แชร์

Tidak Mau Pulang!

ผู้เขียน: Dre LA
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-21 21:00:47

Ancaman Arga hanya seperti bentakan kosong, karena hanya dalam sekejap, pria itu dilumpuhkan.

"Kita pulang sekarang." Rekha yang kini menggendong Naya, memberikan perintah tegas, memandang dingin tubuh Arga yang ambruk tak sadarkan diri.

Deru baling-baling helikopter yang memekakkan telinga dan desing peluru di tebing Puncak malam itu telah berlalu, digantikan oleh keheningan mencekam di dalam sayap medis khusus di mansion berlapis baja milik Rekha. Pelarian itu dibayar mahal dengan baku tembak
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Jangan Hukum Aku

    Melihat Naya yang gemetar ketakutan, air mata Rekha akhirnya tumpah. Hatinya hancur lebur. "Sayang, hei, lihat aku..." Rekha segera berlutut di lantai, tepat di samping kursi Naya. Ia mengangkat kedua tangannya terbuka, menunjukkan bahwa ia tidak membawa ancaman. "Aku nggak akan menghukummu. Aku bersumpah demi nyawaku, aku tidak sedang mengujimu untuk marah. Aku mohon, jangan takut padaku. Jawab jujur, Sayang... apa kamu ingin menemuinya?" Naya terdiam. Dadanya naik-turun dengan cepat. Matanya yang berkaca-kaca menatap wajah Rekha dengan sangat awas, menelusuri setiap inci ekspresi pria itu, mencari tanda-tanda kebohongan atau amarah yang tersembunyi. Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian, bibir Naya bergetar. "Kalau... kalau kamu beneran nggak marah..." bisik Naya sangat pelan, nyaris seperti embusan angin. Suaranya pecah oleh isak tangis yang selama sebulan ini ia pendam rapat-rapat. "...aku mau, Rekha. Aku mau pergi ke tempat Mas Arga." Tubuh Rekha seakan

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Maafkan Aku.

    Rekha mematung. Jantungnya berdebar kencang oleh rasa bahagia yang membuncah. Ia melangkah mendekat, menyerahkan buket bunga itu. "Untukmu, Sayang. Kata Bima, kamu hari ini pergi melukis di taman. Kamu senang?" tanya Rekha, mengusap puncak kepala Naya dengan sayang. Naya menerima bunga itu tanpa penolakan. Ia mencium aromanya sejenak, lalu meletakkannya di vas terdekat. "Iya, aku senang. Lukisannya belum selesai, tapi udaranya sangat segar. Terima kasih bunganya, Rekha. Ayo makan, makanannya nanti dingin." Naya menarik kursi untuk Rekha, lalu duduk di hadapannya. Ia mengambilkan nasi dan lauk dengan cekatan, melayani Rekha selayaknya seorang istri yang sempurna. Namun, tepat di detik itulah, rasa dingin yang aneh tiba-tiba merayap di tengkuk Rekha. Rekha menatap Naya yang sedang makan dengan tenang. Memang, wanita di depannya ini tidak lagi menangis. Ia tidak meronta. Ia tersenyum dan melayani Rekha. Tapi... ada sesuatu yang sangat, sangat salah. Gerakan Naya terlalu mek

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Jangan Bentak Aku.

    Sendok di tangan Rekha bergetar hebat. Wajah sang raja bisnis memerah padam. Urat-urat di lehernya bermunculan, menahan amarah dan kecemburuan murni yang meledak di dalam kepalanya. "Kamu baru saja hampir mati karena demam berhari-hari, dan kalimat pertama yang keluar dari mulutmu adalah menanyakan keadaan bajingan yang sudah menyiksamu?!" desis Rekha tajam, tangannya mencengkeram erat pinggiran mangkuk keramik itu. "Dia enggak nyiksa aku, Rekha! Mas Arga butuh aku!" suara Naya tiba-tiba meninggi, bercampur dengan isakan tangis frustrasi. Naya meremas selimutnya, membela pria yang telah merusak akal sehatnya. "Dia cuma punya aku! Kalau aku pergi... kalau ototnya kram lagi... siapa yang sentuh dia? Siapa yang bisa bikin dia tenang?! Dia pasti kesepian di kabin itu!" *PRANG!* Rekha membanting mangkuk bubur itu ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Amarahnya tak bisa lagi dibendung. "Sadar, Naya! Buka matamu!" bentak Rekha menggelegar, mencengkeram kedua bahu Naya dengan kua

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Tidak Mau Pulang!

    Ancaman Arga hanya seperti bentakan kosong, karena hanya dalam sekejap, pria itu dilumpuhkan."Kita pulang sekarang." Rekha yang kini menggendong Naya, memberikan perintah tegas, memandang dingin tubuh Arga yang ambruk tak sadarkan diri.Deru baling-baling helikopter yang memekakkan telinga dan desing peluru di tebing Puncak malam itu telah berlalu, digantikan oleh keheningan mencekam di dalam sayap medis khusus di mansion berlapis baja milik Rekha. Pelarian itu dibayar mahal dengan baku tembak brutal antara tim bayaran Rekha dan Arga, namun Rekha berhasil membawa ratunya pulang. Ia pikir, membawa Naya keluar dari kabin neraka itu adalah akhir dari segalanya. Rekha salah besar. Kemenangan fisik itu justru terasa seperti kekalahan psikologis yang paling telak. Di atas ranjang berukuran king size yang empuk dan dikelilingi alat medis, Naya terbaring dengan tubuh menggigil hebat. Suhu tubuhnya membakar kulit, keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya. Dokter pribadi terbaik di J

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Nay, Ini Aku!

    Naya hanya bisa mengangguk kaku, air matanya menetes jatuh. Dengan satu tatapan peringatan terakhir, Arga berbalik. Ia berjalan ke arah pintu baja kabin, membukanya, dan menguncinya rapat-rapat dari luar. Bunyi *klik* dari kunci ganda itu menggema, mengisolasi Naya sendirian dalam kegelapan yang membeku. Udara dingin dengan cepat merampas sisa kehangatan. Naya menarik selimut tebal menutupi tubuhnya, napasnya mulai menghasilkan kepulan uap putih. Ia menutup telinganya rapat-rapat, mencoba mengusir suara badai yang terdengar seperti lolongan hantu. Namun, di tengah deru angin itu, Naya mendadak mendengar sesuatu. *Sret... Sret...* Bukan suara dari arah pintu, melainkan dari atas kepalanya. Dari arah atap kaca kabin. Naya mendongak perlahan, jantungnya berpacu liar. Di balik kaca yang tertutup salju, sebuah siluet hitam berjongkok. Detik berikutnya, percikan api biru yang menyilaukan muncul—sebuah pemotong laser tingkat tinggi sedang melelehkan engsel *skylight* raksasa di

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Sangat Beresiko

    "Tidak. Dia pasti sudah memasang sensor gerak di seluruh radius tebing. Satu langkah yang salah, Arga akan tahu." "Lalu kita harus memancing Arga keluar dari kabin itu, Tuan. Kita harus membuatnya meninggalkan Nona Naya sendirian, walau hanya untuk lima menit." "Arga tidak akan pernah meninggalkan Naya. Kuncinya ada pada Arga, dan Arga tidak akan melepas pandangannya dari mangsanya sedetik pun." "Bagaimana jika kita membuat gangguan pada sistem generator *hydro-power* di bawah tebing? Jika listrik kabin mati, dan pemanas ruangannya mati di tengah badai, Arga terpaksa harus turun untuk memeriksanya secara manual agar mereka tidak mati membeku." Mata Rekha perlahan melebar. Roda gigi di kepalanya kembali berputar cepat, menganalisis peluang dari taktik mematikan tersebut. "Dia cacat, Bima. Setidaknya... itu yang Naya tahu. Jika generator mati, Arga harus berpura-pura menjadi pria lemah di depan Naya. Dia mungkin akan mencoba memperbaikinya." "Tepat, Tuan! Dan saat Arga tur

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status