LOGINMulut Celah Bulan Sabit pada malam kesepuluh terlihat seperti mulut binatang buas yang setengah terbuka. Sempit, gelap, dengan dinding batu di kiri dan kanan menjulang seperti rahang yang menunggu untuk menggigit. Cahaya obor dari barisan prajurit kekaisaran yang berkumpul di mulut lembah memantul di permukaan batu dengan kilatan yang tidak menetap, seakan cahaya itu sendiri takut menyentuh kedalaman celah ini.
Nenek Yue berdiri di tengah gerbang. Yue Chen di sisi k
Bai Muchen tidak kembali ke Bilik Timur malam itu. Ia duduk sendirian di atas menara pengawas barat, tempat ia terakhir kali menatap wajah muridnya yang telah lama hilang, membiarkan dingin malam menembus jubah putihnya tanpa berusaha menghangatkan diri. Di bawahnya, sekte mulai tenang kembali setelah kepanikan sesaat, obor-obor dipadamkan satu demi satu, tapi ketenangan itu tidak menjalar sampai ke dalam dirinya sendiri.Empat puluh dua tahun. Angka itu terus berputar di kepalanya seperti sebuah lonceng yang tidak pernah berhenti berdenting, mengingatkannya pada sesuatu yang selama ini ia pilih untuk tidak dikenang terlalu dalam, sebab mengenangnya berarti mengakui betapa besar kegagalannya sebagai seorang guru.Ia menutup mata, dan ingatan itu datang, bukan sebagai sesuatu yang ia panggil dengan sengaja, melainkan sesuatu yang telah lama menunggu celah untuk kembali muncul.---*Empat puluh dua tahun yang lalu, di sebuah lembah terpencil y
Ia sudah berdiri di sana sejak sebelum fajar, di antara bebatuan besar yang menjorok ke arah tebing barat, mengamati dinding granit Sekte Bulan Sabit yang perlahan berubah warna seiring cahaya pertama menyentuhnya. Jubahnya, hitam pekat tanpa hiasan apa pun, menyatu sempurna dengan bayangan batu di sekelilingnya, seolah ia bagian dari kegelapan itu sendiri, bukan sekadar bersembunyi di dalamnya.Delapan nyawa dalam enam malam. Ia tahu jumlah itu, ia yang mencatatnya sendiri dalam ingatannya, bukan sebagai kebanggaan, bukan pula sebagai penyesalan, melainkan sebagai bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada nyawa-nyawa kecil yang kebetulan berada di jalannya.Ia tidak datang untuk membunuh prajurit kekaisaran. Prajurit-prajurit itu hanyalah kebisingan yang harus disingkirkan agar suara yang lebih penting bisa terdengar, agar seseorang yang selama ini bersembunyi di balik wajah dua puluh tahun akhirnya mendengar, akhirnya menyadari, bahwa ada yang
Perwira muda itu berlutut di depan tenda komando dengan wajah pucat, tangannya gemetar memegang gulungan laporan yang sudah kusut karena terlalu sering dilipat dan dibuka kembali sepanjang perjalanan."Jenderal," katanya, suaranya nyaris tidak terdengar di antara desau angin malam yang menerpa perkemahan timur, "sudah tujuh orang. Malam ini menjadikannya delapan."Liu Tianming duduk di belakang meja kayu sederhana, tidak segera mengangkat kepala dari peta yang sedang ia amati. Sejak bab-bab awal pengepungan dulu, sejak masih menjadi kapten muda di Gerbang Timur empat puluh tahun silam, ia sudah terbiasa dengan laporan korban perang, angka-angka yang datang dan pergi seperti musim. Tapi ada sesuatu dalam nada suara perwira ini yang membuatnya akhirnya meletakkan kuas penunjuk peta dan menatap langsung ke arah pemuda yang masih berlutut gemetar itu."Delapan," ulangnya pelan, "dalam berapa malam?""Enam malam, Jenderal. Semuanya prajurit penja
Kabar tentang Chen Baihua menyebar lebih cepat daripada yang bisa dikendalikan siapa pun.Beiming Wuji mendengarnya bukan dari mulut Yue Lingxian, bukan pula dari Lan Feiyan, melainkan dari salah satu pemimpin fraksi kecil yang menguping pembicaraan murid-murid sekte di dekat sumur air. Ia menerima laporan itu sambil duduk di atas batu besar di tepi perkemahan utara, tongkat kayunya tertancap di tanah, matanya menatap kabut pagi yang masih menggantung tipis di antara pepohonan."Murid pertama," ulangnya pelan, suaranya datar tapi ada sesuatu yang mengeras di rahangnya. "Jadi pendiri sekte kecil ini hanyalah murid pertama."Ia bangkit perlahan, tongkatnya berdenting halus menyentuh batu di bawahnya. Seratus sepuluh tahun hidup mengajarkan Beiming Wuji satu hal yang tidak pernah gagal: klaim besar harus dibuktikan dengan cara yang tidak bisa dibantah, bukan dengan kata-kata yang bisa diucapkan siapa pun tanpa konsekuensi."Jika benar Bai Muche
Taman kecil di belakang Bilik Timur masih basah oleh embun ketika Bai Muchen mengajak Yue Chen duduk di bangku batu yang menghadap langsung ke arah bulan sabit yang menggantung tipis di langit. Malam itu, setelah gulungan sutra dibacakan di hadapan para tetua, seluruh sekte masih dipenuhi bisik-bisik yang belum reda, tapi di sudut ini, jauh dari telinga siapa pun, hanya ada suara serangga malam dan napas mereka berdua.Bai Muchen membawa serta gulungan itu, sudah digulung rapi kembali, diikat dengan tali merah tua yang sama seperti yang selalu dibawa Yue Lingxian bertahun-tahun. Ia meletakkannya di pangkuan, tapi tidak segera membukanya. Untuk beberapa saat ia hanya menatap ke arah bulan, seperti mencari kata-kata yang tepat di antara cahaya pucat yang menembus dedaunan."Kau sudah mendengar bagian yang dibacakan Tetua Zhang," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan daripada biasa. "Tapi ada bagian lain yang belum ia bacakan di depan semua orang. Bagian ya
Gulungan sutra itu terbuka di atas meja batu Aula Bulan, dan untuk pertama kalinya dalam empat puluh tahun lebih, tidak ada seorang pun di ruangan itu yang berani bernapas terlalu keras.Tetua Zhang berdiri paling dekat, seperti biasa, memaksakan diri berada di garis depan meski usianya sudah jauh melampaui kebanyakan yang hadir. Ia sudah menunggu momen ini sejak Yue Lingxian pertama kali menyeret gulungan itu ke dalam gerbang sekte bertahun-tahun lalu, sejak ia sendiri berdiri di depan Dewan Tetua menuntut agar benda itu diserahkan atau dibuang jauh-jauh dari sekte yang selama ini ia jaga. Ia sudah membayangkan berkali-kali apa isinya, peta harta karun, rahasia militer kekaisaran, mungkin bahkan sesuatu yang cukup untuk menjatuhkan sebuah kerajaan.Ia tidak pernah membayangkan tulisan tangan.Kain sutra yang sudah menguning oleh usia itu dipenuhi aksara yang rapi namun terburu-buru, seperti seseorang yang menulis sambil menoleh ke belakang setiap







