"Aku selalu mencintaimu, Mas. Sejak bertahun-tahun yang lalu... bahkan sebelum aku mengenal Dewa. Tapi aku tahu diri... aku ini siapa. Aku mencoba membunuh perasaanku dengan menerima lamaran Dewa, berharap aku bisa melupakanmu." "Dan ternyata kamu salah besar," geram Rekha tertahan. "Kamu hanya menyiksa kita berdua, Naya." "Ya, aku salah," Naya terisak lagi, memberanikan diri melingkarkan kedua tangannya di leher Rekha. "Tolong maafkan aku, Mas. Aku butuh kamu... sangat butuh kamu..." Kata-kata putus asa itu adalah kunci pembuka bendungan kesabaran Rekha yang terakhir. Pria itu menggeram rendah, memiringkan kepalanya, dan kembali meraup bibir Naya. Kali ini, tidak ada lagi keraguan. Ciuman itu terasa jauh lebih dalam, menuntut, posesif, dan sarat akan gairah yang lama terpendam. Rekha melumat bibir Naya dengan intensitas yang membuat wanita itu mengerang tertahan. Tangan besar Rekha menyusup ke tengkuk Naya, menahan kepala wanita itu agar ciuman mereka semakin dalam, sementara
آخر تحديث : 2026-08-06 اقرأ المزيد