Cengkeraman dingin merayap cepat menyusuri tengkuk Jarren, membekukan seluruh pergerakan tubuhnya.Binar lega yang sempat terpancar di mata Jarren luntur total, berganti guncangan emosi yang membuat helaan napasnya terasa berat.“Aku nggak tahu kalau Mama balik hari ini, Mpus,” bisik Jarren dengan suara parau. “Aku juga sama sekali nggak ketemu Mama sewaktu masuk rumah tadi.”Puspa mengusap sisa bulir bening di pipinya menggunakan punggung tangan yang gemetar. Sorot matanya meredup, menyembunyikan rasa lelah yang kian menggerogoti jiwa.“Maafkan aku, Mpus. Harusnya aku simpan berkas kontrak itu di tempat yang jauh lebih aman,” sesal Jarren seraya meraih jemari Puspa, mendekapnya penuh rasa bersalah. “Biar besok aku yang bicara sama Mama. Kamu nggak perlu merasa tertekan atau memikirkan ini lagi.”Bibir Puspa mengulas senyum miring, seolah seluruh janji manis suaminya hanyalah angin lalu yang tak berbekas.“Kamu mau bicara apa sama Mama, Mas?” tanya Puspa pelan.“Menjelaskan semuanya,
Last Updated : 2026-10-10 Read more