"Emh!" seruku tertahan di tengah paksaan lumatan bibirnya. Kedua tanganku terus bergerak liar, berusaha sekuat tenaga mendorong dada bidang Axel agar menjauh dan memutus tautan sepihak itu.Namun, pria itu justru semakin hilang kendali. Axel bertindak kian agresif, melayangkan ciuman yang jauh lebih panas, dalam, dan mendominasi tanpa memberiku celah untuk bernapas."Emh! Xel!" teriakku histeris seraya mendorong dadanya sekuat tenaga, tepat saat pagutan bibirnya terlepas sedikit."Lo gila, ya?!" bentakku dengan napas tersengal-sengal dan dada kembang kempis.Akan tetapi, Axel hanya menyunggingkan senyum tipis yang amat menyebalkan. Ia melirik santai ke arah luar jendela tempat Rayan berdiri, lalu mengusap bibir bawahnya dengan ibu jari—sebuah gestur sarat kemenangan.Dengan dada yang masih bergemuruh hebat, aku ikut mengalihkan pandangan ke luar jendela. Mataku membulat mendapati Rayan tengah berdiri kaku bagaikan patung, menatap kami berdua dengan wajah pucat pasi.Rasa jengkel yang
Last Updated : 2026-09-10 Read more