Aroma kaldu gurih memenuhi kamar utama apartemen. Makanan yang baru saja dipesannya secara online sudah tiba beberapa menit lalu. Marco duduk di tepi ranjang, mengambil semangkuk sup ayam hangat, lalu meniup sesendok sup sebelum menyodorkannya ke depan bibir Zea.“Buka mulutmu, Zea,” titah Marco lembut namun tak terbantahkan.Zea bersandar pada tumpukan bantal dengan wajah yang sudah jauh lebih berwarna dibanding saat di konferensi pers tadi pagi. Ia menatap sendok itu, lalu menatap Marco dengan helaan napas protes.“Marco, aku bisa makan sendiri. Tanganku nggak sakit, loh,” gerutu Zea.Marco menahan tangannya dengan satu gerakan sederhana, tanpa terkesan buru-buru. "Diam. Buka mulut."Zea mendengus. Ia tahu betul, kalau Marco sudah memutuskan sesuatu, hampir mustahil menggoyahkannya. Akhirnya ia menurut, membuka mulut menerima suapan itu."Puas?" Zea bergumam setelah menelan, masih dengan nada kesal yang dibuat-buat."Belum." Marco menyendok lagi. "Masih setengah mangkuk."Zea mengh
Last Updated : 2026-09-16 Read more