Saras tidak menjawab. Tatapan wanita paruh baya itu tetap tertuju ke luar jendela, sementara rahangnya mengeras.Permintaan Jarren terdengar sederhana. Namun bagi Saras, menerima Puspa berarti menyerahkan firma pada sebuah kegagalan.Sampai kemudian, Saras kembali menoleh ke arah Jarren.“Barusan kamu bicara seolah Puspa terpaksa menikah dengan kamu,” tukas Saras. “Ucapan kamu itu, bertolak belakang dengan pengakuan Puspa. Mama nggak tahu siapa yang lagi berbohong!”“Pengakuan Puspa?” ulang Jarren, menoleh sekilas sebelum kembali menatap jalanan di depannya.“Iya,” jawab Saras dengan nada mencibir. “Puspa bilang perasaannya padamu, nggak pantas hanya dilihat berdasarkan perbedaan status kalian.”Jarren mematung.Puspa punya perasaan padanya?“Cih! Memangnya ada wanita yang matanya nggak hijau melihat betapa suksesnya kamu sekarang?” desis Saras, kembali menatap jendela. “Kamu sendiri yang cerita sama Mama, sejak dulu Puspa nggak mungkin mau sama kamu.”“Tolong berhenti, Ma,” pinta Jarr
Last Updated : 2026-09-02 Read more