Share

Sangat Beresiko

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-08-20 21:32:48

"Tidak. Dia pasti sudah memasang sensor gerak di seluruh radius tebing. Satu langkah yang salah, Arga akan tahu."

"Lalu kita harus memancing Arga keluar dari kabin itu, Tuan. Kita harus membuatnya meninggalkan Nona Naya sendirian, walau hanya untuk lima menit."

"Arga tidak akan pernah meninggalkan Naya. Kuncinya ada pada Arga, dan Arga tidak akan melepas pandangannya dari mangsanya sedetik pun."

"Bagaimana jika kita membuat gangguan pada sistem generator *hydro-power* di bawah tebing? J
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Nay, Ini Aku!

    Naya hanya bisa mengangguk kaku, air matanya menetes jatuh. Dengan satu tatapan peringatan terakhir, Arga berbalik. Ia berjalan ke arah pintu baja kabin, membukanya, dan menguncinya rapat-rapat dari luar. Bunyi *klik* dari kunci ganda itu menggema, mengisolasi Naya sendirian dalam kegelapan yang membeku. Udara dingin dengan cepat merampas sisa kehangatan. Naya menarik selimut tebal menutupi tubuhnya, napasnya mulai menghasilkan kepulan uap putih. Ia menutup telinganya rapat-rapat, mencoba mengusir suara badai yang terdengar seperti lolongan hantu. Namun, di tengah deru angin itu, Naya mendadak mendengar sesuatu. *Sret... Sret...* Bukan suara dari arah pintu, melainkan dari atas kepalanya. Dari arah atap kaca kabin. Naya mendongak perlahan, jantungnya berpacu liar. Di balik kaca yang tertutup salju, sebuah siluet hitam berjongkok. Detik berikutnya, percikan api biru yang menyilaukan muncul—sebuah pemotong laser tingkat tinggi sedang melelehkan engsel *skylight* raksasa di

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Sangat Beresiko

    "Tidak. Dia pasti sudah memasang sensor gerak di seluruh radius tebing. Satu langkah yang salah, Arga akan tahu." "Lalu kita harus memancing Arga keluar dari kabin itu, Tuan. Kita harus membuatnya meninggalkan Nona Naya sendirian, walau hanya untuk lima menit." "Arga tidak akan pernah meninggalkan Naya. Kuncinya ada pada Arga, dan Arga tidak akan melepas pandangannya dari mangsanya sedetik pun." "Bagaimana jika kita membuat gangguan pada sistem generator *hydro-power* di bawah tebing? Jika listrik kabin mati, dan pemanas ruangannya mati di tengah badai, Arga terpaksa harus turun untuk memeriksanya secara manual agar mereka tidak mati membeku." Mata Rekha perlahan melebar. Roda gigi di kepalanya kembali berputar cepat, menganalisis peluang dari taktik mematikan tersebut. "Dia cacat, Bima. Setidaknya... itu yang Naya tahu. Jika generator mati, Arga harus berpura-pura menjadi pria lemah di depan Naya. Dia mungkin akan mencoba memperbaikinya." "Tepat, Tuan! Dan saat Arga tur

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Rekha Mencari Naya

    "Tuan Rekha, kami menemukannya." Suara Bima memecah keheningan markas sementara yang temaram itu. Rekha yang tengah duduk mematung di depan puluhan layar monitor, seketika menoleh. Matanya yang merah dan menyiratkan kelelahan ekstrem berkilat tajam. "Di mana? Katakan padaku sekarang, Bima! Jangan berbelit-belit!" "Di sektor utara pegunungan Puncak, Tuan. Sebuah area yang dulunya milik perusahaan tambang ayah Arga." Bima melangkah cepat dan meletakkan sebuah tablet di atas meja besi. "Kami berhasil melacak sisa frekuensi dari video yang dikirim Arga. Dia tidak berada di rumah tua itu. Dia membangun sebuah kabin kaca tersembunyi di puncak tebing tertinggi, tepat di atas area generator *hydro-power*." "Kabin kaca? Di tengah badai salju sialan ini?" "Benar, Tuan. Ini citra satelit termal yang berhasil kami retas satu jam yang lalu, sebelum kabut kembali menebal. Anda bisa melihat ada satu titik panas yang stabil di sana. Itu suhu ruangan dari kabin tersebut. Mereka ada di dalam

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Mas, Cukup!

    Udara pagi di kabin terisolasi itu terasa semakin pekat, terkunci rapat di balik dinding kaca yang basah oleh sisa hujan dan badai. Di atas ranjang yang kusut, Naya terjebak dalam ruang hampa antara sisa mimpi buruk dan realitas yang jauh lebih menakutkan. Tubuhnya yang remuk redam mendadak menegang ketika kesadarannya dipaksa kembali naik ke permukaan, bukan oleh ketukan waktu, melainkan oleh kehadiran mutlak dari sosok yang menguasai dunianya. Arga sama sekali tidak berniat memberikan ampun. Wajah tampannya yang tanpa cela menunduk lekat, menatap manik mata Naya yang masih sayu dan basah oleh sisa air mata. Tidak ada lagi sisa kelembutan dari kecupan-kecupan ringan sesaat sebelumnya; yang tersisa kini hanyalah topeng predator yang siap merobek habis sisa-sisa pertahanan terakhir sang adik tiri. "Waktunya bangun dari mimpi indahmu, Naya," bisik Arga tepat di depan bibir wanita itu, suaranya bariton, rendah, dan mutlak bagai titah seorang raja kegelapan. Sebelum Naya sempat menarik

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Arga Nggak Puas!

    Di luar kabin, badai salju dan kabut tebal kembali turun, membungkus bangunan mewah itu dalam isolasi total dari dunia luar. Tidak ada yang bisa datang menyelamatkan Naya. Tidak ada polisi, tidak pula Rekha yang sedang mengamuk di ujung kota. Di tempat ini, hukum alam diciptakan sepenuhnya oleh Arga. Waktu terus merangkak maju, namun Arga tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Pria berwajah malaikat dengan jiwa iblis itu terus mempermainkan tubuh Naya, menuntut setiap tetes air mata dan setiap desahan kepatuhan. Ia memutar, membalik, dan menuntut penyerahan mutlak berulang-ulang kali, memastikan bahwa tidak ada satu pun sel dalam tubuh Naya yang tidak mengingat siapa penguasa mutlaknya. Menjelang siang hari, ketika badai di luar semakin mengamuk dan ruangan di dalam kabin terasa semakin panas oleh peluh dan napas yang memburu, Naya akhirnya benar-benar kehilangan dunianya. Kesadarannya perlahan-lahan memudar, tenggelam ke dalam kegelapan total akibat kelelahan fisik dan mental

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Rasakan Akibatnya!

    "Diam dan rasakan akibatnya, Sayang!" geram Arga di telinganya, napasnya memburu panas. Arga mempermainkan tubuh Naya sesuka hatinya, memaksa wanita itu merasakan setiap inci kepemilikan mutlak tanpa memberikannya sedikit pun kesempatan untuk menarik napas atau melarikan diri ke dalam pikirannya sendiri. Setiap sentuhan tangan Arga di kulitnya terasa seperti cap panas yang menyiksa, menuntut kepatuhan absolut yang menguras sisa tenaga Naya hingga ke titik nadir. Rantai perak di pergelangan kaki Naya berderincing ribut, beradu dengan suara tempat tidur yang berderit keras menghantam lantai. Di bawah hantaman ritme yang tanpa kenal lelah dan penuh amarah itu, Naya merasa dunianya runtuh berkeping-keping. Ia tidak lagi bisa memikirkan Rekha, tidak lagi bisa merindukan siapa pun; kesadarannya direnggut paksa oleh rasa nikmat yang terselubung siksaan, membuatnya hanya bisa menangis pasrah, meratapi takdirnya yang terkurung dalam sangkar kegilaan sang iblis sampai fajar benar-benar me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status