เข้าสู่ระบบCahaya matahari sore masuk dari jendela gedung dan menerangi permukaan kolam yang mulai tenang. Suara air dan aktivitas para atlet yang sejak pagi memenuhi gedung perlahan berkurang. Suasana di pusat pelatihan pun mulai sepi.Zea berjalan menyusuri tepi kolam, memunguti handuk-handuk setengah basah milik para atlet dan memasukkannya ke dalam keranjang besar. Setelah itu, ia memungut beberapa botol plastik kosong yang siap dibersihkan. Meski tubuhnya terasa sedikit pegal setelah seharian kembali menjalankan tugasnya sebagai asisten pelatih, perasaan hangat tak berhenti mengalir di dadanya.Tempat ini, aroma klorin yang khas, dan para atlet yang masih hilir mudik di sekitar kolam membuat Zea merasa seperti kembali ke kehidupan yang selama ini ia jalani.Tak jauh darinya, para atlet baru saja selesai membenahi tas masing-masing. Rafi dan Kenji tampak mengeringkan rambut dengan handuk kecil, sementara Dimas baru saja muncul dari loker untuk mengganti pakaian.Lalu Zavian berdiri di dekat
Udara pegunungan terasa dingin dari jendela yang terbuka separuh. Di luar, lembah hijau terlihat samar di balik kabut tipis. Namun suasana tenang itu sama sekali tidak membuat pria yang duduk di kursi kulit di tengah ruangan merasa lebih tenang.Michael Yozefa memutar gelas kristal di tangannya. Whiskey berwarna karamel di dalamnya tinggal separuh. Di tangan satunya, sebatang rokok menyala. Ia menghisapnya dalam-dalam sebelum menghembuskan asap ke udara siang yang dingin.Villa pribadi di kaki gunung ini adalah sebuah rahasia kecil. Tempat terpencil yang bertahun-tahun lalu ia bangun atas nama satu janji manis kepada istrinya.“Kalau Marco sudah dewasa dan siap meneruskan perusahaan, kita pensiun di sini saja, ya, Michael?”Suara Moara dari bertahun-tahun lalu tiba-tiba kembali terngiang di kepalanya. Begitu jelas, seakan baru saja diucapkan. Michael terdiam, dadanya terasa sesak oleh beban yang sangat berat.Lalu, apa yang terjadi sekarang?Michael memejamkan mata sambil meneguk sisa
Zea membeku di tempat. Handuk yang tadi digantungkannya di leher Marco masih terasa hangat di jemarinya. Kalimat pria itu menggantung di udara, membuat detak jantungnya seolah berhenti sejenak.“Kamu … yakin?” suaranya pelan, hampir berbisik. “Marco, kamu yakin nggak butuh ASI-ku lagi sebelum latihan?”Marco tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Zea dengan sorot mata yang tenang.Zea menggigit bibir bawahnya. Kekhawatiran mulai merayap di dadanya. “Tapi … kalau performa kamu stuck? Atau justru turun karena kelelahan? Kamu kurang tidur berhari-hari, Marco. Tubuhmu belum pulih sepenuhnya. Kalau nanti—”“Sshh.” Marco mengangkat satu jari, menghentikan ocehan Zea seketika.Ia menatap wanita itu lekat, sorot matanya jauh lebih tenang dari yang Zea kira. “Dengar aku dulu,” ucapnya rendah. Zea terdiam, masih menatapnya.Marco menurunkan jarinya, lalu menggenggam jemari Zea yang dingin dengan begitu protektif. Suaranya tetap datar, tapi ada ketulusan yang jarang ia tunjukkan di depan or
[LINTASAN 3 - ZAVIAN REYNALD: 23.40][LINTASAN 4 - MARCO YOZEFA: 24.15]Selisih mereka hanya 0,75 detik!Keheningan sempat menguasai area kolam selama dua detik, sebelum akhirnya teriakan Rafi memecahkan udara."Gilaaaaa! Coach Zavian masih unggul!" seru Rafi sambil menepuk pembatas kolam. "Masih tajam banget gerakannya!"Kenji ikut menggeleng-gelengkan kepala, masih tak percaya. “Beda nol koma tujuh puluh lima detik. Tapi buat lima puluh meter gaya bebas? Itu selisih yang jauh banget!”Di dalam air, Zavian menyapu basah dari wajahnya, memutar tubuh menatap papan pencatat waktu, lalu melirik Marco di sebelahnya. Napas Zavian masih tersengal dengan dada naik turun cepat, namun bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang penuh kemenangan.“Dua puluh empat detik, hm?” ejek Zavian pelan, nada suaranya terdengar puas. “Lumayan juga perkembanganmu. Tapi pengalaman tetap nggak bisa dibohongi.”Marco membuang napas berat dari hidungnya. Tubuhnya yang mengambang di air terasa berat, k
"A–apa?!" Zea membelalak. Tangannya yang menggenggam gagang carriage bag seketika mencengkram erat. "Kak?! Kenapa tiba-tiba ajak Marco duel?!" Kehebohan kecil langsung menyebar di tepi kolam. Rafi yang baru saja hendak memakai kacamata renang hampir menjatuhkannya, sementara Kenji mendadak berhenti setelah memasang penutup kepala. Bahkan Dimas, yang sedang melakukan peregangan lengan di sudut lain, langsung menoleh dengan dahi berkerut. "Coach?" cetus Rafi tak percaya. "Serius? Duel ... time trial sama Marco?" Zavian tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Marco. Pria itu menurunkan kedua tangannya dari dada, lalu melemparkan sebuah kacamata renang cadangan yang langsung ditangkap Marco dengan satu tangan tanpa henti. Marco mengangkat sebelah alisnya dan tidak menjawab, hanya menatap balik dengan tenang. Zavian mendekat satu langkah, menatap lurus ke mata Marco tanpa berkedip. "Saya mau lihat," lanjutnya, nada suaranya mengandung tantangan yang tidak bisa dianggap reme
"Papa!" Selena berlari histeris dan langsung menjatuhkan dirinya di kursi sebelah Steve. Tanpa peduli dengan keberadaan penyidik di depan mereka, Selena mengguncang lengan Steve dengan pergelangan tangannya yang terikat besi. “Pa, tolongin aku, Pa!” jerit Selena di sela tangisnya yang pecah. “Polisi nangkep aku! Mereka nyita semua koper berisi uang dan emas yang ada di mobil!” Napasnya tersengal, suaranya semakin tinggi. “Aku nggak mau dipenjara, Pa! Tolong panggil pengacara terbaik kita! Suruh Om Michael cabut laporannya! Aku nggak mau masuk penjara, Pa!” Steve menatap putrinya dengan tatapan kosong penuh keputusasaan. Sebuah senyuman pahit dan getir terukir di bibirnya yang robek. "Nggak ada pengacara yang bisa selamatkan kita lagi, Selena ..." bisik Steve, geleng-geleng kepala dengan tatapan hampa. "Semuanya ... sudah habis." Selena membeku, matanya membelalak menatap ayahnya tak percaya. "Maksud Papa apa?! Papa kan banyak uang! Papa punya koneksi!" "Semua rekening disita! Ru







