เข้าสู่ระบบTangan besar Arga yang menyusup ke balik punggung Naya meremas pinggang sang adik tiri dengan keposesifan gila. Sentuhan yang tadi diminta sebagai 'pengobatan' kini berubah menjadi invasi yang membakar kewarasan. Arga terus memonopoli bibir Naya, menyesap setiap rintihan manis yang keluar dari tenggorokan wanita itu, mengubah niat suci Naya menjadi penyaluran gairah gelapnya. Naya menangis di sela ciuman memabukkan itu. Ia bingung, takut, sekaligus tak berdaya. Tubuhnya terlalu kecil untuk melawan tenaga Arga yang mendadak bangkit kembali. Hatinya menjerit, menyadari ada yang salah dengan kekuatan pria ini, namun manipulasi rasa bersalah yang ditanamkan Arga membuatnya tak berani memberontak keras. Ia takut Arga akan kembali 'sekarat' jika ia menolaknya. Setelah Naya benar-benar kehabisan napas dan tubuhnya melemas di pelukan Arga, barulah pria itu melepaskan pautannya. Arga menatap bibir Naya yang membengkak merah dengan napas yang kini memburu—bukan karena sakit, melainkan kar
"Akhh! N-Naya... dada Mas..." Suara rintihan tertahan itu diiringi bunyi debuk keras dari arah sudut kamar. Naya yang baru saja duduk menyandarkan punggungnya di kepala ranjang langsung melompat panik. Rantai di kakinya berbunyi nyaring saat ia berusaha menjangkau Arga yang kini sudah jatuh berlutut di lantai marmer, mencengkeram kemejanya sendiri tepat di bagian dada kiri. "Mas Arga! Kamu kenapa, Mas?!" pekik Naya histeris, mengulurkan tangannya sejauh mungkin karena rantai itu menahan langkahnya. "Sini, Mas! Naik ke kasur!" "S-sesak, Dek... ruangan ini... tiba-tiba kerasa kayak ruang bawah tanah tempat mereka ngurung Mas dulu..." napas Arga tersengal-sengal parah. Matanya membelalak liar menatap langit-langit, keringat dingin membanjiri pelipisnya. Pria itu merangkak dengan susah payah mendekati ranjang, tubuh besarnya bergetar hebat layaknya orang yang sedang terkena serangan jantung mematikan. "Astaga, Mas! Ini bukan ruang bawah tanah! Ini kamar! Lihat aku, Mas, tatap mata
Arga perlahan melempar pisau itu ke sudut ruangan. Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum manis seolah adegan bunuh diri barusan tidak pernah terjadi. Ia menghapus air mata Naya dengan ibu jarinya, mengecup kening wanita itu dalam-dalam. "Anak pintar. Masih jadi malaikat penurut Mas," bisik Arga. Ia menyalakan tombol rekam di kamera itu. "Ayo, Sayang. Mulai bicara. Dan pastikan kamu angkat tangan kirimu supaya Rekha bisa lihat cincin pernikahan kita yang cantik itu." Dengan bibir bergetar, napas tersengal, dan hati yang hancur berkeping-keping karena manipulasi gila kakak tirinya, Naya menatap lensa kamera itu. "R-Rekha... ini aku..." Naya menelan ludah, suaranya bergetar hebat. Ia melirik Arga sejenak, pria itu memberikan isyarat anggukan yang sangat mendominasi. "Jangan pernah cari aku lagi. Aku muak sama kamu. Kamu monster... dan aku milih pergi dari kamu. Aku sekarang sama Mas Arga... aku bahagia sama dia... aku yang minta dikurung sama dia..." Naya mengangkat tangan ki
"Sedikit, Mas. Tapi udah mendingan kok. Badan Naya juga udah enggak panas lagi," jawab Naya dengan senyum tipis yang dipaksakan. Arga meletakkan gelas kosong itu kembali ke meja. Ia merapikan anak rambut yang menutupi wajah Naya, lalu ibu jarinya dengan sengaja menekan pelan salah satu bekas gigitannya yang paling pekat di perpotongan leher Naya. "Baguslah kalau kamu ngerasa baikan, Dek," bisik Arga. Wajahnya mencondong perlahan, membisikkan kalimat tepat di depan bibir Naya dengan intonasi bariton yang berat dan membius. "Tapi kamu harus siap-siap. Kayaknya racun dari bajingan Rekha di tubuh kamu belum keluar sepenuhnya." Naya mengerutkan kening lugu. "Maksudnya, Mas?" Arga tersenyum miring—sebuah senyuman yang terlalu gelap untuk disebut sebagai senyum seorang kakak. Matanya berkilat liar menatap mangsanya yang sudah terikat mutlak dalam genggamannya. "Maksud Mas... nanti malam, penyakitmu pasti bakal kambuh lagi, Sayang," bisik Arga penuh penekanan mematikan, jemarinya me
"Kita terisolasi di gunung ini, Naya! Enggak ada dokter, enggak ada obat penurun panas!" potong Arga cepat, menjatuhkan dirinya berlutut di sisi ranjang sambil memegangi kepalanya yang seolah sangat pusing. "Mas panik setengah mati lihat kamu mau mati semalam! Mas cuma ingat cara almarhumah ibu dulu buang racun dan angin kotor di badan. Tapi tangan kanan Mas kaku, tulang Mas retak gara-gara dipukuli Rekha! Mas enggak bisa ngerokin punggung kamu pakai koin!" Arga mendongak, menatap Naya dengan air mata buaya yang akhirnya menetes jatuh ke pipinya. "Jadi Mas terpaksa pakai mulut Mas, Dek! Mas harus gigit dan isap titik-titik meridian di leher, dada, sama perut kamu kuat-kuat buat narik paksa angin kotor itu keluar dari aliran darahmu!" Arga menyentuh bibirnya sendiri yang memang sedikit lecet akibat terlalu beringas semalam. "Bibir Mas sampai kebas dan berdarah ngisap racun dari badan kamu semalaman penuh tanpa tidur sedetik pun! Dan ini balasan kamu?! Nuduh Mas jadi penjahat kela
Ia mengambil sabun, mengusapkannya ke seluruh tubuh Naya dengan gerakan melingkar. Tangannya bergerak lambat, menikmati setiap detil tubuh wanita itu. Dari pundak, ke dada, ke perut, ke paha. Setiap sentuhan adalah pernyataan ulang atas kepemilikan. "Waktu Mas di penjara, Mas sering mimpiin ini," ujar Arga dengan suara sayu. "Mandiin kamu. Ngerawat kamu. Kayak dulu waktu kamu kecil dan demam, Mas yang duduk di samping kasur kamu seharian. Ingat nggak, Naya? Waktu itu kamu bilang, 'Mas Arga, aku takut mati.' Tapi Mas bilang, 'Nggak bakal, Sayang. Mas jagain kamu.' Dan sekarang... Mas masih jagain kamu. Cuma caranya yang beda." Air sabun mengalir di tubuh Naya, membasuh keringat dan bekas-bekas tadi. Arga membilasnya dengan air hangat, lalu mengangkat Naya dari bak mandi, membungkusnya dengan handuk tebal. Ia membawa wanita itu kembali ke ranjang, meletakkannya dengan sangat hati-hati. Arga mengeringkan tubuh Naya dengan handuk, gerakannya kini lembut. Setelah selesai, ia membalut







