تسجيل الدخولDahi Zavian berkerut sambil menatap Dimas dengan raut heran bercampur bingung. "Kenapa kamu bisa bicara seperti itu?"Dimas berdehem pelan. Sebagai atlet yang paling dekat dengan Marco, ia sempat menunjukkan gestur sungkan, namun tatapannya tetap lurus menyuarakan kejanggalan yang ditangkapnya."Maaf, Coach ... saya bukannya mau menyudutkan siapapun. Tapi Coach masih ingat tidak cara Vincent memperkenalkan diri pertama kali di depan tim?" buka Dimas pelan."Saat itu, pas Marco menyapa dan bilang mereka pernah bertemu, Vincent malah membalas dengan nada yang sangat sinis: 'Apa kita pernah bertemu?' Dari situ saja rasanya sudah aneh."Zavian terdiam lama, kerutan di dahinya makin melipat tajam.Melihat respons kaku sang kepala pelatih, Dimas cepat-cepat menimpali. "Saya tahu alasan saya ini mungkin terdengar dangkal sekali, Coach. Tapi saya bisa menangkap ada sesuatu yang tidak beres dari Vincent.""Dimas," potong Zavian tegas, memangkas kalimat atletnya. "Kasih saya alasan paling jelas
Zavian terdiam sejenak, memaksakan senyum tipis di wajah kakunya demi menutup kebenaran yang tak boleh bocor ke pihak mana pun."Zea cuma sedang kurang enak badan, Vin," kilah Zavian tenang, memasang kebohongan formal setenang mungkin. "Dia lagi butuh istirahat penuh di rumah."“Oh, ya?” Vincent seketika memajukan langkahnya dengan raut cemas yang dipasang amat natural di balik kacamata berbingkai tipisnya. “Kalau begitu, jika memungkinkan ... boleh saya datang menjenguk Zea nanti sore? Sekalian saya bawakan buah-buahan dan vitamin untuk dia."Belum sempat Zavian merespons tawaran itu, getaran kencang dari saku celana training-nya mendadak memecah keheningan lounge. Zavian merogoh ponselnya, menatap nama sang ibu yang tertera di layar."Maaf sebentar, Vin. Ini telepon dari Mama saya," izin Zavian singkat."Silakan, Coach," sahut Vincent sopan.Zavian menggeser tombol hijau, berbalik selangkah membelakangi Vincent. Baru saja ia menempelkan ponsel pintar itu ke telinganya, suara riang
"Apa?!" Zea terperangah kaku di tempatnya dengan mata membelalak lebar, sementara Donna berdiri terpaku tak percaya, menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. "Moara, kamu serius?" tanya Donna pelan, masih tak menyangka. "Tentu saja aku serius, Don! Makanya ayo, kalian berdua siap-siap sekarang juga!" desak Moara bersemangat sambil mendorong pelan bahu Donna. Donna mendadak panik. "A-aduh, sebentar! Aku harus ganti pakaian dulu!" Donna baru saja hendak berlari ke kamarnya ketika matanya mendadak terpaku meneliti penampilan putri bungsunya dari atas ke bawah. Zea masih berdiri kaku memegang tas jinjingnya, hanya mengenakan kaus kebesaran, celana training, dan jaket klub renang biru tua. Donna memegang dahinya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Zea! Kamu juga cepat ganti baju! Masa mau fitting gaun pengantin pake jaket klub dan celana training begitu?! Pakai baju yang jauh lebih pantas dan rapi!" Zea terkekeh canggung, menggaruk tengkuk yang tak gatal. Kepalanya masih agak
Sinar matahari pagi membias hangat menembus celah gorden, membelai lembut wajah Zea yang masih terkulai lemas di atas ranjang. Zea perlahan mengerjapkan matanya yang terasa agak berat. Jemarinya meraba permukaan kasur yang empuk dan menemukan tubuhnya ditutupi begitu rapi dengan selimut hingga bawah dagu. "M-Marco ...?" bisik Zea parau, menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan. Namun, kamar tidurnya sepi. Tidak ada sosok tegap Marco di sampingnya di ranjang. Tentu saja, semalam pria itu kembali pulang ke mansion-nya. Lalu, pandangan Zea mendadak beralih ke jam weker digital di atas meja nakas. Angka di layarnya menunjukkan pukul delapan pagi lewat lima belas menit. "Ya ampun! Aku kesiangan!" jerit Zea panik setengah mati. Ia harusnya sudah berangkat sejak jam setengah delapan pagi bersama Zavian ke pusat pelatihan untuk membantu persiapan tim menjelang pertandingan Final! Tanpa membuang waktu satu detik pun, Zea melompat dari ranjang. Rasa pening yang sempat menyengat kepalany
Deru mesin mobil sport Marco meluncur pelan memasuki pelataran mansion Yozefa. Begitu melangkah melewati pintu utama, suasana ruang tengah masih berpendar hangat oleh cahaya lampu kristal. Di sana, Michael berdiri tegap menunggunya dengan wajah cemas, sementara Moara tetap duduk anggun di atas sofa. Namun, begitu sosok Marco melangkah mendekat di bawah pendar lampu, kedua orang tuanya seketika terperanjat kaku. Lebam merah yang kontras di sepanjang garis rahang kaku milik Marco tak bisa disembunyikan. "Marco?! Kenapa mukamu?!" seru Moara terperanjat, matanya membelalak pelan. Michael ikut memajukan langkahnya dengan dahi berlipat-lipat. "Siapa yang berani membuat mukamu seperti itu?" Marco menatap kedua orang tuanya dengan raut datar tanpa beban. Ia mengusap pelan rahangnya yang terasa agak ngilu. "Hanya kejadian sepele. Nggak apa-apa." "Nggak apa-apa bagaimana?!" pangkas Moara ngotot. Binar matanya memancarkan rasa cemas sekaligus ketegasan seorang ibu yang tak bisa dibantah. "
Setelah pintu kamar tertutup pelan di belakang Donna dan Zavian, Marco tidak membuang waktu. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah pucat Zea yang masih berkeringat dingin. Napas wanita itu pendek-pendek dengan dada naik-turun tidak teratur. Noda basah di kaus kebesaran Zea semakin melebar. ASI yang mulai merembes perlahan membuat kain di bagian depan tubuhnya semakin lembap. Dengan gerakan cepat namun tetap hati-hati, Marco menyibak kaus itu ke atas, sekaligus bra yang sudah basah ditariknya turun dalam satu tarikan. Kedua payudara yang bengkak dan memerah langsung terbebas. Putingnya mengeras, dan cairan putih mulai menetes deras tanpa henti, seolah sudah terlalu lama menahan. Marco langsung menunduk. Bibirnya menempel di puting kanan Zea dan menghisap dalam-dalam dan kuat, tanpa ragu. Lidahnya berputar pelan, lalu menekan, memaksa aliran cairan itu keluar sebanyak mungkin. “Nghh … ahh … Sayang…” desah Zea parau. Tubuhnya sedikit tersentak, dan jari-jarinya refleks me







