Pagi itu aku melangkah lebih cepat dari biasanya saat mengantar Denis dan Azka ke sekolah. Mataku tak sekalipun beralih dari gerbang sekolah. Menatap petugas keamanan yang berdiri tegak di sana. Mengamati setiap orang yang lalu-lalang di sekitarnya. Tak ada sosok Maya. Hanya wajah-wajah yang kukenal, anak-anak yang tertawa riang, dan pagi yang seharusnya terasa biasa saja. Namun sejak kejadian balon itu, tak ada lagi hal yang benar-benar terasa biasa bagiku. Di depan ruang kelas 2A, aku menahan lengan Bu Sari sejenak. "Bu, mohon maaf mengganggu. Tolong perhatikan Denis sebentar. Jika ia terlihat pendiam, murung, atau tiba-tiba bertanya hal-hal yang aneh... mohon segera menghubungi saya lewat pesan singkat. Nomor saya sudah Ibu simpan, bukan?" Bu Sari mengangguk lembut, tatapannya penuh pengertian. "Saya mengerti, Bu Ririn. Denis adalah anak yang baik. Kami akan menjaganya bersama-sama." Aku mengecup kening Denis dan Azka secara berga
Terakhir Diperbarui : 2026-08-11 Baca selengkapnya