로그인Kriiiing... Kriiiing..."Xel... Ponsel lo..." ucapku terengah-engah saat berhasil meloloskan diri dari ciumannya.Namun, Axel malah melempar ponsel itu ke atas sofa, lalu kembali melumat bibirku dengan gairah yang kian membakar. Jemari panjangnya bahkan menjelajahi dadaku semakin liar, meremas hingga blusku terkuak.Aku yang sedari tadi menolak ajakan bercinta ini justru kembali terseret arus panas akibat sentuhannya yang membius. Intimku bahkan berkedut basah, menuntut lebih."Mmmhhh..." desahanku tertahan di tengah lumatan bibirnya yang menuntut, berpadu dengan pijatan lembut di puncak dadaku yang membuatku mendesah gelisah.Dengan gerakan terburu-buru, Axel melucuti jasnya dan melemparnya ke lantai. Ia juga membuka sabuk celananya dengan cepat seolah akal sehatnya telah dirampas sepenuhnya oleh hasrat.Kriiing... Kriiing...!Nada dering ponselnya kembali menggelegar, berdering tanpa jeda. Aku buru-buru mendorong dada bidang Axel agar menghentikan ciuman gilanya."Ponsel lo... Bagai
"Eehh... Ayolah... Bercinta kan nikmat," rayunya seraya memaksa melingkarkan lengan di tubuhku."Nggak mau! Gue sudah kapok!" sahutku seraya tetap menyembunyikan wajah di balik selimut dengan susah payah.Namun, Axel tetap gigih menarik selimutku dan berusaha merangkul serta mendaratkan kecupan-kecupan paksa di pipiku. "Nikmat, Kayla... Masa lo nggak ketagihan, sih?! Ayolah... Sekarang sekali lagi ya, Sayang...""Nggakkk!!!" teriakku histeris.Kami saling bergulat dan bercanda selama beberapa menit di atas ranjang yang terasa begitu hangat. Akhirnya, setelah satu bulan penuh kerinduan yang menyiksa, kami bisa kembali merasakan kebahagiaan yang utuh sebagai pasangan suami istri.Setelah puas bersenda gurau, aku segera bersiap-siap untuk berangkat ke kantor dan melangkah keluar kamar demi mengenakan sepatu heels."Lo sudah siap?" tanya Axel yang tengah duduk santai di sofa ruang tamu seraya memegang tablet kerjanya."Sudah," sahutku singkat seraya menyusupkan kakiku ke dalam sepatu heel
"Apa?!" teriakku histeris dengan mata membulat sempurna. Dalam sekejap, seluruh keberanian yang tadi kukumpulkan runtuh tak berbekas. Sepertinya Axel sengaja menantangku karena aku sudah bersikap terlalu berani padanya.Dada Axel naik-turun seirama dengan napasku yang masih memburu. Ia menyapukan kecupan-kecupan lembut di pelipisku, menyerap sisa-sisa sengatan pelepasan yang baru saja kami lewati di atas meja makan."S-sayang... Bukankah besok lo masih ada meeting penting di kantor? Bagaimana kalau kita tidur saja?" pintaku seraya menyunggingkan senyuman yang dibuat semanis dan sejelita mungkin.Namun, Axel menggeleng pelan seraya menyeringai penuh maksud tersembunyi. Jemarinya yang panjang merayap menyusuri lekuk wajahku dengan gestur erotis, lalu mengangkat daguku dengan penuh dominasi mutlak."Bukankah... ini hadiah ulang tahun buat gue? Gue ketagihan dengan keliaran lo barusan, Kayla..." bisiknya dengan nada suara serak nan berat, lalu menggigit kecil bibir bawahku dengan gairah y
Aku melepaskan kulumanku sejenak, menyisakan jejak hangat yang basah di puncak keperkasaannya sebelum akhirnya bangkit berdiri seraya membungkukkan badan di hadapannya."Lo senang, hm?" tanyaku dengan napas memburu.Dada Axel naik turun menahan gelombang gairah yang kian memuncak hingga ia tak sanggup menyusun kata untuk menjawab pertanyaanku. Pria itu hanya sanggup mengangguk pasrah dengan kelopak mata yang meram-melek menahan nikmat.Melihat raut tampannya yang tertekuk kepayahan menahan sensasi, gairah di dalam diriku makin membakar sisa-sisa kesadaran. Tatapanku kini terkunci lurus pada netranya yang menggelap dipenuhi hasrat dominasi.Tanpa melepaskan pandangan mata, aku menyingkap rok span-ku sepenuhnya, lalu menaiki pangkuannya secara perlahan."Kita main kuda-kudaan ya, Sayang..." bisikku manja. Aku menduduki paha kokoh Axel, memosisikan diriku tepat di atas kepemilikannya yang menegang sempurna."Ooouuhhh..." erang Axel menyerah. Ia terlihat menahan napas, jemari kekarnya men
"Axel..."Tanpa memberiku kesempatan untuk menyelesaikan ucapan, Axel melahap bibirku dengan buas dan penuh dahaga.Setiap sentuhan jarinya menyebarkan gelombang getaran asing yang membakar kulitku, membuat suhu tubuhku meningkat drastis. Aku hanya bisa berpegangan erat pada bahu kekarnya, pasrah saat desakan napasnya yang memburu beradu intens dengan napas milikku."Mmmhhhh..." desahku samar di tengah paksaan lumatan bibirnya yang kian liar.Lumatannya perlahan turun, menyusuri garis rahangku dengan ciuman-ciuman basah yang intens hingga berlabuh di celah leherku.Bibirnya menyesap kulit halus di sana dengan sedikit gigitan kecil yang membuat desahanku lolos begitu saja di udara dapur yang mendadak terasa kian pengap dan memanas."Aaahhh... Axel..." bisikku serak, berniat menghentikannya, tetapi suara itu justru terdengar bagaikan sebuah undangan manis baginya.Axel terkekeh rendah—sebuah suara berat yang bergetar tepat di leherku.Tanpa menghentikan ciuman liarnya yang kini kembali
Aku membalikkan badan menghadap Axel seraya menyandarkan pinggulku di tepi meja dapur. "Saat gue pergi dari apartemen ini, lo masih tetap tinggal di sini?"Axel menggeleng pelan dengan raut wajah melas. "Gue mana sanggup hidup sendirian di tempat ini tanpa lo.""Halah... itu kan cuma karena lo takut disamperin Kunti," godaku seraya terkekeh pelan.Axel ikut terkekeh miring, menatapku dengan pendar mata yang mendalam. "Lo ingat nggak, apa alasan utama gue bisa secemas itu tinggal di ruang sempit sendirian?"Aku berpikir sejenak, meraba memori masa kecil kami. "Karena waktu kecil lo pernah terkunci dan kejebak di gudang lama, kan?"Axel mengangguk pelan seraya tersenyum geli."Tapi apa hubungannya sama Kunti? Emangnya lo beneran disamperin Kunti waktu di gudang dulu?"Axel bersandar di tepi meja makan tepat di hadapanku. Bola matanya bergerak melirik ke kanan atas, seperti sedang bersusah payah memanggil ulang trauma masa lalunya."Waktu gue bersembunyi dari lo saat main petak umpet dul







