Devan mengendurkan pelukan kokohnya secara perlahan, namun sepasang mata elangnya yang tajam dan pekat tetap mengunci wajah pucatku. Pria red flag gila kendali itu berbalik tegap menatap Pak Hendra yang masih berdiri kaku di ambang pintu ruang makan, memegang map dokumen perak dengan logo hukum internasional."Bawa berkas itu ke ruang kerja gue sekarang, Hendra," perintah Devan, suara baritonnya yang berat terdengar sangat rendah dan dingin, memotong habis keheningan pagi."Baik, Tuan Devan. Pihak notaris hukum juga sudah menunggu di ruang rapat utama," jawab Pak Hendra taktis sembari membungkuk hormat penuh kepatuhan.Aku menghapus sisa air mata di pipiku dengan gerakan kasar menggunakan punggung tangan, menatap penuh selidik ke arah map perak tersebut. Rasa curiga yang sejak beberapa hari lalu kupendam mendadak kembali mencuat naik ke permukaan, memicu intuisi pelayanku yang tajam. "Berkas apa itu, Devan? Kenapa bawa-bawa nama almarhum Bapak gue?!"
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-10-09 อ่านเพิ่มเติม