Share

206. Komitmen Moara.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-09-17 11:54:58
Zea menatap kakaknya dengan mata bulatnya yang jernih, mencoba menengahi. "Kak, mungkin aja Om Michael udah berubah pikiran? Bisa jadi dia menyesal setelah kejadian tadi di konferensi pers ..."

​"Nggak mungkin, Zea," potong Zavian cepat, menggeleng tegas. "Orang sekelas Michael Yozefa nggak akan mendadak berubah jadi malaikat cuma dalam hitungan jam."

​Perhatian seluruh ruangan otomatis tertuju pada Marco. Pria itu sendiri mengernyit tipis, menggeleng pelan.

​"Saya jujur tidak tahu soal penca
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   218. Duel Renang Marco VS Zavian.

    ​"A–apa?!" Zea membelalak. Tangannya yang menggenggam gagang carriage bag seketika mencengkram erat.Kehebohan kecil langsung menyebar di tepi kolam. Rafi yang baru saja hendak memakai kacamata renang hampir menjatuhkannya, sementara Kenji mendadak berhenti setelah memasang penutup kepala. Bahkan Dimas, yang sedang melakukan peregangan lengan di sudut lain, langsung menoleh dengan dahi berkerut.​"Coach?" cetus Rafi tak percaya. "Maksudnya duel renang? Serius?"​Zavian tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Marco. Pria itu menurunkan kedua tangannya dari dada, lalu melemparkan sebuah kacamata renang cadangan yang langsung ditangkap Marco dengan satu tangan tanpa henti.Marco mengangkat sebelah alisnya dan tidak menjawab, hanya menatap balik dengan tenang. ​Zavian mendekat satu langkah, menatap lurus ke mata Marco tanpa berkedip.​"Saya mau lihat," lanjutnya, nada suaranya mengandung tantangan yang tidak bisa dianggap re

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   217. Ayo, Kita Duel!

    "Papa!" Selena berlari histeris dan langsung menjatuhkan dirinya di kursi sebelah Steve. Tanpa peduli dengan keberadaan penyidik di depan mereka, Selena mengguncang lengan Steve dengan pergelangan tangannya yang terikat besi. “Pa, tolongin aku, Pa!” jerit Selena di sela tangisnya yang pecah. “Polisi nangkep aku! Mereka nyita semua koper berisi uang dan emas yang ada di mobil!” Napasnya tersengal, suaranya semakin tinggi. “Aku nggak mau dipenjara, Pa! Tolong panggil pengacara terbaik kita! Suruh Om Michael cabut laporannya! Aku nggak mau masuk penjara, Pa!” Steve menatap putrinya dengan tatapan kosong penuh keputusasaan. Sebuah senyuman pahit dan getir terukir di bibirnya yang robek. "Nggak ada pengacara yang bisa selamatkan kita lagi, Selena ..." bisik Steve, geleng-geleng kepala dengan tatapan hampa. "Semuanya ... sudah habis." Selena membeku, matanya membelalak menatap ayahnya tak percaya. "Maksud Papa apa?! Papa kan banyak uang! Papa punya koneksi!" "Semua rekening disita! Ru

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   216. Ayah dan Anak di Kantor Polisi.

    Panik luar biasa menyapu bersih sisa-sisa kewarasan Selena. Melihat kilatan lampu sirene merah-biru di depannya, tangannya yang gemetar refleks membanting setir ke kanan. Ban mobilnya berdecit keras mencengkram aspal, meninggalkan jejak hitam pekat saat ia memutar balik kendaraan secara mendadak.“Nggak! Aku nggak mau! Kalian nggak bisa tangkap aku!” jerit Selena histeris di dalam kabin mobil yang tertutup rapat.Ia menginjak pedal gas dalam-dalam, mencoba melesat kembali ke arah gerbang kompleks. Namun, belum sempat mobilnya mencapai kelajuan penuh, suara sirene meraung nyaring dari arah berlawanan. Dua mobil patroli polisi muncul memotong jalur, melaju kencang mengepungnya dari belakang dan samping.Siren saling bersahutan, memantulkan gema mencekam di sepanjang jalan kompleks yang sepi. Selena menggeram dan meracau ketakutan, matanya liar melirik kaca spion.“Pergi! Aku nggak salah apa-apa! Kenapa semuanya jahat sama aku?! Ini semua salah Zea! Salah perempuan murahan itu!” tangis

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   215. Selena Disergap Polisi.

    Melihat reaksi Marco yang begitu dingin dan tak tersentuh, Zea akhirnya menurut, sekaligus mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh. “Ya sudah ...” gumamnya pelan. “Aku sarapan, kamu juga ya, setelah pakaian.” Ia paham betul kapan harus menahan diri. Tidak semua hal harus ditanyakan saat itu juga, apalagi jika itu hanya akan menambah beban pikiran Marco. Tanpa bersuara lagi, Zea berjalan menuju meja makan. Di atas meja kayu jati itu, sarapan hangat sudah tertata rapi. Adrian telah menyiapkannya dengan sangat cekatan—piring, sendok, garpu, hingga segelas susu hangat untuk membantu memulihkan stamina Zea. ​Sementara itu, Marco berjalan kembali menuju kamar utama dan menutup pintunya rapat-rapat. Pria itu perlu mengganti pakaiannya dengan setelan atlet yang sebelumnya dibawakan oleh Adrian. ​Adrian berdiri tak jauh dari meja makan, menjaga jarak aman dengan sikap tubuh yang tetap siap siaga. Zea menarik kursi, lalu melirik pria berjas rapi di dekatnya itu sebelum menyendok sara

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   214. Runtuhnya Sang Penguasa.

    Aroma sabun mandi yang segar dan uap hangat masih menyelimuti tubuh mereka. Zea baru saja berjalan keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit rapi di tubuhnya. Di belakangnya, Marco mengekor rapat, memegang pinggang Zea dengan raut wajah yang tampak serba salah dan sarat akan cemas. "Marco, aku beneran nggak apa-apa," bisik Zea, memutar tubuhnya dan menatap mata pria itu. "Aku nggak ngerasa pegal atau sakit kok." Marco mengusap tengkuknya sendiri dengan helaan napas berat. Perasaan bersalah mengganjal di dadanya. "Aku ... semalam terlalu kasar di meja rias itu. Aku susah nahan diri." Pipi Zea seketika merona mengingat bagaimana liarnya Marco semalam. Namun, ia menyunggingkan senyum tulus dan mengusap lengan kokoh Marco. "Gapapa, Sayang. Cuma kerasa kayak ketusuk-tusuk dikit di bagian paha dalam, tapi sisanya aman. Beneran." Zea segera beranjak menuju lemari pakaian untuk mengambil baju. Namun, belum sempat jemarinya menyentuh gagang pintu lemari, Marco sudah lebih dulu mende

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   213. Di Ujung Keterpurukan.

    Tut ... tut ... tut … Suara nada telepon terputus terdengar nyaring di telinga Selena sebelum layar ponselnya mendadak kembali ke halaman utama. Zavian benar-benar mematikan panggilan itu secara sepihak. "Argh! Keparat!" jerit Selena histeris, melempar ponselnya ke atas sofa kulit di ruang tengah kediaman Yansen. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya memburu menahan amarah dan ketakutan yang kini bercampur aduk. Wajah cantiknya yang biasa dipoles sempurna kini tampak kusut dan sembab. Zavian sudah bukan lagi orang yang bisa dipengaruhi dengan mudah. Pria yang setahunya paling keras menentang kedekatan Zea dengan Marco maupun dengan para atlet lain di klub itu, kini justru berdiri di pihak adiknya dan membelanya tanpa ragu. ​Dan luka di harga dirinya makin berdarah saat ingatan tadi sore kembali menghantam kepalanya. ​Tadi sore, dengan sisa keberanian yang ia punya, Selena nekat mendatangi Mansion Yozefa. Ia berniat memohon pada Moara, berharap wanita tua yang dulu sangat menyayanginya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status