ログイン"Eh, boleh," jawab Zea, sedikit terkejut. “Mau ngrobrolin apa?”Selena tersenyum manis. "Nggak, cuma pengen kenalan lebih dekat aja. Kamu kan baru kali ini ikut bareng sama tim."Zea nyaris menjawab, tapi ia buru-buru mengalihkan topik. "Oh iya, saya bawa kado buat kamu." Ia meraih tas kecil berisi kotak kado yang sudah ia siapkan dari rumah. "Selamat ulang tahun, semoga suka, ya.”Wajah Selena berbinar, seolah lupa maksud awalnya mengajak ngobrol. "Aduh, kamu baik banget. Makasih, ya, Zea." Wanita itu menerima kotak itu dengan kedua tangan, lalu menoleh ke belakang. "Marco, liat, Zea kasih aku kado!”Panggilan itu membuat Marco yang sedang berbincang dengan tamu lain menoleh. Ia hanya mengangguk singkat ke arah Zea, tanpa ekspresi berarti.Zea menahan getir di dadanya. Sekilas Marco melirik lebih lama dari yang seharusnya, tapi detik berikutnya ia sudah membuang muka lagi seolah tak terjadi apa-apa.Selena kemudian merangkul lengan Marco yang baru saja
“Hm, pakai gaun yang mana, ya?” gumam Zea pelan.Ia berdiri di depan cermin kamarnya sambil menatap pantulan dirinya dengan ragu. Beberapa pakaian sudah dicoba bergantian, tetapi belum ada yang benar-benar terasa cocok.Sepulang dari gedung pelatihan tadi, Zea sempat memberi tahu Donna bahwa malam ini ia menghadiri pesta ulang tahun Selena bersama tim renang. Tak disangka, Donna langsung mengizinkannya pergi bersama Zavian.Setelah mandi dan sibuk memilih gaun, Zea akhirnya memilih gaun sederhana berwarna dusty pink selutut yang dipadukan dengan cardigan tipis. Penampilannya tidak mencolok, tetapi juga tidak terlalu sederhana. Cukup rapi untuk menghadiri sebuah pesta, tanpa terkesan berlebihan.Zea berulang kali meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah acara tim biasa. Tak ada alasan untuk gugup, meski jantungnya tetap berdebar tak menentu. Zea menghela napas panjang sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Ia hanya perlu bertahan malam ini saja dan semuanya akan
Suasana latihan renang terasa berbeda dari biasanya. Suara peluit dan cipratan air terdengar seperti biasa, tetapi ketegangan yang menyelimuti tim hari itu sulit diabaikan.Zea berdiri di tepi kolam sambil mencatat waktu tiap atlet. Sesekali matanya melirik ke lintasan empat, tempat Marco berenang lebih agresif dari biasanya. Namun setiap kali pria itu muncul ke permukaan, Zea segera mengalihkan pandangan ke stopwatch di tangannya. Ia tidak ingin bertemu mata dengan Marco setelah kejadian pagi tadi.Marco sendiri tampak fokus, wajahnya datar dan dingin. Lalu, catatan waktu Marco hari ini cukup memuaskan dari biasanya. Tak ada yang tahu apakah itu karena emosinya yang ia tumpahkan di kolam, atau karena faktor lain yang hanya mereka berdua pahami.Di tengah latihan, Zea tiba-tiba mendengar bisik-bisikan para atlet.“Kalian sadar nggak? Zea sama Marco dari tadi nggak saling ngomong,” bisik Kenji sambil pura-pura merapikan handuk di pinggir kolam.Dimas melirik
Keheningan menyelimuti lounge. Marco menoleh perlahan dan tetap berdiri tanpa gentar. Sementara Zea buru-buru mendorong Marco agar menjauh dan mengusap air matanya, dadanya masih naik-turun hebat. Tatapan Zavian bergantian menyorot wajah adiknya yang sembab dan Marco yang masih berdiri di hadapannya. “Kamu yang bikin adik saya nangis?” tanyanya dengan suara rendah. Tanpa menunggu jawaban, Zavian melangkah cepat ke depan dan hendak mengayunkan tinjunya ke arah Marco. Zea langsung bergerak cepat dan menahan lengan kakaknya dengan panik. “Kak! Jangan!” serunya ketakutan, suaranya masih pecah karena menangis. Namun Marco masih berdiri di sana, menjawab datar tanpa merasa bersalah. “Ini urusan kami, Coach.” Jawaban itu justru membuat amarah Zavian meledak. Ia mendorong Zea dan melepaskan pegangannya begitu saja, lalu maju dan mencengkram kerah baju Marco kuat-kuat. “Urusan kalian?” suaranya rendah dan mengancam. “Sudah beberapa hari ini saya perhatikan kamu terus mencari-cari Ze
Marco terdiam. Tatapannya beralih dari wajah Zea ke botol di tangannya, seolah tak percaya gadis itu benar-benar melakukannya. "Jadi, kamu benar-benar mau menjaga jarak dariku?" tanyanya dengan nada rendah.Zea menarik napas panjang sebelum mengangguk pelan. "Kak Zavian ngomel habis-habisan semalam," katanya pelan, tanpa menatap Marco langsung. "Dan sekarang dia pasti bakal ngawasin kita lebih ketat. Jadi aku nggak mau ambil risiko lagi." Zea menghela napas. “Kakakku sudah curiga, Marco. Kalau sampai tahu semuanya … aku nggak berani bayangin gimana nanti.”Marco terdiam, sebelum tiba-tiba berjalan mendekat. Zea sontak mundur hingga punggungnya menyentuh meja lounge. Ruangan kecil itu tiba-tiba terasa sempit.“K–kamu mau apa?” tanya Zea gemetar.Marco berhenti di depannya sambil tangannya terulur dan merangkul pinggang Zea. Suaranya pelan.“Kamu nggak perlu takut. Kita bisa lebih hati-hati. Aku janji, kita nggak akan ketahuan.”Zea menggeleng keras, suaranya mulai bergetar ketakutan
"Ah ... sakit sekali .…”Pagi itu, ia tengah duduk di tepi ranjang sambil memompa ASI portable dari nakas setelah bangun tidur. Corongnya menempel ke kulit yang masih lecet bekas semalam. Zea terus meringis dan menahan desahannya.Di tengah proses itu, pikirannya kembali melayang kepada Marco. Wajah pria itu di dalam mobil semalam, disusul omelan Zavian yang masih terngiang jelas di telinganya.Dan ia akhirnya memutuskan agar Marco hanya akan menerima ASI lewat botol. Tidak akan ada lagi pertemuan diam-diam. Tidak akan ada lagi sentuhan fisik.Ia menegaskan itu dalam hati, seolah kalau diucapkan cukup keras, tekadnya akan benar-benar kuat. Ia tak mau Marco mendekatinya lagi di tempat latihan. Karena ia tahu, Zavian pasti akan mengawasinya lebih ketat sekarang.Dua puluh menit kemudian, satu botol kecil akhirnya terisi. Memang tidak sebanyak biasanya, tetapi sudah cukup. Zea membereskan alat pompanya, lalu segera menyambungkannya ke charger.Kali ini, Zea mema







