“Kok bengong? Tiup lilinnya dong,” ucap Satya lembut. Pria itu benar-benar pandai membuat hati Jeevi gusar. Jeevi meniup lilin itu, tanpa mengucapkan doa. Dia lantas bergerak menjauh, melewati Satya dengan enggan. “Berhenti melakukan hal kayak gini lagi,” ujarnya tak suka. Lebih tak suka karena dirinya jadi baper lagi. “Kenapa harus berhenti? Tiap tahun juga aku begini,” sahut pria itu kembali meletakkan kue tersebut ke atas meja, lalu mengambil pisau plastik. “Ayo, kita potong kuenya sama-sama.”“Satya, tolong, stop!” Pria itu menatap Jeevi sejenak lalu tersenyum. Dia lantas berjalan mendekat. “Aku minta maaf. Aku tau kamu masih marah, tapi setelah kamu datang ke rumah keluargaku malam itu, aku banyak berpikir.” Jeevi menyipitkan mata. Tubuhnya menegang waspada saat pria itu terus mendekat sambil mengoceh. “Aku sadar, ternyata aku masih punya perasaan yang begitu dalam ke kamu. Aku kesulitan melupakan kamu, Jeevi. Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku benar-benar butuh kamu.” Waja
Last Updated : 2026-08-14 Read more