Angin malam berembus semakin liar dan kencang. Helaian gaun tidur satinku berkibar kasar di atas pagar pembatas balkon lantai dua yang dingin. Sepasang mataku menatap lurus ke arah taman belakang yang gelap gulita tanpa ada kerlip bintang sedikit pun. Di seberang pagar, Devan Raditya berdiri mematung di ambang pintu kaca geser. Wajah tampan pahatannya yang biasanya angkuh, dominan, dan tidak tersentuh kini tampak pucat pasi sewarna linen kusam, menyiratkan cengkeraman ketakutan yang teramat pekat."Aletta, gue bilang turun dari sana!" bentak Devan dengan suara bariton yang meninggi, namun kali ini nada suaranya yang berat terdengar pecah dan bergetar hebat. "Gue mohon... jangan nekat. Jangan main-main sama besi pembatas itu!""Gue nggak main-main, Devan Raditya!" jeritku frustrasi, menumpahkan seluruh air mata kemarahan yang terus-menerus luruh membasahi pipiku yang dingin. Aku mencengkeram besi pagar dengan jemari tangan yang gemetar hebat menahan histeria. "Lo se
Dernière mise à jour : 2026-10-07 Read More