promenade Marina Bay, membawa kesegaran dingin yang menenangkan. Jalan setapak berbatu di sepanjang tepi air sudah agak sepi dari lalu lalang wisatawan, menyisakan pendar lampu-lampu jalan bertiang tinggi yang memantul keemasan di atas permukaan air yang tenang.​Shaluna berjalan perlahan di samping Julian, melepas sepatu hak tingginya dan memegangnya di satu tangan agar bisa melangkah lebih rileks. Julian berjalan sesuaian dengan langkah Shaluna, menyesuaikan temponya tanpa terburu-buru.​"Jalan tanpa sepatu begini nggak sakit?" tanya Julian santai, matanya melirik sebentar ke arah kaki Shaluna yang menginjak ubin halus promenade.​"Sama sekali nggak," jawab Shaluna jujur, mengisap udara malam yang bersih. "Kaki saya cuma pegal karena berdiri berjam-jam pakai sepatu itu tadi. Begini jauh lebih enak."​Julian terkekeh pelan. Ia melepas jas hitamnya, membalik kain bagian dalamnya, lalu menyampirkan jas itu dengan rapi di bahu

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    129. Galeri Seni

    Penerbangan pagi ke Singapura berlangsung lancar. Begitu mendarat di Changi, sebuah van hitam khusus yang disiapkan Julian sudah menunggu untuk membawa Shaluna, Dastan, dan seluruh perlengkapan lukisan langsung menuju galeri utama di kawasan Marina.​Hari pertama pameran dibuka dengan kemegahan yang tenang namun sangat berkelas. Ruang galeri berdinding putih bersih itu ditata dengan pencahayaan sorot khusus yang membuat setiap detail warna pada kanvas-kanvas Shaluna memancar sempurna. Puluhan kolektor seni internasional, kurator ternama, dan jurnalis media terkemuka memenuhi aula utama, menciptakan dengung percakapan yang hidup dan hangat.​Shaluna berdiri di samping salah satu karya utamanya.Sbuah lukisan lanskap abstrak yang didominasi warna biru dalam dan sentuhan emas. Ia mengenakan gaun malam panjang berwarna hitam polos yang simpel, dengan riasan wajah natural yang memancarkan kecantikan anggun.​Di sisinya, Dastan memegang secangkir minuman, sesekali mengobrol santai dengan k

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    128. AHF

    Shaluna menyandarkan punggungnya di kursi, memandangi map cokelat di hadapannya sebelum kembali menatap mata Julian. Ada kejelasan yang terasa sangat langka dalam cara pria itu bertindak. Julian tidak pernah menawarkan janji manis atau memosisikan diri sebagai pahlawan yang datang menyelamatkan, melainkan hadir sebagai sosok dewasa yang menyediakan pilihan tanpa mendesak.​"Kenapa Mas Julian repot-repot menyiapkan semua ini?" tanya Shaluna, suaranya mengalir tenang namun sarat rasa ingin tahu. "Kita baru kenal beberapa bulan, dan urusan profesional kita sebenarnya cuma sebatas pameran di Singapura."​Julian membiarkan jemarinya mengusap tepi cangkir kopi di mejanya. Ia tidak terburu-buru menjawab, memberi jeda sejenak untuk memastikan kata-katanya tersampaikan dengan jujur.​"Karena saya tahu rasanya harus membangun hidup dari nol di tempat yang asing," ujar Julian dengan nada rendah yang hangat. "Dan melihat cara kamu bertahan sejauh ini, saya cuma merasa kamu berhak dapat landasa

  • Dihina Suami dan Mertua, Didekap Adik Ipar    127. Makan Malam

    Restoran bergaya minimalis di kawasan Menteng itu terasa sangat tenang malam ini. Pencahayaan temaram dari lampu gantung berbahan tembaga memberikan suasana yang hangat, jauh dari hiruk-pikuk lalu lintas Jakarta di luar. Julian telah memesan area sudut yang sedikit terpisah dari meja lain, memberikan ruang privat yang cukup nyaman tanpa terasa berlebihan.​Shaluna duduk di seberang Julian, mengenakan gaun terusan berwarna krem polos dengan potongan sederhana namun sangat anggun. Di hadapannya, Julian tampil santai dengan kemeja putih berlengan panjang yang digulung rapi hingga pergelangan tangan.​Seorang pelayan baru saja selesai menyajikan dua porsi hidangan utama dan secangkir teh chamomile segar di meja mereka.​"Bagaimana rasa supnya?" tanya Julian, membuka percakapan setelah meneguk air mineralnya.​Shaluna menyesap kuah hangat itu perlahan, lalu mengangguk dengan sunggingan senyum tipis di bibirnya.​"Enak sekali," jawab Shaluna jujur. "Kaldu rempahnya pas, nggak terlalu peka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status